Macam-Macam
Kinayah
1) الكنية عن صفة : Kiasan penjulukan lain untuk suatu
sifat
Contoh: اِحْمَرَّ
وَجهُ (wajah memerah) merupakan kinayah dari
sifat malu/pemarah
2)
الكنية عن مَوْصُوْف : Kiasan Penjulukan Lain
untuk Objek yang Disifati
Contoh:
|
kinayah dari Nabi Adam |
أَبُوالأمبِيَاء |
|
kinayah dari Nabi Muhammad Saw. |
شَيْدُ الْمُرْسَلِيْنَ |
|
kinayah dari Nabi Muhammad Saw |
خَاتَمُ النَّبِيِّين |
|
kinayah dari Nabi Nuh |
شَيْخُ الْمُرْسَلِيْنَ |
|
kinayah dari Khalid bin Walid. |
سَيْفُ الله المَسْلُول |
|
kinayah dari Abu Bakar |
الصِّدِّيْق |
|
kinayah dari Umar |
الفَارُوْق |
|
kinayah dari Abu Ubaidah bin Jarrah |
أَمِيْنُ
هذه الأُمَّةِ |
|
kinayah dari Nabi Musa |
كَلِيْمُ الله |
|
kinayah dari Nabi ‘Isa |
رُوْحُ الله |
3)
الكنية عن
نسبة للموسوف : Kiasan Penjulukan Lain yang Dinisbatkan pada Objek yang
Disifat)
Contoh:
|
Kemulian
itu berjalan di belakang punggung Utsman merupakan kinayah dari penisbatan
sifat mulia pada Utsman |
سَارَالْكَرَمُ خَلْفَ عُثْمَانَ |
|
Keadilan
berada di atas tunggangan Umar : merupakan kinayah dari penisbatan sifat adil
bagi Utsman |
الْعَدْلُ فِي رِكَابِ
عُمَرَ |
|
Ilmu
berjalan di belakang jejak Ibnu Abbas : merupakan kinayah dari penisbatan
ilmu bagi Ibnu Abbas |
مَشَى الْعِلْمُ خَلْفَ
ابْنِ عَبَّاسٍ |
|
Sifat malu
itu berjalan mengiringi langkah demi langkah Maryam merupakan kinayah dari
penisbatan sifat malu bagi Maryam |
تَتَبَّعَ الْحَيَاءُ
خُطُوَاتِ مَرْيَمَ |
|
Kejujuran
berada di dalam lisannya merupakan kinayah dari penisbatan kejujuran pada
lisan seseorang |
الصِّدْقُ فِي
لِسَانِهِ |
|
Adab itu
berada di sekitar santri merupakan kinayah dari penisbatan beradab kepada
santri |
الْأَدَبُ حَوْلَ
الطَّالِبِ |
۞ اِنَّ اللّٰهَ
يُمْسِكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ اَنْ تَزُوْلَا ەۚ وَلَىِٕنْ زَالَتَآ اِنْ
اَمْسَكَهُمَا مِنْ اَحَدٍ مِّنْۢ بَعْدِهٖۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا
غَفُوْرًا
Sesungguhnya Allah yang menahan langit dan bumi agar tidak
lenyap. Jika keduanya akan lenyap, tidak ada seorang pun yang mampu menahannya
selain-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS. Fathir
ayat 41)
Kalimat اِنَّ اللّٰهَ يُمْسِكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ
اَنْ تَزُوْلَا (Sesungguhnya
Allah yang menahan(menyokong) langit dan bumi agar tidak lenyap/sirna ) merupakan kinayah dari penisbatan
sifat menahan (menyokong) agar langit dan bumi tidak binasa/ senantiasa tetap
ada. Seperti aliran listrik yang mengekalkan adanya cahaya itu sendiri di dalam
lampu listrik. Jika aliran listriknya terputus maka akan hilang cahayanya, bagi Allah perumpaan yang tinggi
Catatan
§ Suatu contoh kalimat, bisa memuat dua jenis uslub bayan
sekaligus
Terdapat tasybih mujamal
dan kinayah sekaligus. Contoh الَّذِيْنَ يُدَافِعُوْنَ
عَنْ أَوْطَانِهِمْ مِثْلُ الْأُزْرِ
Kalimat tersebut termasuk
taybih mujmal, karena mengandung 3 unsur yaitu musyabbah: الَّذِيْنَ
يُدَافِعُوْنَ عَنْ أَوْطَانِهِمْ مِثْلُ, adat taybih
berupa isim: مِثْلُ dan musyabbah
bihinya : الْأُزْرِ. Selain
merupakan taybih mujmal,juga termasuk kinayah.
§
Setiap
kinayah an nisbat bisa digolongkan pula sebagai isti’arah makniyyah (tapi tidak
berlaku kebalikannya).
Contoh: سَارَالْكَرَمُ
خَلْفَ عُثْمَانَ. Ungkapan ini merupakan kinayah dari
penisbatan sifat dermawan kepada Utsman. Pada saat yang sama lafal الْكَرَمُ
diserupakan dengan manusia yang bisa berjalan. Dimana lafal سَار
menjadi suatu kelaziman yang ada pada manusia. Maka ini termasuk isti’arah
makniyyah.
§
Perbedaan
antara isti’arah dan kinayah, sesungguhnya isti’arah semata-mata
hanya mencakup makna majazi saja, tidak berlaku makna hakikinya. Sedangkan kinayah
berlaku makna hakiki dan majazi sekaligus.
Ketika engkau mensifati manusia
bahwa dia seoarang pencuri/ suka mencuri, maka engkau mengatakan فُلَانٌ
يَدُهُ طَوِيْلَةٌ (Fulan ini tanganya
panjang). Bisa jadi orang yang dituntut dalam ucapan ini mungkin bahwa yang
dimaksud فُلَانٌ يَدُهُ طَوِيْلَةٌ
bukan makna kiasan dari sifat pencuri, melainkan panjang tangan secara nyata
dari orang tersebut. Ketika seseorang mengatakan تَكَلَّمَ
أَسَدٌ فِي الْفَصْلِ ,
maka tidak mungkin kita mengatakan تَكَلَّمَ
أَسَدٌ yang berbicara binatang
singa itu sendiri, karena singa tidak mungkin berbicara. Ini termasuk istiarah,
yang diungkapkan berupa kiasan yang dimaksud adalah laki-laki pemberani,
§
Kinayah
merupakan ungkapan yang menggambarkan perasaan yang berbeda di antara satu
wilayah dengan wilayah lain.
Sebagaimana orang Arab
menggambarkan panjangnya malam dengan ungkapan لَيْلٌ
بَطِيْئٌ الْكَوَاكِبِ (Malam yang lambat kemudian
bintang-bintang itu bergerak ). Ungkapan لَيْلٌ
بَطِيْئٌ الْكَوَاكِبِ ini merupakan kinayah dari panjangnya
waktu malam (terasa lama). Kita juga mendapati panjangnya siang hari, dengan ungkapan إنَّ
أَقَارِبَ الساعةِ لا تَتَحَرَّكُ (Sesungguhnya jarak antar waktu ini
seakan-akan tidak bergerak). Ini merupakan kinayah yang menunjukkan panjangnya
waktu siang
Kinayah itu
memiliki unsur keindahan , mendatangkan suatu makna ungkapan yang dipahami.
Uslub kinayah adalah uslub
ungkapan bagi orang yang cerdas, dengan menggunakan berbagai ungkapan yang
menunjukkan makna yang dimaksud, tetapi secara tidak langsung. Termasuk dalam
seindah-indahnya seni di dalam sastra itu sendiri.
Faidah Kinayah
Kinayah digunakan
untuk tujuan balaghiyah yang tujuannya banyak, diantara tujuan-tujuannya
sebagai berikut.
1.
Memperkaya uslub
pengungkapan kalimat, tidak mengungkapkan secara langsung dalam pengungkapan. Adakalanya
kondisi seseorang menuntut ungkapan secara kinayah, misal dalam rangka keamanan
2.
Keberadaan ungkapan
yang dikinayahkan dengan ungkapan kinayah itu sendiri. Misalnya firman Allah
SWT : هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ آدَمَ , di dalamnya
tidak mengandung unsur keagungan bahasa dan keagungan Allah SWT. Sedangkan firman
Allah SWT
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟
رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى
تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Hai sekalian
manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang
diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya
Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan
bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling
meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya
Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisa
ayat 1)
Lafal kalimat مِن نَّفْسٍ merupakan kinayah dari nabi Adam, termasuk
الكنية عن مَوْصُوْف (kiasan penjulukan lain untuk objek yang
disifati).Sesungguhnya
keturunan manusia bisa tercukupi dengan adanya sumber satu jiwa. Allah ciptakan
dengan keagungannya kemudian melahirkan generasi dengan generasi itu sendiri.
Disampakan
oleh guru kami Ustadz Irfan Abu Naveed,
M.Pd.I (Selasa, 16 Juli 2024) dalam Program Bahasa Arab Ngaji Subuh

Tidak ada komentar:
Posting Komentar