Rabu, 17 Juli 2024

Macam-Macam Kinayah dan Faidahnya

 


Catatan Pelajaran ke-13

Macam-Macam Kinayah

 

1)      الكنية عن صفة : Kiasan penjulukan lain untuk suatu sifat

Contoh: اِحْمَرَّ وَجهُ (wajah memerah) merupakan kinayah dari sifat malu/pemarah

 

2)      الكنية عن مَوْصُوْف : Kiasan Penjulukan Lain untuk Objek yang Disifati

Contoh:  

kinayah dari Nabi Adam

أَبُوالأمبِيَاء

kinayah dari Nabi Muhammad Saw. 

  شَيْدُ الْمُرْسَلِيْنَ

kinayah dari Nabi Muhammad Saw

خَاتَمُ النَّبِيِّين

kinayah dari Nabi Nuh

شَيْخُ الْمُرْسَلِيْنَ

kinayah dari Khalid bin Walid.

سَيْفُ الله المَسْلُول

kinayah dari Abu Bakar

الصِّدِّيْق

kinayah dari Umar

الفَارُوْق

kinayah dari Abu Ubaidah bin Jarrah

أَمِيْنُ هذه الأُمَّةِ

kinayah dari Nabi Musa 

كَلِيْمُ الله

kinayah dari Nabi ‘Isa

   رُوْحُ الله

 

3)      الكنية عن نسبة للموسوف : Kiasan Penjulukan Lain yang Dinisbatkan pada Objek yang Disifat)

            Contoh:

Kemulian itu berjalan di belakang punggung Utsman merupakan kinayah dari penisbatan sifat mulia pada Utsman

سَارَالْكَرَمُ خَلْفَ عُثْمَانَ

Keadilan berada di atas tunggangan Umar : merupakan kinayah dari penisbatan sifat adil bagi Utsman

الْعَدْلُ فِي رِكَابِ عُمَرَ

Ilmu berjalan di belakang jejak Ibnu Abbas : merupakan kinayah dari penisbatan ilmu bagi Ibnu Abbas

مَشَى الْعِلْمُ خَلْفَ ابْنِ عَبَّاسٍ

Sifat malu itu berjalan mengiringi langkah demi langkah Maryam merupakan kinayah dari penisbatan sifat malu bagi Maryam

تَتَبَّعَ الْحَيَاءُ خُطُوَاتِ مَرْيَمَ

Kejujuran berada di dalam lisannya merupakan kinayah dari penisbatan kejujuran pada lisan seseorang

الصِّدْقُ فِي لِسَانِهِ

Adab itu berada di sekitar santri merupakan kinayah dari penisbatan beradab kepada santri

الْأَدَبُ حَوْلَ الطَّالِبِ


۞ اِنَّ اللّٰهَ يُمْسِكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ اَنْ تَزُوْلَا ەۚ وَلَىِٕنْ زَالَتَآ اِنْ اَمْسَكَهُمَا مِنْ اَحَدٍ مِّنْۢ بَعْدِهٖۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا ۝

Sesungguhnya Allah yang menahan langit dan bumi agar tidak lenyap. Jika keduanya akan lenyap, tidak ada seorang pun yang mampu menahannya selain-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS. Fathir ayat 41)

 

  Kalimat اِنَّ اللّٰهَ يُمْسِكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ اَنْ تَزُوْلَا (Sesungguhnya Allah yang menahan(menyokong) langit dan bumi agar tidak lenyap/sirna ) merupakan kinayah dari penisbatan sifat menahan (menyokong) agar langit dan bumi tidak binasa/ senantiasa tetap ada. Seperti aliran listrik yang mengekalkan adanya cahaya itu sendiri di dalam lampu listrik. Jika aliran listriknya terputus maka akan hilang cahayanya,  bagi Allah perumpaan yang tinggi

 

Catatan

§  Suatu contoh kalimat, bisa memuat dua jenis uslub bayan sekaligus

Terdapat tasybih mujamal dan kinayah sekaligus. Contoh الَّذِيْنَ يُدَافِعُوْنَ عَنْ أَوْطَانِهِمْ مِثْلُ الْأُزْرِ

Kalimat tersebut termasuk taybih mujmal, karena mengandung 3 unsur yaitu musyabbah: الَّذِيْنَ يُدَافِعُوْنَ عَنْ أَوْطَانِهِمْ مِثْلُ, adat taybih berupa isim: مِثْلُ dan musyabbah bihinya : الْأُزْرِ. Selain merupakan taybih mujmal,juga termasuk kinayah.

§  Setiap kinayah an nisbat bisa digolongkan pula sebagai isti’arah makniyyah (tapi tidak berlaku kebalikannya).

Contoh: سَارَالْكَرَمُ خَلْفَ عُثْمَانَ. Ungkapan ini merupakan kinayah dari penisbatan sifat dermawan kepada Utsman. Pada saat yang sama lafal الْكَرَمُ diserupakan dengan manusia yang bisa berjalan. Dimana lafal سَار menjadi suatu kelaziman yang ada pada manusia. Maka ini termasuk isti’arah makniyyah.

§  Perbedaan antara isti’arah dan kinayah, sesungguhnya isti’arah semata-mata hanya mencakup makna majazi saja, tidak berlaku makna hakikinya. Sedangkan kinayah berlaku makna hakiki dan majazi sekaligus.

Ketika engkau mensifati manusia bahwa dia seoarang pencuri/ suka mencuri, maka engkau mengatakan فُلَانٌ يَدُهُ طَوِيْلَةٌ (Fulan ini tanganya panjang). Bisa jadi orang yang dituntut dalam ucapan ini mungkin bahwa yang dimaksud فُلَانٌ يَدُهُ طَوِيْلَةٌ bukan makna kiasan dari sifat pencuri, melainkan panjang tangan secara nyata dari orang tersebut. Ketika seseorang mengatakan تَكَلَّمَ أَسَدٌ فِي الْفَصْلِ  , maka tidak mungkin kita mengatakan تَكَلَّمَ أَسَدٌ yang berbicara binatang singa itu sendiri, karena singa tidak mungkin berbicara. Ini termasuk istiarah, yang diungkapkan berupa kiasan yang dimaksud adalah laki-laki pemberani,

§  Kinayah merupakan ungkapan yang menggambarkan perasaan yang berbeda di antara satu wilayah dengan wilayah lain.

Sebagaimana orang Arab menggambarkan panjangnya malam dengan ungkapan لَيْلٌ بَطِيْئٌ الْكَوَاكِبِ (Malam yang lambat kemudian bintang-bintang itu bergerak ). Ungkapan لَيْلٌ بَطِيْئٌ الْكَوَاكِبِ ini merupakan kinayah dari panjangnya waktu malam (terasa lama). Kita juga mendapati panjangnya siang hari, dengan  ungkapan إنَّ أَقَارِبَ الساعةِ لا تَتَحَرَّكُ (Sesungguhnya jarak antar waktu ini seakan-akan tidak bergerak). Ini merupakan kinayah yang menunjukkan panjangnya waktu siang

 

Kinayah itu memiliki unsur keindahan , mendatangkan suatu makna ungkapan yang dipahami.

 

Uslub kinayah adalah uslub ungkapan bagi orang yang cerdas, dengan menggunakan berbagai ungkapan yang menunjukkan makna yang dimaksud, tetapi secara tidak langsung. Termasuk dalam seindah-indahnya seni di dalam sastra itu sendiri.

 

Faidah Kinayah

Kinayah digunakan untuk tujuan balaghiyah yang tujuannya banyak, diantara tujuan-tujuannya sebagai berikut.

1.    Memperkaya uslub pengungkapan kalimat, tidak mengungkapkan secara langsung dalam pengungkapan. Adakalanya kondisi seseorang menuntut ungkapan secara kinayah, misal dalam rangka keamanan

2.    Keberadaan ungkapan yang dikinayahkan dengan ungkapan kinayah itu sendiri. Misalnya firman Allah SWT : هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ آدَمَ , di dalamnya tidak mengandung unsur keagungan bahasa dan keagungan Allah SWT. Sedangkan firman Allah SWT

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

 

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisa ayat 1)

Lafal kalimat مِن نَّفْسٍ merupakan kinayah dari nabi Adam, termasuk الكنية عن مَوْصُوْف (kiasan penjulukan lain untuk objek yang disifati).Sesungguhnya keturunan manusia bisa tercukupi dengan adanya sumber satu jiwa. Allah ciptakan dengan keagungannya kemudian melahirkan generasi dengan generasi itu sendiri.

 

 

 

Disampakan oleh guru kami  Ustadz Irfan Abu Naveed, M.Pd.I (Selasa, 16 Juli 2024) dalam Program Bahasa Arab Ngaji Subuh


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan Pelajaran Kritik Matan Hadist

"Kritik Matan Menurut Ahli Hadis: Studi Teoretis dan Praktis" Penulis : Ibrahim bin Muhammad al-Sa'wi Pendahuluan            ...