Senin, 15 Juli 2024

Tasybih Tamtsili (التشبيه التمثيلي ) dan Tasybih Dhimny ( التشبيه الضمني )

 

Catatan Pelajaran ke-6


4. Tasybih Tamtsili (التشبيه التمثيلي  )

Tasybih Tamtsili adalah penyerupaan berbentuk perumpamaan (al-tamtsil)


اِنَّمَا مَثَلُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَاۤءٍ اَنْزَلْنٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ فَاخْتَلَطَ بِهٖ نَبَاتُ الْاَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْاَنْعَامُۗ حَتّٰٓى اِذَآ اَخَذَتِ الْاَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ اَهْلُهَآ اَنَّهُمْ قٰدِرُوْنَ عَلَيْهَآ اَتٰىهَآ اَمْرُنَا لَيْلًا اَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنٰهَا حَصِيْدًا كَاَنْ لَّمْ تَغْنَ بِالْاَمْسِۗ كَذٰلِكَ نُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ۝

 

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia adalah ibarat air yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah karenanya macam-macam tanaman bumi yang (dapat) dimakan oleh manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, terhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang. Lalu, Kami jadikan (tanaman)-nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan secara terperinci ayat-ayat itu kepada kaum yang berpikir. (QS. Yunus ayat 24)

 

Al-Musyabbah             : الْحَيٰوةِ الدُّنْيا  (kehidupan dunia)

Al-Musyabbah Bihi     : tamtsil air yang turun (hujan), menumbuhkan tanam tanaman hingga manusia sirna dalam waktu singkat, manusia lalai

Adat tasybih                : huruf kaf

 

            Allah mengumpamakan keadaan kehidupan dunia pada aspek cepatnya hilang kenikmatan dunia, dan bagaimana sirna kenikmatannya setelah diterima, keadaan manusia yang terkelabui olehnya, kecendrungan manusia kepada dunia ini, seperti keadaan tanam-tanaman di muka bumi yang kemudian hilang berbagai macam keindahannya secara tiba-tiba. Pada akhirnya orang akan begitu kaget dengan hilangnya begitu saja.


مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوا التَّوْرٰىةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ اَسْفَارًاۗ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ ۝

Perumpamaan orang-orang yang dibebani tugas mengamalkan Taurat, kemudian tidak mengamalkannya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab (tebal tanpa mengerti kandungannya). Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (QS. Al Jumu’ah ayat 5)

Al-Musyabbah         : هُمُ الذين حملوا التوراة ولم يعقلوا ها

Al-Musyabbah Bihi : الذين يحمل الكتب النافعة, دون استفادتهِ منها  (الحمارُ)  

(Keledai yang membawa kitab-kitab yang bermanfaat, tetapi tidak mengambil faidah darinya)

Adat tasybih            : huruf kaf

Wajh Syabbah         : الهيئة الحاصلة من التعب في حمل النافع دون فائدةٍ  

(Upaya perbuatan yg melelahkan dalam membawa sesuatu yg bermanfaat, tetapi tidak memberikan faidah bagi kehidupannya).

            Ayat ini menyerupakan orang-orang Yahudi yang dimana Taurat diturunkan kepada mereka. Mereka mengetahui apa yang terkandung di dalam Taurat berupa syariat-syariat Nabi Musa as, memahami hukum-hukum di dalamnya, menghafalkannya, kemudian mereka tidak mengamalkannya. Allah mengumpamakan mereka seperti keledai yang membawa sesuatu yang berat di atas punggungnya. 

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ۝٢٦١

Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah ayat 261)

Al-Musyabbah             : الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ (Amalan orang yang berinfak di jalan Allah)

Al-Musyabbah Bihi     : مَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍۗ  (Perumpaan biji tumbuh)

Adat tasybih                : huruf kaf

Wajh Syabbah             : يشبه حبةُ القمحِ التي زرعت فأخرجت سبعَ سنابلَ في كل سنبلة مائة حبة

  (Allah mengumpamakan amalan orang yang berinfak di jalan Allah seperti perumpamaan biji yang tumbuh, artinya dilipatgandakan 700 kali lipat)

Ayat ini mengumpamakan harta yang diinfakkan di jalan Allah, maka Allah melipatgandakan ganjaran pahala kepadanya sampai 700x lipat. Allah mengumpamakan biji gandum yang dipanen maka keluar daripadanya 7 bulir, setiap bulir ada 100 biji benih.

 

4. Tasybih Dhimny ( التشبيه الضمني  )

Adalah tasybih penyerupaan yang dipahami musyabbah bihi nya dari kandungan kalimatnya. Karena berbicara kandungan kalimat maka dinamakan الضمني (sesuatu yang terkandung). Contoh:

  وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ 

… dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (QS. Al Hujurat : 12)

Tasbih Dhimny dalam ayat ini ketika berbicara tentang perbuatan orang mempergunjingkan lagi zholim, mempergunjingkan kehormatan orang yang dipergunjingkannya. Allah menggambarkannya dengan seburuk-buruk perbuatan. Bahkan yang dimakan bukan manusia tersebut tetapi mayitnya (sesuatu yg tidak lazim lagi)

            Lafal اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا adalah musyabbah bihi (berupa makna yang terkandung di dalamnya). Dimana perbuatan menggunjing ini diperumpamakan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Inilah yang dinamakan tasybih dhimny.

 

Faidah Balaghah dari Tasybih

Pada jenis tasybih terdapat pengaruh yang balaghi dan indah, karena tasbih akan mengeluarkan makna dengan cara personifikasi ( التشخيص ), penjisiman (التجسيم )  atau perjelasan ( التوضيح

 

1.      Personifikasi ( التشخيص ) à penutur menggambarkan sesuatu seperti manusia.

Contoh : هذا الكتابُ جليسٌ  (Kitab ini bagaikan teman duduk).

Dimana penutur menjadikan الكتابُ yang tidak berakal menjadi berakal

 

2.      Penjisiman (التجسيم ) à penggambaran sesuatu yang bersifat maknawi menjadi bisa terindera

Contoh : العلمُ كانور – الصبرُ مفتاح الفَرَجِ   atauنورٌ   العلم.

Fungsinya sebagai tajsim, karena ilmu itu sesuatu yang maknawi. Ilmu dijismkan terhadap sesuatu yang bisa diindera, yakni diumpakan cahaya, yang mana cahaya itu bisa diindera.

 

3.      Perjelasan ( التوضيح

Contoh:  الجملُ سفينةُ الصحراءِ - ( Unta ini bagaikan perahu di padang pasir)

   – الصديقُ جنَّةٌ خضْراءُ (Teman itu bagaikan kebun yang hijau )

Unta diserupakan dengan perahu, berarti bukan  personifikasi ( التشخيص ), karena tidak mengumpamakan unta seperti manusia, tetapi diserupakan dengan benda mati yakni perahu padang pasir.

 

Tingkatan-tingkatan Tasybih

 

#  Tingkat Tertinggi    : Tasybih Baligh (menghilangkan adat tasybih dan wajh syabah)

#  Tingkat Menengah : yang dihapus adat tasybihnya atau wajh syabahnya saja

#  Tingkat Terendah   : Tasybih Mufasshal (semua rukun tasybihnya disebutkan)

Tingkat tasybih disini menggambarkan tingkat kekuatan penyerupaan al-musyabbah dan musyabbah bihi.

  

Disampakan oleh guru kami  Ustadz Irfan Abu Naveed, M.Pd.I (Jumat, 21 Juni 2024) dalam Program Bahasa Arab Ngaji Subuh


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan Pelajaran Kritik Matan Hadist

"Kritik Matan Menurut Ahli Hadis: Studi Teoretis dan Praktis" Penulis : Ibrahim bin Muhammad al-Sa'wi Pendahuluan            ...