#Catatan Pelajaran Pertama
MENEMUKAN HIKMAH KEHIDUPAN
(Diambil dari Kitab al-Kafi fi Syarh Diwan
al-Syafi'i rahimahullahu ta'ala).
BAB 1 (Perjalanan Hidup : Bersama Waktu, Jiwa dan Qadha Allah)
Terdiri dari 13
bait
1. Biarlah hari-hari itu berlalu, dan kerjakanlah yang engkau sukai. Berlapang dadalah engkau jika ketetapan Allah telah datang.
Bait di atas berkaitan dengan 2 hal: pertama maksud dari maa tasyaa’u adalah apapun yang disukai, sesuai dengan standar masing-masing orang. Yang menunjukkan bahwa hal ini termasuk wilayah yang bisa dipilih oleh manusia. Tentu bagi seorang mukmin standar baik dan buruk menurut Allah. Maka lakukanlah kebaikan menurut Allah. Namun, ini juga menjadi sindiran bagi orang-orang yang enggan melakukan kebaikan. Siapa saja yang melakukan keburukan silakan saja, namun perbuatan tersebut memiliki konsekuensi berupa siksa. Sebaliknya begitu pula dengan kebaikan, maka dia akan mendapat pahala. Allah telah memberikan 2 jalan, yaitu jalan keburukan dan ketakwaan.
Namun, jika qadha Allah telah datang, maka itulah yang menentukan. Karena termasuk perkara yang tidak dikuasai manusia. Beriman kepada Allah dan berhusnuzhan terhadap ketetapan Allah, berserah diri dengan ketentuan Allah, setelah berusaha dengan sekuat tenaga untuk meraih harapan atau keinginan. Seperti masalah rezeki (karena rezeki telah ditetapkan oleh Allah).
2. Janganlah engkau gelisah terhadap musibah-musibah yang terjadi malam hari. Sebab tiada satu pun musibah di dunia yang kekal abadi.
Bait tersebut mengajarkan kepada kita agar bersabar dan jangan bersedih. Karena musibah itu seperti malam yang akan berakhir dengan datangnya fajar. Sehingga, tidak khawatir dengan berbagai musibah yang terjadi. Sunnatullah yang ada di dunia tidak abadi. Ingatlah bersama kesulitan itu ada kemudahan.
3. Kuatkanlah dirimu, jadilah kamu sebagai sosok manusia yang kuat. Ketika menghadapi cobaan-cobaan hidup. Hendaklah menjadi budi pekertimu sifat rendah hati dan setia.
4. Meski aibmu bagaikan buih di lautan. Tetapi, rahasia pribadimu hendaklah selalu tersimpan.
5. Tutuplah aibmu dengan kemurahanan hati. Karena semua aib bisa ditutup dengan kemurahan hati.
Mintalah kepada Allah agar menutup aib kita. Bagaimana cara menutupi aib? Caranya dengan tidak menceritakan kepada orang lain & selalu bermurah hati kepada orang lain.
6. Jangan engkau menampakkan kelemahan kepada musuh, Sebab kuatnya musuh berbahaya bagimu.
Maka umat Islam itu harus menampakkan kekuatannya di hadapan musuh, sehingga tetap berwibawa. Agar musuh Islam tidak merendahkan umat Islam. Jangan menampakkan kehinaan (kelemahan) di hadapan musuh. Karena kelemahan yang ditampakkan akan menyebabkan kuatnya musuh. Dan itu adalah musibah dan bala.
7. Jangan engkau harapkan kemurahan orang yang bakhil, sebab orang yang sedang kehausan tidak akan mendapatkan air dari api.
Orang yang bakhil(pelit) dicela oleh Allah SWT. Sangat tidak bisa diharapkan pertolongannya sekalipun dari orang yang sangat terdesak sekalipun. Sebagaimana kita ingin air tetapi berharap dari api.
Redaksi yang lain mengatakan : Janganlah menunggu untuk mendapatkan kemurahan hati dari orang-orang bakhil. Seaakan-akan mengharapkan air dari api.
8. Rezekimu tidak akan berkurang ketika mengalami keterlambatan. Dan rezekimu tidak akan bertambah jika kamu sudah kepayahan (bekerja keras).
Allah mewajibkan berikhtiar, sedangkan kadar rezeki sudah Allah tentukan. Karena rezeki itu berasal dari Allah, telah ditakar dan tidak akan tertukar.
9. Tiada kesedihan yang kekal, tiada pula kegembiraan yang abadi. Demikian pula tiada kefakiran yang lama dan tiada pula kemakmuran yang lestari.
10. Apabila sikap hatimu selalu rela dengan apa yang ada, maka akan ada perbedaan bagimu antara dirimu sendiri dan para hartawan.
Sikap qana’ah (rela) akan membedakan kita dengan orang yang memiliki harta. Berapapun yang Allah berikan akan diterima dengan qanaah, itulah kebahagian. Bedanya para hartawan yang tidak qanaah akan menyesali, jika harta itu hilang. Sedang orang qanaah tidaklah demikian
11. Apabila ajal datang padamu, maka tak sejengkal bumi, tidak pula sebidang langit yang dapat melindungimu.
12. Bumi Allah amatlah luas, namun suatu saat apabila ajal sudah datang angkasapun menjadi sempit.
13. Biarlah hari-hari itu tidak setia setiap saat, Sebab obat apa pun
juga tak akan menangkal ajal.
Disampaikan oleh guru kami Ustadz
Yuana Ryan Tresna
Dari Mahad Khadimus Sunnah Bandung
Ahad, 26 Maret 2023

Tidak ada komentar:
Posting Komentar