Senin, 15 Juli 2024

Kinayah dan Jenis-Jenis Kinayah

Catatan Pelajaran ke-12

Kinayah

Catatan: kata kuncinya adalah kiasan penjulukan lain, menjuluki sesuatu dengan julukannya yang lain.

Kinayah mencakup laqab dan kunyah

 

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah  Saw bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (kadal gurun), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Para sahabat bertanya, “Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Kalimat شِبْرًا بِشِبْرٍ dan وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ termasuk jenis kinayah. لَتَتَّبِعُنَّ merupakan jawab sumpah, bahwasanya kalian sungguh benar-benar akan mengikuti . Lafal سَنَنَ bentuk jamak menggambarkan beragamnya jalan-jalan orang-orang sebelum kalian (Yahudi dan Nasrani). Kalimat شِبْرًا بِشِبْرٍ adalah kiasan/penjulukan lain dari gambaran kuatnya penyerupaan, yakni taklid butanya orang-orang di akhir zaman terhadap tradisi orang-orang kafir.

Dari Anas r.a.,, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda :

لاَتَسْتَضِيْئُوا بِنَارِ المُشْرِكِيْنَ

“Janganlah kalian mencari penerangan (sinar) dengan api orang-orang musyrik

(HR. Ahmad, An-Nasa’i, Al-Baihaqi)

Istilah الضَّوْءُ  (sinar) berbeda dengan النور (cahaya), karena Allah menggambarkan yang namanya matahari memiliki sinar. Sedangkan bulan memiliki cahaya. Karena berbicara tentang الضَّوْءُ  (sinar) lebih kuat daripada cahaya, karena sinar akan menimbulkan cahaya yang bisa jadi menjadi pantulan sinar itu sendiri. Cahaya itu bagian dari sinar, sinar menjadi sumber cahaya. Janganlah kalian mencari sinar ( لاَتَسْتَضِيْئُوا ) dari apinya kaum musyrikin. Karena api itu memancarkan cahaya, maka ia memiliki sinar. Karena api itu, meskipun berpaidah bisa menerangi sesuatu tetapi juga memiliki khasiat membakar.

            Lafal janganlah kalian mencari sinar dari apinya kaum musyrikin, seakan-akan nabi mengatakan janganlah bermain-main api (menimbulkan bahaya) dalam urusan kehidupan. Karena lazimnya kita akan mencari cahaya kehidupan dari beragam persoalan.  Lafal نَارِ المُشْرِكِيْنَ  merupakan kinayah.

Al-Qadhi Taqiyuddin an-Nabhani menuturkan : Api suatu kaum merupakan kinayah (kiasan penjulukan lain) dari institusi mereka dalam suatu peperangan sebagai suku (kabilah) independen atau sebagai suatu negara. Imam Baihaqi dalam Sunan al-Kubra berkata mengenai hadist ini : “Janganlah kalian meghambil petunjuk  (mengajak musyawarah) orang musyrik dalam hal apapun dalam urusan kalian”.

Rasulullah Saw bersabda:

 سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ، فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ، وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ، وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ» قَالُوا: أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ؟ قَالَ: لَا مَا صَلَّوْا

"Akan  datang para penguasa, lalu kalian akan mengetahui  kema’rufan dan keungkarannya, maka siapa saja yang membencinya akan bebas (dari dosa) dan siapa mengingkari, maka dia akan selamat. Tetapi, siapa saja yang rela dan mengikutinya  (dia akan celaka)." Para sahabat bertanya, "Tidakkah kita perangi mereka?" Beliau bersabda, "Tidak, selama mereka menunaikan salat." (HR. Muslim)

            Kalimat لَا مَا صَلَّوْا (selama mereka masih sholat) bukan bermakna hakiki, tetapi berupa majaz. Sebagian berpandangan ini merupakan kinayah. Yakni bermakna selama mereka berpegang pada hukum-hukum islam. Karena sholat merupakan kinayah dari hukum Allah. Kalimat sholat dalam Alqur’an dan Hadist adakalanya merupakan kiasan penjulukan lain dari pengakkan syariat. Makna ini sama seperti pada lafal مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ  pada hadist berikut.

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ « لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendo’akan kalian dan kalian pun mendo’akan mereka. Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Kemudian ada yang berkata, ”Wahai Rasulullah, tidakkah kita menentang mereka dengan pedang?”   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah amalannya  dan janganlah melepas ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim)

Lafal مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ (selama mereka masih menegakkan shalat. Hadist ini berbicara tentang ketaatan kepada Ulil Amri. Hadist ini kalau dimaknai secara hakiki selama mereka masih shalat dan tidak bisa dimaknai demikian.  Karena berbicara, selama masih sholat maknanya adalah menegakkan syarat. Karena penguasa fungsi mereka berkewajiban menegakkan syariat islam, menghukum orang2 yg meninggalkan sholat dan orang-orang yang melanggar syariat.


قَالُوْا يٰشُعَيْبُ اَصَلٰوتُكَ تَأْمُرُكَ اَنْ نَّتْرُكَ مَا يَعْبُدُ اٰبَاۤؤُنَآ اَوْ اَنْ نَّفْعَلَ فِيْٓ اَمْوَالِنَا مَا نَشٰۤؤُاۗ اِنَّكَ لَاَنْتَ الْحَلِيْمُ الرَّشِيْدُ ۝٨٧

Mereka berkata, “Wahai Syuʻaib, apakah salatmu (agamamu) yang menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah nenek moyang kami atau melarang kami mengelola harta menurut cara yang kami kehendaki? (Benarkah demikian, padahal) sesungguhnya engkau benar-benar orang yang sangat penyantun lagi cerdas?” (QS.Hud ayat 87)

            Imam Fakhruddin menjelaskan dalam makna shalat, dalam ayat ini ada dua pendapat, salah satu pendapat beliau yang dimaksud adalah agama dan keimanan, karena shalat merupakan hal yang paling nampak dari syiar agama inim sehingga menyebut sholat sebagai kinayah dari agama  ini

 

Macam-Macam Kinayah 

1. Kinayah ‘an Shifat (kiasan penjulukan lain untuk suatu sifat)

            Misalnya : اِحْمَرَّ وَجهُ (wajah memerah) merupakan kinayah dari sifat malu/pemarah, بَيْتُهُ مَفْتوْحٌ (rumahnya terbuka) : kinayah sifat mulia, نَظِيفُ اليَدِ (bersih tangannya) : kinayah sifat amanah, بَطْنُهُ كَبِيْرٌ بَطْنُهُ كَبِيْرٌ (perutnya buncit) : kinayah sifat tamak.


وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُوْلَةً اِلٰى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُوْمًا مَّحْسُوْرًا ۝٢٩

Janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan jangan (pula) engkau mengulurkannya secara berlebihan sebab nanti engkau menjadi tercela lagi menyesal. (QS. Al-Isra ayat 29)

Kalimat يَدَكَ مَغْلُوْلَةً adalah kinayah dari sifat kikir dan bakhil, Sebaliknya kalimat تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ adalah kinayah dari sifat boros dan berlebihan dalam menggunakan harta.

 

2. Kinayah ‘an Maushuf (Kiasan Penjulukan Lain untuk Objek yang Disifati)

            Contoh:  ضَرَبْتُهُ فِيْ مَوْطِنِ الأَسْرَارِ (Aku memukulnya pada tempat rahasia ). Kalimat مَوْطِنِ الأَسْرَارِ   (tempat rahasia ) adalah kinayah dari القلب (hati). Termasuk kalimat وَالذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ (Demi zat yang jiwanya berada di genggamanku) adalah kinayah dari ذَاتِ الله  yakni Allah SWT. Kinayah dari objek yang disifati yakni Allah SWT.  Contoh lain نَحْنُ أَبْنَاءُ الِّيْل (Kami adalah putra-putra sungai nil) adalah bentuk kinayah, kalimat أَبْنَاءُ الِّيْل kinayah dari negeri Mesir.

            Kalimat   أَبُواالأمبِيَاء adalah kinayah dari Nabi Adam. Kalimat   شَيْدُ الْمُرْسَلِيْنَ adalah kinayah dari Nabi Muhammad Saw.  Kalimat  خَاتَمُ النَّبِيِّين adalah kinayah dari Nabi Muhammad Saw.  Kalimat   شَيْخُ الْمُرْسَلِيْنَ adalah kinayah dari Nabi Nuh. Kalimat   سَيْفُ الله المَسْلُول(Pedang yang terhunus) adalah kinayah dari Khalid bin Walid. Kalimat  الصِّدِّيْقadalah kinayah dari Abu Bakar, Kalimat  الفَارُوْق adalah kinayah dari Umar . Kalimat  أَمِيْنُ هذه الأُمَّةِ adalah kinayah dari Abu Ubaidah bin Jarrah. Kalimat  كَلِيْمُ الله adalah kinayah dari Nabi Musa  . Kalimat   رُوْحُ الله adalah kinayah dari Nabi ‘Isa.

 

Disampakan oleh guru kami  Ustadz Irfan Abu Naveed, M.Pd.I (Jumat, 12 Juli 2024) dalam Program Bahasa Arab Ngaji Subuh




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan Pelajaran Kritik Matan Hadist

"Kritik Matan Menurut Ahli Hadis: Studi Teoretis dan Praktis" Penulis : Ibrahim bin Muhammad al-Sa'wi Pendahuluan            ...