Catatan Pelajaran ke-9
Contoh : Isti’arah Makniyyah
اَنْ تَقُوْلَ نَفْسٌ يّٰحَسْرَتٰى عَلٰى مَا فَرَّطْتُّ فِيْ جَنْۢبِ اللّٰهِ وَاِنْ كُنْتُ لَمِنَ السّٰخِرِيْنَۙ
Agar tidak ada orang yang mengatakan, “Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah dan sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah).” (QS. Az Zumar 56)
Allah menyerupakan rasa penyesalan (kerugian) seperti makhluk yang berakal, yang diseru/diajak bicara agar dia berbicara. Kalimat يّٰحَسْرَتٰى dengan adanya huruf nida, lazimnya digunakan untuk manusia. Maka adalah الحسرة objek yang diserupakan dengan العاقل, namun tidak disebutkan. Tetapi yang disebutkan adalah huruf nida (panggilan) yang menunjukkan yang kelazimannya ketika dipanggil.
٥١ وَاِنْ يَّكَادُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا
لَيُزْلِقُوْنَكَ بِاَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُوْلُوْنَ
اِنَّهٗ لَمَجْنُوْنٌۘ وَمَا هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَࣖ ٥٢
Dan sesungguhnya orang-orang yang kufur itu hampir-hampir menggelincirkanmu dengan pandangan matanya ketika mereka mendengar Al-Qur’an dan berkata, “Sesungguhnya dia (Nabi Muhammad) benar-benar orang gila.” (Al-Qur’an) itu tidak lain kecuali peringatan bagi seluruh alam. (QS. Al-Qalam ayat 51-52)
Allah memberitahukan apa
yang terkandung dalam jiwa kaum musyrikin, berupa kedengkian, kemurkaan, dan
perbuatan menyambunyikan keburukan. Pada kalimat لَيُزْلِقُوْنَكَ Allah menyerupakan
pandangan manusia dengan السهام (panah). Kalimat لَيُزْلِقُوْنَكَ berbicara tentang sesuatu yang menggelincirkan yang lazimnya
tidak terjadi pada pandangan mata. Ini menggambarkan kelaziman dari السهام (panah). Disini yang disebutkan اَبْصَار (musyabbah) diserupakan dengan السهام (panah).
مَنْ أَحْيَا سُنَّتي فقدْ أَحَبَّنِي, وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي في
الجَنَّة
“Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia telah mencintaiku, dan siapa saja yang mencintaiku, maka ia bersamaku menjadi penghuni jannah-Nya” (HR. Tirmidzi , Thabrani)
Yang menjadi musyabbah adalah سُنَّتي , sedangkan أَحْيا
adalah lafal yang menjadi kelaziman musyabbah bihinya (sesuatu yang hidup/ الإنسان). Hadist ini adalah hadist yang membahagiakan umat Islam, sunnah
bisa dihidupkan atau dimatikan. Sunnah bisa dimatikan dengan sebab munculnya
kesesatan dan penyimpangan.
Para ulama ketika menafsiran منْ أَحْيا سُنَّتي adalah siapa yang beriman kepada sunnah nabi saw, tafaqquh
terhadap sunah, mendakwahkannya, dan membela sunah dari ragam penyesatan.
منْ أَحْيا سُنَّتي merupakan jumlah syarat, sedangkan فقدْ أَحَبَّنِي menjadi jawab syarat. Syarat untuk membuktikan mahabbah kepada
nabi Saw adalah dengan menghidupkan sunah.
كَانَ مَعِي في الجَنَّة وَمَنْ أَحَبَّنِي -- siapa yang mencintai diriku maka sungguh ia pasti akan menjadi penghuni surga. Disini terdapat كَانَ yang merupakan fi’il madhi. Pertanyaan kapan peristiwa masuk surga ini terjadi? Apakah dimasa lampau atau mendatang? Jawabannya adalah pada masa yang akan datang. Yang disebutkan kata kerja lampau, yang dimaksudkan masa mendatang. Syeikh Atha Abu Ar-Rasythah mengatakan faidah balaghiyahnya menujukkan faidah kepastian. Seakan-akan sesuatu yang sudah terjadi. Seperti Bilal yang digambarkan secara kiasan oleh Rasulullah terompahnya ada di surga, sedangkan Bilalnya berada di hadapan Nabi Saw. Maka maknanya berarti menjadi penduduk syurga.
Imam Izzuddin al-Shan’ani
menjelaskan منْ أَحْيا سُنَّتي
yakni dengan mengamalkannya, menyiarkannya, dan menafikan (mengoreksi)
penyimpangan kaum yang menyimpang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ
الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى
مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
“Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR. Muslim, Ahmad)
Yang menjadi musyabbahnya
adalah دِينَهُ . Sedangkan musyabbah bihinya tidak ada (mahzhuf) dari kata يَبِيعُ . Dari lafal يَبِيعُ kita mendapati
yang menjadi musyabbah bihinya adalah بضاعة (barang dagangan). Tetapi
lafal بضاعة tidak disebutkan dalam hadist, yang disebutkan dengan lafal يَبِيعُ yang menjadi kelaziman
dari aktivitas jual-beli. Yang mengisyaratkan objek yang diperjualbelikan.
Pada
lafal يبيع دينه termasuk
isti’arah makniyyah, Nabi Saw meminjam istilah يَبِيعُ دِينَه untuk mewakili konsep orang yang mau kehilangan akhiratnya demi
urusan dunia. Kalimat يَبِيعُ
دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا merupakan peringatan sangat tidak layak seseorang melakukan
perbuatan ini.
v Isti’arah
at-Tamsiliyah (
التمثلية الاستعارة)
Bentuk lanjutan dari tasybih tamtsili, dimana objek yang
diserupakannya dihilangkan.
لاَيُلْدَغُ المُئْمِنُ مِنْ جُحْرٍوَاحِدٍ
مرَّتَيْنِ
“tidak layak seoranh mukmin dipatuk ular dari
lubang yang sama sebanyak dua kali”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadist ini diungkapkan oleh Rasulullah
menggunakan Isti’arah at-Tamsiliyah, kiasan yang dipinjam berupa tamtsil
(perumpamaan). Karena nabi memperingatkan dari pengulangan perbuatan yang
menyebabkan masalah. Dengan ungkapan لاَيُلْدَغُ المُئْمِنُ مِنْ جُحْرٍوَاحِدٍ
مرَّتَيْنِ (tidak layak seorang mukmin dipatuk ular dari
lubang yang sama sebanyak dua kali). Kalimat ini adalah tamstil (perumpamaan)
seorang mukmin yang melakukan kesalahan dan mengulang kesalahannya. Perbuatan
mengulang kesalahan diumpakan dengan dipatuk ular dua kali dilubang yang sama.
Disampakan oleh guru kami Ustadz Irfan Abu Naveed, M.Pd.I (Selasa, 2 Juli 2024) dalam Program Bahasa Arab Ngaji Subuh

Tidak ada komentar:
Posting Komentar