Al-Isti’arah ( الاستعارة
)
Kunci Al- Isti’arah
·
Al-Isti’arah
kiasan dengan kata yang dipinjam
·
Kata yang
dipinjam dalam kiasan adalah al-musyabbah bihi atau al-musyabbah
· Al-Isti’arah lebih kuat daripada tasybih baligh, karena tasybih baligh menyebutkan al-musyabbah atau al-musyabbah bihi. Sedangkan al-Isti’arah hanya menyebutkan al-musyabbah bihi atau al-musyabbah saja
· Contoh tasybih
baligh : رأيت الإمام جُنة للأمة الإسلامية
, al-musyabbah: imam atau al-musyabbah bihi: junnah
(perisai)
· Contoh al-Isti’arah : رأيت جُنة للأمة الإسلامية , al-musyabbah bihi saja, kita meminjam lafal al-junnah untuk kiasan dari al-imam itu sendiri
Dari Al-‘Irbadh bin Sariyah r.a. ia berkata Rasulullah
Saw bersabda :
فَعَلَيْكُمْ
بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّينَ, عَضُّوْا
عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Hendaklah kalian berdiri di atas sunahku, dan sunah para khalifah al khalifah al-râsyidîn al-mahdiyyîn (para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan menunjuki kepada kebenaran) setelahku, gigitlah oleh kalian hal tersebut dengan geraham yang kuat,” (HR. Ibn Majah, at-Tirmidzi, Ahmad)
Kalimat yang menunjukkan majaz isti’arah عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ (Gigitlah oleh kalian hal
tersebut dengan geraham yang kuat). Maknanya adalah berpegang tegunglah
kepada sunah tersebut sekuat mungkin.
al-Musyabbah : عَضُّوْا
عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
al-Musyabbah bihi : ( محذوف :
استمسكوا بها بالقوة)
syarat isti’arah harus ada علاقة مشابهة
à hubungan keterkaitan kemiripan
dengan makna yang dipinjam dengan makna yang disembunyikan.
… وَاعْتَصِمُوْا
بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ
Berpegangteguhlah kamu semuanya pada
tali (agama) Allah … (QS. Ali Imran ayat 103)
al-Musyabbah : حَبْل اللّٰهِ
al-Musyabbah bihi : (دين الله
محذوف :)
Isti’arah ( الاستعارة
) : mencari pinjaman
Contoh: اسْتِعَارَ
الطالبُ كتابًا من الأُستاذِ(seorang siswa meminjam kitab dari
ustadznya)
الطالب
: مُسْتَعير (subjek yang meminjam)
الأُستاذ
: مُسْتَعار منه (objek yang
dipinjam)
الكتاب
: مُسْتَعار (objek yang dipinjam)
Definisi Isti’arah
Isti’arah ( الاستعارة
) secara bahasa adalah mencari sesuatu untuk dimanfaatkan, dengan tempo waktu
tertentu tanpa ada kompensasi (meminjam), dan orang yang meminjam harus
mengembalikan barang yang dipinjam kepada pihak yang dipinjami ketika selesai
tempo perizinan peminjaman itu sendiri.
Isti’arah
menurut ilmu bayan adalah menggunakan suatu lafaz ditempatkan pada makna yang
tidak sesuai dengan makna hakikinya, tidak sesuai dengan makna asal usulnya,
serta difahami pemaknaan maknanya secara majazi. Contoh menggunakan lafaz
singa, makna asalnya untuk istilah binatang buas tetapi digunakan untuk
diserupakan untuk laki-laki yang pemberani. Istilah singa ini dipinjam (diluar
makna hakiki), karena ada kemiripan singa dengan laki-laki pemberani.
Misalnya ada
perkataan تَكَلَّمَ شَيخٌ شُجاعٌ فوق المنبر
(Seorang syaikh pemberani sedang berbicara di atas mimbar), maka ungkapan ini
tidak mengandung isti’arah. Akan tetapi jika diganti شَيخٌ شُجاعٌ
dengan istilah lain yang serupa dengannya. Maka dipinjam lafaz أَسَدٌ
untuk mewakili secara majazi, sehingga mengandung isti’arah, yakni تَكَلَّمَ
أَسَدٌ فوق المنبر
Maka engkau
meminjam lafaz أَسَدٌ dari ekosistem
binatang, dan ia adalah suatu kata yang menggambarkan keberanian. Kemudian
digunakan untuk bahasa ungkapan di lingkungan manusia, untuk mengambil faidah
dari sifat keberanian singa karena ada kemiripan dengan laki-laki yang
pemberani.
Maka
isti’arah adalah bentuk tasybih yang dihilangkan satu dari 2 jenis (yaitu
musyabbah – musyabbah bihi). Isti’arah lebih balaghah dari pada tasybih, karena
ketika engkau mengatakan
خَالدٌ كالأسد
في الشجاعة
maka ini adalah tasybih mufashshol (semua rukun tasybih disebutkan).
ketika ingin lebih menguatkan aspek
tasybihnya maka hilangkan adat tasybih atau wajh syabah, maka ini dinamakan
taybih mujmal. Contoh: خَالدٌ كالأسد – خَالدٌ
أسدٌ في الشجاعة
ketika ingin membuat kalimat tasybih
yang paling kuat, maka yang ada hanya musyabbah dan musyabbah bihi, ini
dinamakan tasybih baligh. Contoh : خَالدٌ أسدٌ
Perhatikan contoh-contoh berikut!
1. خَالدٌ كالأسد
في الشجاعة
2. خَالدٌ كالأسد
3. خَالدٌ أسدٌ
Kita mendapati bahwa خَالدٌ
sebagai musyabbah, dan أسدٌ
sebagai musyabbah bihi. Keduanya merupakan rukun pokok dari tasybih. Tidak
dihapus baik pada tasybih mufashshol, tasybih mujmal, maupun tasybih baligh.
Ketika
kita ingin yang lebih kuat dari tasybih baligh, kita gunakan cara lain yang
disebut dengan ist’arah. Dengan menghapus salah satu 2 rukun utama tasybih
(musyabbah atau musyabbah bihi) inilah ist’arah menurut ulama balaghah. Dimana
isti’arah adalah ungkapan dari jenis seperti tasybih yang dihilangkan salah
satu rukun utama.
Jenis-Jenis Isti’arah ( أنواع
الإستعارة )
1. Isti’arah Tashrihiyah (
التصرحية الاستعارة)
2. Isti’arah Makniyah (
المكنية الاستعارة)
3. Isti’arah at-Tamsiliyah (
التمثلية الاستعارة)
v Isti’arah Tashrihiyah (
التصرحية الاستعارة)
Isti’arah Tashrihiyah ( التصرحية الاستعارة) à Isti’arah
yang jelas, bentuk isti’arah yang menyebutkan secara jelas musyabbah bihi dan
lafaz musyabbahnya dihapus. Contoh: تَكَلَّمَ
أَسَدٌ فوق المنبر al-musyabbah:
الشَيخ atau
al-musyabbah bihi:الأسَد. Contoh lain firman
Allah SWT :
الۤرٰۗ كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ
اِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ەۙ بِاِذْنِ
رَبِّهِمْ اِلٰى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِۙ
Lām Rā. (Ini adalah) Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari berbagai kegelapan pada cahaya (terang-benderang) dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. (QS. Ibrahim ayat 1)
Allah menyerupakan kekufuran dengan الظُّلُمٰتِ .
Kegelapan secara hakiki menggambarkan ruangan yang gelap. kata kunci yang
menjadi isti’arah adalah مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى
النُّوْرِ. Allah meminjam istilah الظُّلُمٰتِ
mewakili secara kiasan kebathilan/kekufuran. Tetapi kebathilan/kekufuran yang
dimaksud tidak disebutkan dalam ayat, tetapi yang disebutkan adalah kata yang
dipinjam.
Kebathilan dan kekufuran diserupakan dengan الظُّلُمٰتِ , sedangkan agama Islam diserupakan dengan
النور. Lafaz الظُّلُمٰت
berbentuk jamak, sedangkan النور berbentuk tunggal.
Karena jalan kebathilan itu banyak dan beragam sedangkan, sedangkan kebenaran
hanya ada 1 maka digambarkan dengan lafaz tunggal yang bermakna 1 cahaya
(Islam).
Disampakan oleh guru kami Ustadz Irfan Abu Naveed, M.Pd.I (Selasa, 25
Juni 2024) dalam Program Bahasa Arab Ngaji Subuh

Tidak ada komentar:
Posting Komentar