Senin, 15 Juli 2024

Kesimpulan Isti'arah dan Faidah Balaghiyah Isti'arah

Catatan Pelajaran ke-10

Kesimpulan

Al isti’arah adalah bahasa kiasan dengan meminjam suatu kata/permisalan sebagai kiasan dari suatu kata/ungkapan yang dimaksud sebenarnya

Al isti’arah (‘alaqah musyabbah: al musyabbah dan musyabbah bihi wajib ada unsur kemiripan penyerupaan), dibagi 3 yaitu:

1.    Isti’arah Tashrihiyyah ( menyebutkan secara jelas musyabbah bihinya)

2.  Isti’arah Tamtsiliyyah (musyabbah disebutkan, sedang musyabbah bihinya tidak disebutkan secara jelas, tapi diisyaratkan secara tidak langsung oleh hal yang menjadi kelaziman darinya)

3.   Isti’arah Tamtsiliyyah (musyabbah bihinya berupa permisalan)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah  Saw bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى

 قَالَ : فَمَنْ

Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (kadal gurun), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Para sahabat bertanya, “Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Lafal سَنَنَ bentuk jamak menggambarkan beragamnya jalan-jalan orang-orang sebelum kalian (Yahudi dan Nasrani atau ). Sementara pada lafal hadist فَعَليْكُمْ بِسنَّتي َسُنَّة الخُلَفَاء الرَاشِدِين   menggunakan bentuk tunggal, menunjukkan satu kesatuan dan hanya ada satu jalan kebenaran yakni sunnahnya nabi Saw. Lafal حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ adalah tamtsil – perumpamaan taqlid butanya orang-orang, hingga mereka diqiyaskan oleh Rasulullah Saw , sampai-sampai bertaqlid pada perkara yang sukar sekalipun diikuti Hingga kalaulah mereka (Yahudi, Nashrani) memasuki kadal gurun sekalipun. Maka . lafal حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ termasuk bentuk isti’arah tamtsiliyyah

Rasulullah SAW bersabda,

 

            لَتُنْقَضَنَّ عُرَى الإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً، فَكُلَّمَا اِنْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِيْ تَلِيْهَا، وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الحُكْمُ، وآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ

 “Tali ikatan Islam akan putus satu persatu. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah sholat.” (HR. Ahmad)

            Yang menjadi musyabbah bihinya adalah عُرْوَةٌ (ikatan). Sedangkan lafal فَكُلَّمَا اِنْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِيْ تَلِيْهَا  menjadi tamtsil bagi jalan islam yang satu persatu hilang. Ketika ikatan itu hilang, maka tersisa ikatan berikutnya. Ajaran islam yang hilang ini seperti hilangnya satu ikatan tadi.  Hancurnya sistem pemerintahan Islam adalah awal mula yang menjadikan ikatan-ikatan islam berikutnya hilang.

 

Faidah Balaghiyah Isti’arah

1.      Personifikasi ( التشخيص ) à  menggambarkan sesuatu seperti manusia.

Contoh : بَكَتِ السماءُ على الشهيدِ (Langit menangisi seseorang yang syahid di jalan Allah). Menggambarkan langit seperti manusia yang menangis. Ini termasuk isti’arah makniyyah

 

2.      Penjisiman (التجسيم ) à penggambaran sesuatu yang bersifat materi

Contoh : لِلْحُرِّيةِ بَابٌ (Bagi kemerdekaan itu ada pintunya). حُرِّيةِ adalah sesuatu yang bersifat maknawi. Kemerdekaan diumpamakan seperti rumah yang ada pintunya. (Isti’arah Makniyyah)

 

3.      Memperjelas ( التوضيح

Contoh: –عَبَرَ أُسُوْدُنَا الْقناَةَ (Singa-singa kami melewati terusan) Isti’arah Tashrihiyyah

Menyerupakan bala tentara (pasukan) seperti singa-singa.

 

Disampakan oleh guru kami  Ustadz Irfan Abu Naveed, M.Pd.I (Jumat, 5 Juli 2024) dalam Program Bahasa Arab Ngaji Subuh


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan Pelajaran Kritik Matan Hadist

"Kritik Matan Menurut Ahli Hadis: Studi Teoretis dan Praktis" Penulis : Ibrahim bin Muhammad al-Sa'wi Pendahuluan            ...