Minggu, 14 Juli 2024

Tasybih Baligh

Catatan Pelajaran ke-5

 

Bentuk-Bentuk Tasybih Baligh

§  Mubtada dan Khabar

Contoh: زَيْدٌ أَسَدٌ  (Zaid itu adalah Singa) -   الْجَمَلُ سَفينَةُ الصَّحْرَاءِ  (Unta adalah Perahunya Padang Pasir)

§  Hal dan Shohibul Hal

Contoh: هَجَمَ الْجُنْدِيُّ عَلى الْعَدُوْ أَسَدًا  (pasukan ini menyerang musuh seakan singa yang menerkam)

Musyabbah : الْجُنْدِيُّ  musyabbah bihi: أَسَدًا . Lafal أَسَدًا menggambarkan keadaan (hal) dari الْجُنْدِيُّ (shohibul hal)

§  Maf’ul Mutlak

Contoh: أسْرَعَ الْحِصَانُ إِسْرَاعَ الطَّائِرَةِ  (kuda ini berlari cepat, secepat pesawat). Yang menjadi maf’ul mutlaknya adalah إِسْرَاعَ . kecepatan kuda diserupakan dengan kecepatan pesawat.

§  Idhofah musyabbah bihi

Contoh: ظَهَرَمِصْبَاحُ الْحَضَارَةِ فِي مِصْرَ (lentera peradaban telah nampak di negeri Mesir). Musyabbah : الْحَضَارَةِ dan musyabbah bihi : مِصْبَاحُ. Peradaban diserupakan dengan lentera, tetapi lafal مِصْبَاحُ diidofahkan kepada الْحَضَارَةِ

Contoh-contoh tasybih baligh di dalam Alqur’an

مُهْطِعِيْنَ مُقْنِعِيْ رُءُوْسِهِمْ لَا يَرْتَدُّ اِلَيْهِمْ طَرْفُهُمْۚ وَاَفْـِٕدَتُهُمْ هَوَاۤءٌۗ ۝٤٣

 (Pada hari itu) mereka datang tergesa-gesa (memenuhi panggilan) dengan mengangkat kepalanya, sedangkan mata mereka tidak berkedip dan hati mereka kosong. (QS Ibrahim ayat 43)

Kalimat اَفْـِٕدَتُهُمْ هَوَاۤءٌۗ  makna lain dari qulub. Qalbu-qalbu mereka ini sesuatu yang kosong. Kalimat

اَفْـِٕدَتُهُمْ هَوَاۤءٌۗ merupakan tasybih baligh, bentuk penyerupaan yang sangat kuat. Karena hati manusia diserupakan dengan sesuatu yang kosong (hampa).

Catatan tambahan : kalimat اَفْـِٕدَتُهُمْ هَوَاۤءٌۗ di dalam sejumlah kitab, termasuk kitab Shafatu Tafaasir, dijelaskan bahwa qalbu-qalbu manusia ketika itu kosong dari pemikiran karena saking kagetnya. Bisa dibayangkan orang-orang kafir/ zalim itu pada hari ketika dibangkitkan (padang mahsyar) mendapati menuju hari penghisaban. Kata Qulub dalam bahasa Arab semakna dengan al ‘ukul (akal). Maka Allah mengatakan mereka memiliki qulub yang tidak digunakan untuk memahami (berfikir). Qulub ini menggambarkan sikap akal yang bolak-balik

 

قُلْ لَّآ اَجِدُ فِيْ مَآ اُوْحِيَ اِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلٰى طَاعِمٍ يَّطْعَمُهٗٓ اِلَّآ اَنْ يَّكُوْنَ مَيْتَةً اَوْ دَمًا مَّسْفُوْحًا اَوْ لَحْمَ خِنْزِيْرٍ فَاِنَّهٗ رِجْسٌ اَوْ فِسْقًا اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلَا عَادٍ فَاِنَّ رَبَّكَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝١٤٥

“Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali (daging) hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi karena ia najis, atau yang disembelih secara fasik, (yaitu) dengan menyebut (nama) selain Allah. Akan tetapi, siapa pun yang terpaksa bukan karena menginginkannya dan tidak melebihi (batas darurat), maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am ayat 145)

Kalimat فَاِنَّهٗ رِجْسٌ merupakan tasybih baligh.


وَقَدِمْنَآ اِلٰى مَا عَمِلُوْا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنٰهُ هَبَاۤءً مَّنْثُوْرًا ۝٢٣

Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (QS. Al-Furqan ayat 23)

    Kalimat فَجَعَلْنٰهُ هَبَاۤءً مَّنْثُوْرًا  merupakan tasybih baligh karena menyerupakan perbuatan manusia bagaikan debu-debu yang beterbangan (tidak ada nilainya), amal-amal perbuatan orang kafir itu tidak ada faidahnya bagi kehidupan akhirat mereka, termasuk perbuatan baik mereka.

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ اَلَّا يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ

Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan), karena mereka (penduduk Mekah) tidak beriman. (QS. Asy-Syu’ara ayat 3)

Kalimat لَعَلَّكَ بَاخِعٌ merupakan tasybih baligh. Dimana Allah menyerupakan Rasulullah Saw seperti seseorang yang kemudian membinasakan diri sendiri. Tafsir dari لَعَلَّكَ بَاخِعٌ adalah bisa jadi engkau (Muhammad) membinasakan diri sendiri atau membunuh diri sendiri, karena mereka tidak beriman. Ini menggambarkan kesedihan Nabi Saw dan menjadi kebinasaan  bagi orang kafir yang tidak mau beriman. Kata بَاخِعٌ bermakna qatilunnafsih (orang yang membunuh dirinya sendiri). Imam Bukhari menafsirkan dengan makna seseorang yang membinasakan dirinya. Kata بَاخِعٌ dalam bentuk isim fa’il dinisbatkan kepada Nabi Saw bukan bermakna hakiki. Karena Nabi Saw tidak mungkin mencelakan diri sendiri maka kalimat لَعَلَّكَ بَاخِعٌ bentuk penyerupaan .

            لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ  merupakan gambaran penyerupaan sifat kesedihan Nabi Saw, akibat mereka orang- orang kafir Quraisy tidak mau beriman. Menggambarkan mahabbah (kecintaan) Nabi Saw kepada umatnya dan harapan kebaikan kepada umatnya


ثُمَّ اسْتَوٰىٓ اِلَى السَّمَاۤءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْاَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا اَوْ كَرْهًاۗ قَالَتَآ اَتَيْنَا طَاۤىِٕعِيْنَ ۝١١

Dia kemudian menuju ke (penciptaan) langit dan (langit) itu masih berupa asap. Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Tunduklah kepada-Ku dengan patuh atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami tunduk dengan patuh.” (QS. Fushilat ayat 11)

Kalimat وَهِيَ دُخَانٌ merupakan tasybih baligh. Langit diserupakan seperti sesuatu yang berupa asap.


اَللّٰهُ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ قَرَارًا وَّالسَّمَاۤءَ بِنَاۤءً وَّصَوَّرَكُمْ فَاَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِۗ ذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْۚ فَتَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ۝

 Allahlah yang menjadikan bumi untukmu sebagai tempat menetap dan langit sebagai atap. (Dia pula yang) membentukmu, lalu memperindah bentukmu, serta memberimu rezeki dari yang baik-baik. Demikianlah Allah Tuhanmu. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam. (Q.S Ghafir ayat 64)

Kalimat وَّالسَّمَاۤءَ بِنَاۤءً  merupakan tasybih baligh, langit diserupakan dengan atap. Yakni diserupakan dengan bangunan yang ada atapnya dan menjadikan langit ini seperti kubah yang dibangun di atas kepala manusia. Dan manusia bisa menyaksikan langit ini dengan kedua mata, di atas kepala-kepala manusia tanpa disengaja dan Allah meninggikan langit ini tanpa tiang.

 

Disampakan oleh guru kami  Ustadz Irfan Abu Naveed, M.Pd.I (Selasa, 18 Juni 2024) dalam Program Bahasa Arab Ngaji Subuh

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan Pelajaran Kritik Matan Hadist

"Kritik Matan Menurut Ahli Hadis: Studi Teoretis dan Praktis" Penulis : Ibrahim bin Muhammad al-Sa'wi Pendahuluan            ...