Senin, 15 Juli 2024

Isti'arah Tashrihiyyah dan Isti'arah Makniyyah

 

Catatan Pelajaran ke-8

لكل حرف من حروف القرآن أسرار

“Setiap huruf dari huruf-huruf al-Qur’an mengandung rahasia makna-makna”

 

Jenis-Jenis Isti’arah ( أنواع الإستعارة )

 

v  Al-Isti’arah Al-Tashrihiyah ( التصرحية  الاستعارة)

Jenis kiasan peminjaman istilah, yang menyebutkan secara jelas musyabbah bihi.

Contoh-contoh  Al-Isti’arah Al-Tashrihiyah


الۤرٰۗ كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ەۙ بِاِذْنِ رَبِّهِمْ اِلٰى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِۙ ۝

 

Lām Rā. (Ini adalah) Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari berbagai kegelapan pada cahaya (terang-benderang) dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. (QS. Ibrahim ayat 1)


الظُّلُمٰتِ menggambarkan ruangan yang gelap, sesuatu yang bisa diindera. Lafal الظُّلُمٰتِ dan النور adalah dua kata yang dipinjam sebagai kiasan dari kebathilan- kebathilan dan Din al-Islam. Relevan dengan kata الظُّلُمٰتِ (jamak) menggambarkan ragam kebathilan sendiri

يُرِيْدُوْنَ لِيُطْفِـُٔوْا نُوْرَ اللّٰهِ بِاَفْوَاهِهِمْۗ وَاللّٰهُ مُتِمُّ نُوْرِهٖ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُوْنَ ۝

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut mereka, sedangkan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menyukai

 

Lafal  نُوْرَ (cahaya) dalam ayat ini adalah kiasan yang dipinjam secara jelas (isti’arah tashrihiyyah), sebagai kiasan dari agama Allah itu sendiri. Relavan dengan kalimat لِيُطْفِـُٔوْا (hendak memadamkan). Penautan pada نُوْرَ اللّٰهِ semakin memperkuat makna kemustahilan keberhasilan niat kaumKuffar, sesuai dengan diksi يُرِيْدُوْنَ (baru sekedar keinginan/kehendak)

            Frasa مُتِمُّ نُوْرِهٖ menjadikan Alah sebagai isim fa’il (kata benda subjek) dari perbuatan menyempurnakan Cahaya-Nya, yakni Agama Allah, tidak akan bisa dipadamkan.

نُوْرَ اللّٰهِ  adalah musyabbah bihi, yang diserupakan dengan agama Allah. Diksi ini relavan dengan kalimat لِيُطْفِـُٔوْا yakni hendak menghancurkan agama Islam. Lafal مُتِمُّ adalah bentuk isim fa’il وَاللّٰهُ مُتِمُّ (Allah zat penyempurna). وَاللّٰهُ مُتِمُّ نُوْرِهٖ menunjukkan kemustahilan orang-orang kafir menghilangkan ajaran islam. Kalimat وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُوْنَ  (walaupun orang-orang kafir benci), mengkonfirmasi kepada kita kalau Allah menghendaki menyempurnakan agamanya 

 

فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِهٖ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ مَعَهٗٓۙ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَࣖ ۝

... Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan bersamanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung. (QS. Al-A’raf ayat 157)

Perhatikan kalimat  وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ مَعَهٗٓۙ merupakan bentuk isti’arah tashrihiyah. Digambarkan di dalam kitab Shafatu at-Tafaasir, yakni mereka mengikuti Alqur’an yang terang benderang, menunjukkan pada jalan syariatnya yang mulia. 

  وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ

Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai

(QS. Al-Baqarah ayat 103)

Lafal  حَبْل (tali) pada frasa حَبْل اللّٰهِ adalah kiasan yang dipinjam unruk menggambarkan makna hakiki yakni Agama Allah itu sendiri. Lafal ini relevan dengan lafal وَاعْتَصِمُوْا (dan berpegang teguhlah), yang menggambarkan perintah berpegangan pada sesuatu dalam hal ini Agama Allah. Sebaliknya, kebinasaan bagi orang yang melepaskannya (terjatuh).


اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ۝٦ (QS.Al-Fatihah ayat  6)

Pada ayat ini  Allah menyerupakan agama( الدين)  dengan jalan (الطريق), yakni sesuatu yang ditempuh yakni jalan yang lurus  (الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ  ). Penggambaran Agama Islam dengan صرَاط الْمُسْتَقِيْمَۙ .

صرَاط الْمُسْتَقِيْمَۙ bentuk isti’arah tashrihiyah, karena Allah meminjam istilah صرَاط الْمُسْتَقِيْمَۙ  penyerupaan terhadap  دين الإسلام. Musyabbah nya adalah الدين dan musyabbah bihi nya adalah الصِّرَاطَ


وَكُلَّ اِنْسَانٍ اَلْزَمْنٰهُ طٰۤىِٕرَهٗ فِيْ عُنُقِهٖۗ وَنُخْرِجُ لَهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ كِتٰبًا يَّلْقٰىهُ مَنْشُوْرًا ۝١٣

Setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Pada hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab yang dia terima dalam keadaan terbuka. (QS. Al Isra ayat 13)

Lafal طٰۤىِٕرَهٗ فِيْ عُنُقِهٖۗ bentuk isti’arah tashrihiyah, Allah menyerupakan amal seorang manusia seperti seekor burung. Musyabbah nya adalah العمل dan musyabbah bihi nya adalah الطائر. Yang disebutkan pada ayat ini adalah musyabbah bihi nya ( الطائر,) sedangkan العمل tidak disebutkan dan dia sebagai musyabbah

Amalan manusia dikiaskan dengan istilah yang dipinjam secara jelas ( isti’arah tashrihiyah): burung yang terbang sekehendak hatinya terjadi atas izin Allah, dilakukan manusia tentu ada konsekuensinya

 

v  Al-Isti’arah Al-Makniyyah ( المكنية  الاستعارة)

Jenis isti’arah yang dihilangkan di dalamnya  musyabbah bihi  dan disebutkan dalam bentuk simbol yang menjadi kelaziman musyabbah bihi itu sendiri. Contoh:


وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ ۝

Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik aku pada waktu kecil. (QS. Al Isra ayat 24)

 

Pada lafal وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ  Allah menyerupakan perbuatan manusia seperti burung. Perbuatan manusia yang  merendah seperti seekor burung yang merendahkan sayap. جَنَاحَ (sayap) sesuatu yang lazim pada burung, yang menjadi simbol dari burung adalah sayap.

 Allah tidak menyebut الطائر (burung) tetapi menyebut جَنَاحَ (sayap). Yang menjadi musyabbahnya adalah rasa rendah hati, yang menjadi musyabbah bihi nya adalah burung yang merendahkan sayapnya ( جَنَاحَ الذُّلِّ ). Namun  musyabbah bihi nya (الطائر ) tidak disebutkan. Ini termasuk Isti’arah makniyyah, jenis kiasan yang dipinjam yang menghilangkan musyabbah bihinya, yang disebutkan kelaziman dari musyabbah bihi itu sendiri.

 

Misalnya hadist dari Ibnu Umar, beliau berkata Rasullah Saw bersabda:

 بُنِيَ الإسْلَامُ علَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أنْ لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وأنَّ مُحَمَّدًا رَسولُ اللَّهِ، وإقَامِ الصَّلَاةِ، وإيتَاءِ الزَّكَاةِ، والحَجِّ، وصَوْمِ رَمَضَانَ

Nabi saw menyerupakan Islam dengan  البيت(rumah/bangunan). Yang menjadi musyabbah adalah الإسلام (Islam) dan yang menjadi musyabbah bihi adalah البيت. Lafal musyabbah bihi tidak disebutkan, tetapi yang disebutkan adalah kelaziman dari البيت yaitu lafal بُنِيَ (dibangun)

Contoh ungkapan orang Arab : بَكَتِ السَّمَاءُ على الشهيدِ (Langit menangisi seorang yang syahid). Penutur menyerupakan langit dengan manusia yang menangis. Yang menjadi musyabbah adalah السَّمَاءُ dan yang menjadi musyabbah bihi adalah manusia ( الإنسان ). Pada ungkapan di atas musyabbah bihinya ( الإنسان ) tidak disebutkan, tetapi yang disebutkan adalah kelaziman dari pekerjaan manusia  yakni  بَكَت (menangis)  .


اِنَّمَا مَثَلُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَاۤءٍ اَنْزَلْنٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ فَاخْتَلَطَ بِهٖ نَبَاتُ الْاَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْاَنْعَامُۗ حَتّٰٓى اِذَآ اَخَذَتِ الْاَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ اَهْلُهَآ اَنَّهُمْ قٰدِرُوْنَ عَلَيْهَآ اَتٰىهَآ اَمْرُنَا لَيْلًا اَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنٰهَا حَصِيْدًا كَاَنْ لَّمْ تَغْنَ بِالْاَمْسِۗ كَذٰلِكَ نُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ۝

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia adalah ibarat air yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah karenanya macam-macam tanaman bumi yang (dapat) dimakan oleh manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, terhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang. Lalu, Kami jadikan (tanaman)-nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan secara terperinci ayat-ayat itu kepada kaum yang berpikir. (QS. Yunus ayat 24)

Kalimat  اِذَآ اَخَذَتِ الْاَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ  dst.. Ketika bumi mengambil perhiasannya  dan berhias … padahal bumi itu adalah tempat (benda mati), tidak ada benda mati yang berhias. Tetapi Allah menggambarkan muka bumi itu punya perhiasan dan berhias. Allah menyerupakan bumi dengan perempuan yang berhias. Yang menjadi musyabbah adalah  الْاَرْضِ dan yang menjadi musyabbah bihi adalah wanita ( المرأة ). Tetapi yang disebutkan adalah hal kelaziman dari perempuan itu sendiri yaitu ازَّيَّنَتْ. Lafal وَازَّيَّنَتْ dan زُخْرُفَهَا menggambarkan kelaziman dari perempuan

 

Disampakan oleh guru kami  Ustadz Irfan Abu Naveed, M.Pd.I (Jumat, 28 Juni 2024) dalam Program Bahasa Arab Ngaji Subuh


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan Pelajaran Kritik Matan Hadist

"Kritik Matan Menurut Ahli Hadis: Studi Teoretis dan Praktis" Penulis : Ibrahim bin Muhammad al-Sa'wi Pendahuluan            ...