Senin, 15 Juli 2024

Isti'arah dan Jenis-Jenis Isti'arah

 

Catatan Pelajaran ke-7

Al-Isti’arah ( الاستعارة )

Kunci Al- Isti’arah

·      Al-Isti’arah kiasan dengan kata yang dipinjam

·      Kata yang dipinjam dalam kiasan adalah al-musyabbah bihi atau al-musyabbah

·   Al-Isti’arah lebih kuat daripada tasybih baligh, karena tasybih baligh menyebutkan al-musyabbah atau al-musyabbah bihi. Sedangkan al-Isti’arah hanya menyebutkan al-musyabbah bihi atau al-musyabbah saja

·   Contoh tasybih baligh : رأيت الإمام جُنة للأمة الإسلامية , al-musyabbah: imam atau al-musyabbah bihi: junnah (perisai)

·    Contoh al-Isti’arah   : رأيت جُنة للأمة الإسلامية , al-musyabbah bihi saja, kita meminjam lafal al-junnah untuk kiasan dari al-imam itu sendiri


Dari Al-‘Irbadh bin Sariyah r.a. ia berkata Rasulullah Saw bersabda :

 

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّينَ, عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Hendaklah kalian berdiri di atas sunahku, dan sunah para khalifah al khalifah al-râsyidîn al-mahdiyyîn (para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan menunjuki kepada kebenaran) setelahku, gigitlah oleh kalian hal tersebut dengan geraham yang kuat,” (HR. Ibn Majah, at-Tirmidzi, Ahmad) 

Kalimat yang menunjukkan majaz isti’arah عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ (Gigitlah oleh kalian hal tersebut dengan geraham yang kuat). Maknanya adalah berpegang tegunglah kepada sunah tersebut sekuat mungkin.

al-Musyabbah             : عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

al-Musyabbah bihi      : ( محذوف : استمسكوا بها بالقوة)

syarat isti’arah harus ada علاقة مشابهة à hubungan keterkaitan kemiripan dengan makna yang dipinjam dengan makna yang disembunyikan.

 

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ

Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah … (QS. Ali Imran ayat 103)

al-Musyabbah             : حَبْل اللّٰهِ

al-Musyabbah bihi      : (دين الله محذوف :)

 

Isti’arah ( الاستعارة ) : mencari pinjaman

Contoh: اسْتِعَارَ الطالبُ كتابًا من الأُستاذِ(seorang siswa meminjam kitab dari ustadznya)

الطالب : مُسْتَعير (subjek yang meminjam)

الأُستاذ : مُسْتَعار منه (objek yang dipinjam)

الكتاب : مُسْتَعار (objek yang dipinjam)

 

Definisi Isti’arah

Isti’arah ( الاستعارة ) secara bahasa adalah mencari sesuatu untuk dimanfaatkan, dengan tempo waktu tertentu tanpa ada kompensasi (meminjam), dan orang yang meminjam harus mengembalikan barang yang dipinjam kepada pihak yang dipinjami ketika selesai tempo perizinan peminjaman itu sendiri.

Isti’arah menurut ilmu bayan adalah menggunakan suatu lafaz ditempatkan pada makna yang tidak sesuai dengan makna hakikinya, tidak sesuai dengan makna asal usulnya, serta difahami pemaknaan maknanya secara majazi. Contoh menggunakan lafaz singa, makna asalnya untuk istilah binatang buas tetapi digunakan untuk diserupakan untuk laki-laki yang pemberani. Istilah singa ini dipinjam (diluar makna hakiki), karena ada kemiripan singa dengan laki-laki pemberani.

Misalnya ada perkataan تَكَلَّمَ شَيخٌ شُجاعٌ فوق المنبر (Seorang syaikh pemberani sedang berbicara di atas mimbar), maka ungkapan ini tidak mengandung isti’arah. Akan tetapi jika diganti شَيخٌ شُجاعٌ dengan istilah lain yang serupa dengannya. Maka dipinjam lafaz أَسَدٌ untuk mewakili secara majazi, sehingga mengandung isti’arah, yakni تَكَلَّمَ أَسَدٌ فوق المنبر

Maka engkau meminjam lafaz أَسَدٌ dari ekosistem binatang, dan ia adalah suatu kata yang menggambarkan keberanian. Kemudian digunakan untuk bahasa ungkapan di lingkungan manusia, untuk mengambil faidah dari sifat keberanian singa karena ada kemiripan dengan laki-laki yang pemberani.

Maka isti’arah adalah bentuk tasybih yang dihilangkan satu dari 2 jenis (yaitu musyabbah – musyabbah bihi). Isti’arah lebih balaghah dari pada tasybih, karena ketika engkau mengatakan

 خَالدٌ كالأسد في الشجاعة  maka ini adalah tasybih mufashshol (semua rukun tasybih disebutkan).

ketika ingin lebih menguatkan aspek tasybihnya maka hilangkan adat tasybih atau wajh syabah, maka ini dinamakan taybih mujmal. Contoh:   خَالدٌ كالأسد – خَالدٌ أسدٌ في الشجاعة

ketika ingin membuat kalimat tasybih yang paling kuat, maka yang ada hanya musyabbah dan musyabbah bihi, ini dinamakan tasybih baligh. Contoh : خَالدٌ أسدٌ

Perhatikan contoh-contoh berikut!

1. خَالدٌ كالأسد في الشجاعة

2. خَالدٌ كالأسد

3. خَالدٌ أسدٌ

Kita mendapati bahwa خَالدٌ sebagai musyabbah, dan  أسدٌ sebagai musyabbah bihi. Keduanya merupakan rukun pokok dari tasybih. Tidak dihapus baik pada tasybih mufashshol, tasybih mujmal, maupun tasybih baligh.

            Ketika kita ingin yang lebih kuat dari tasybih baligh, kita gunakan cara lain yang disebut dengan ist’arah. Dengan menghapus salah satu 2 rukun utama tasybih (musyabbah atau musyabbah bihi) inilah ist’arah menurut ulama balaghah. Dimana isti’arah adalah ungkapan dari jenis seperti tasybih yang dihilangkan salah satu rukun utama.


Jenis-Jenis Isti’arah ( أنواع الإستعارة )

1.   Isti’arah Tashrihiyah ( التصرحية  الاستعارة)

2.   Isti’arah Makniyah ( المكنية  الاستعارة)

3.   Isti’arah at-Tamsiliyah ( التمثلية  الاستعارة)

 

v  Isti’arah Tashrihiyah ( التصرحية  الاستعارة)

Isti’arah Tashrihiyah ( التصرحية  الاستعارة) à Isti’arah yang jelas, bentuk isti’arah yang menyebutkan secara jelas musyabbah bihi dan lafaz musyabbahnya dihapus. Contoh: تَكَلَّمَ أَسَدٌ فوق المنبر  al-musyabbah: الشَيخ  atau al-musyabbah bihi:الأسَد. Contoh lain firman Allah SWT :  


الۤرٰۗ كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ەۙ بِاِذْنِ رَبِّهِمْ اِلٰى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِۙ ۝ 

Lām Rā. (Ini adalah) Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari berbagai kegelapan pada cahaya (terang-benderang) dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. (QS. Ibrahim ayat 1)

            Allah menyerupakan kekufuran dengan الظُّلُمٰتِ . Kegelapan secara hakiki menggambarkan ruangan yang gelap. kata kunci yang menjadi isti’arah adalah مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ. Allah meminjam istilah الظُّلُمٰتِ mewakili secara kiasan kebathilan/kekufuran. Tetapi kebathilan/kekufuran yang dimaksud tidak disebutkan dalam ayat, tetapi yang disebutkan adalah kata yang dipinjam. 

            Kebathilan dan kekufuran diserupakan dengan الظُّلُمٰتِ , sedangkan agama Islam diserupakan dengan النور. Lafaz الظُّلُمٰت berbentuk jamak, sedangkan النور berbentuk tunggal. Karena jalan kebathilan itu banyak dan beragam sedangkan, sedangkan kebenaran hanya ada 1 maka digambarkan dengan lafaz tunggal yang bermakna 1 cahaya (Islam).

 

Disampakan oleh guru kami  Ustadz Irfan Abu Naveed, M.Pd.I (Selasa, 25 Juni 2024) dalam Program Bahasa Arab Ngaji Subuh


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan Pelajaran Kritik Matan Hadist

"Kritik Matan Menurut Ahli Hadis: Studi Teoretis dan Praktis" Penulis : Ibrahim bin Muhammad al-Sa'wi Pendahuluan            ...