Kesimpulan
Al isti’arah adalah bahasa kiasan
dengan meminjam suatu kata/permisalan sebagai kiasan dari suatu kata/ungkapan
yang dimaksud sebenarnya
Al isti’arah (‘alaqah musyabbah: al
musyabbah dan musyabbah bihi wajib ada unsur kemiripan penyerupaan), dibagi 3
yaitu:
1. Isti’arah Tashrihiyyah ( menyebutkan secara jelas
musyabbah bihinya)
2. Isti’arah Tamtsiliyyah (musyabbah disebutkan, sedang musyabbah
bihinya tidak disebutkan secara jelas, tapi diisyaratkan secara tidak langsung
oleh hal yang menjadi kelaziman darinya)
3. Isti’arah Tamtsiliyyah (musyabbah bihinya berupa permisalan)
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata
bahwa Rasulullah Saw bersabda,
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا
بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا
يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى
قَالَ : فَمَنْ
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (kadal gurun), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Para sahabat bertanya, “Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad).
Lafal سَنَنَ bentuk jamak menggambarkan beragamnya jalan-jalan orang-orang sebelum kalian (Yahudi dan Nasrani atau ). Sementara pada lafal hadist فَعَليْكُمْ بِسنَّتي َسُنَّة الخُلَفَاء الرَاشِدِين menggunakan bentuk tunggal, menunjukkan satu kesatuan dan hanya ada satu jalan kebenaran yakni sunnahnya nabi Saw. Lafal حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ adalah tamtsil – perumpamaan taqlid butanya orang-orang, hingga mereka diqiyaskan oleh Rasulullah Saw , sampai-sampai bertaqlid pada perkara yang sukar sekalipun diikuti Hingga kalaulah mereka (Yahudi, Nashrani) memasuki kadal gurun sekalipun. Maka . lafal حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ termasuk bentuk isti’arah tamtsiliyyah
Rasulullah SAW bersabda,
لَتُنْقَضَنَّ عُرَى الإِسْلَامِ عُرْوَةً
عُرْوَةً، فَكُلَّمَا اِنْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِيْ تَلِيْهَا،
وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الحُكْمُ، وآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ
“Tali ikatan Islam akan putus satu persatu.
Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal
terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah sholat.” (HR. Ahmad)
Yang
menjadi musyabbah bihinya adalah عُرْوَةٌ (ikatan).
Sedangkan lafal فَكُلَّمَا اِنْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ
النَّاسُ بِالَّتِيْ تَلِيْهَا menjadi tamtsil bagi
jalan islam yang satu persatu hilang. Ketika ikatan itu hilang, maka tersisa
ikatan berikutnya. Ajaran islam yang hilang ini seperti hilangnya satu ikatan
tadi. Hancurnya sistem pemerintahan
Islam adalah awal mula yang menjadikan ikatan-ikatan islam berikutnya hilang.
Faidah Balaghiyah Isti’arah
1.
Personifikasi ( التشخيص ) à menggambarkan sesuatu seperti manusia.
Contoh : بَكَتِ السماءُ على الشهيدِ (Langit menangisi seseorang yang syahid di jalan Allah).
Menggambarkan langit seperti manusia yang menangis. Ini termasuk isti’arah
makniyyah
2. Penjisiman (التجسيم ) à penggambaran
sesuatu yang bersifat materi
Contoh
: لِلْحُرِّيةِ بَابٌ (Bagi kemerdekaan itu ada
pintunya). حُرِّيةِ
adalah sesuatu yang bersifat maknawi. Kemerdekaan diumpamakan seperti rumah
yang ada pintunya. (Isti’arah Makniyyah)
3. Memperjelas ( التوضيح )
Contoh: –عَبَرَ
أُسُوْدُنَا الْقناَةَ (Singa-singa kami melewati terusan) Isti’arah
Tashrihiyyah
Menyerupakan bala tentara
(pasukan) seperti singa-singa.
Disampakan oleh guru kami Ustadz Irfan Abu Naveed, M.Pd.I (Jumat, 5 Juli
2024) dalam Program Bahasa Arab Ngaji Subuh

Tidak ada komentar:
Posting Komentar