Bentuk-Bentuk Tasybih
Baligh
§ Mubtada dan
Khabar
Contoh: زَيْدٌ أَسَدٌ (Zaid itu adalah Singa) - الْجَمَلُ سَفينَةُ الصَّحْرَاءِ (Unta adalah Perahunya Padang Pasir)
§ Hal dan
Shohibul Hal
Contoh: هَجَمَ الْجُنْدِيُّ عَلى الْعَدُوْ أَسَدًا
(pasukan ini menyerang musuh seakan singa yang menerkam)
Musyabbah : الْجُنْدِيُّ musyabbah bihi: أَسَدًا . Lafal أَسَدًا menggambarkan keadaan (hal) dari الْجُنْدِيُّ (shohibul hal)
§ Maf’ul Mutlak
Contoh: أسْرَعَ الْحِصَانُ إِسْرَاعَ الطَّائِرَةِ (kuda
ini berlari cepat, secepat pesawat). Yang menjadi maf’ul mutlaknya adalah إِسْرَاعَ . kecepatan kuda diserupakan dengan kecepatan pesawat.
§ Idhofah musyabbah
bihi
Contoh: ظَهَرَمِصْبَاحُ الْحَضَارَةِ فِي مِصْرَ (lentera peradaban telah nampak di negeri Mesir). Musyabbah : الْحَضَارَةِ dan musyabbah bihi : مِصْبَاحُ. Peradaban diserupakan dengan lentera, tetapi lafal مِصْبَاحُ diidofahkan kepada الْحَضَارَةِ
Contoh-contoh tasybih baligh di dalam Alqur’an
مُهْطِعِيْنَ مُقْنِعِيْ رُءُوْسِهِمْ لَا
يَرْتَدُّ اِلَيْهِمْ طَرْفُهُمْۚ وَاَفْـِٕدَتُهُمْ هَوَاۤءٌۗ ٤٣
(Pada hari itu) mereka datang tergesa-gesa (memenuhi panggilan) dengan mengangkat kepalanya, sedangkan mata mereka tidak berkedip dan hati mereka kosong. (QS Ibrahim ayat 43)
Kalimat اَفْـِٕدَتُهُمْ هَوَاۤءٌۗ makna
lain dari qulub. Qalbu-qalbu mereka ini sesuatu yang kosong. Kalimat
اَفْـِٕدَتُهُمْ هَوَاۤءٌۗ merupakan tasybih baligh, bentuk penyerupaan yang sangat kuat.
Karena hati manusia diserupakan dengan sesuatu yang kosong (hampa).
Catatan tambahan : kalimat اَفْـِٕدَتُهُمْ هَوَاۤءٌۗ di dalam sejumlah kitab, termasuk kitab Shafatu Tafaasir, dijelaskan
bahwa qalbu-qalbu manusia ketika itu kosong dari pemikiran karena saking
kagetnya. Bisa dibayangkan orang-orang kafir/ zalim itu pada hari ketika
dibangkitkan (padang mahsyar) mendapati menuju hari penghisaban. Kata Qulub
dalam bahasa Arab semakna dengan al ‘ukul (akal). Maka Allah mengatakan mereka
memiliki qulub yang tidak digunakan untuk memahami (berfikir). Qulub ini
menggambarkan sikap akal yang bolak-balik
قُلْ لَّآ اَجِدُ فِيْ مَآ اُوْحِيَ اِلَيَّ
مُحَرَّمًا عَلٰى طَاعِمٍ يَّطْعَمُهٗٓ اِلَّآ اَنْ يَّكُوْنَ مَيْتَةً اَوْ
دَمًا مَّسْفُوْحًا اَوْ لَحْمَ خِنْزِيْرٍ فَاِنَّهٗ رِجْسٌ اَوْ فِسْقًا اُهِلَّ
لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلَا عَادٍ فَاِنَّ
رَبَّكَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ١٤٥
“Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali (daging) hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi karena ia najis, atau yang disembelih secara fasik, (yaitu) dengan menyebut (nama) selain Allah. Akan tetapi, siapa pun yang terpaksa bukan karena menginginkannya dan tidak melebihi (batas darurat), maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am ayat 145)
Kalimat فَاِنَّهٗ رِجْسٌ merupakan tasybih
baligh.
وَقَدِمْنَآ اِلٰى مَا
عَمِلُوْا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنٰهُ هَبَاۤءً مَّنْثُوْرًا ٢٣
Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (QS. Al-Furqan ayat 23)
Kalimat فَجَعَلْنٰهُ هَبَاۤءً مَّنْثُوْرًا merupakan tasybih baligh karena menyerupakan perbuatan manusia bagaikan debu-debu yang beterbangan (tidak ada nilainya), amal-amal perbuatan orang kafir itu tidak ada faidahnya bagi kehidupan akhirat mereka, termasuk perbuatan baik mereka.
لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ اَلَّا
يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ
Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan), karena mereka (penduduk Mekah) tidak beriman. (QS. Asy-Syu’ara ayat 3)
Kalimat لَعَلَّكَ بَاخِعٌ merupakan tasybih baligh. Dimana Allah menyerupakan Rasulullah
Saw seperti seseorang yang kemudian membinasakan diri sendiri. Tafsir dari لَعَلَّكَ بَاخِعٌ adalah bisa jadi engkau (Muhammad) membinasakan diri
sendiri atau membunuh diri sendiri, karena mereka tidak beriman. Ini
menggambarkan kesedihan Nabi Saw dan menjadi kebinasaan bagi orang kafir yang tidak mau beriman. Kata
بَاخِعٌ bermakna qatilunnafsih (orang yang
membunuh dirinya sendiri). Imam Bukhari menafsirkan dengan makna seseorang yang
membinasakan dirinya. Kata بَاخِعٌ dalam bentuk isim
fa’il dinisbatkan kepada Nabi Saw bukan bermakna hakiki. Karena Nabi Saw tidak
mungkin mencelakan diri sendiri maka kalimat لَعَلَّكَ
بَاخِعٌ bentuk penyerupaan .
لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ merupakan gambaran penyerupaan sifat
kesedihan Nabi Saw, akibat mereka orang- orang kafir Quraisy tidak mau beriman.
Menggambarkan mahabbah (kecintaan) Nabi Saw kepada umatnya dan harapan kebaikan
kepada umatnya
ثُمَّ اسْتَوٰىٓ اِلَى
السَّمَاۤءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْاَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا
اَوْ كَرْهًاۗ قَالَتَآ اَتَيْنَا طَاۤىِٕعِيْنَ ١١
Dia kemudian menuju ke (penciptaan) langit dan (langit) itu masih berupa asap. Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Tunduklah kepada-Ku dengan patuh atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami tunduk dengan patuh.” (QS. Fushilat ayat 11)
Kalimat وَهِيَ دُخَانٌ
merupakan tasybih baligh. Langit diserupakan seperti sesuatu yang berupa asap.
اَللّٰهُ الَّذِيْ جَعَلَ
لَكُمُ الْاَرْضَ قَرَارًا وَّالسَّمَاۤءَ بِنَاۤءً وَّصَوَّرَكُمْ
فَاَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِۗ ذٰلِكُمُ اللّٰهُ
رَبُّكُمْۚ فَتَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ
Allahlah yang menjadikan bumi untukmu sebagai tempat menetap dan langit sebagai atap. (Dia pula yang) membentukmu, lalu memperindah bentukmu, serta memberimu rezeki dari yang baik-baik. Demikianlah Allah Tuhanmu. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam. (Q.S Ghafir ayat 64)
Kalimat
وَّالسَّمَاۤءَ بِنَاۤءً merupakan tasybih baligh,
langit diserupakan dengan atap. Yakni diserupakan dengan bangunan yang ada
atapnya dan menjadikan langit ini seperti kubah yang dibangun di atas kepala
manusia. Dan manusia bisa menyaksikan langit ini dengan kedua mata, di atas
kepala-kepala manusia tanpa disengaja dan Allah meninggikan langit ini tanpa
tiang.
Disampakan oleh guru kami Ustadz
Irfan Abu Naveed, M.Pd.I (Selasa, 18 Juni 2024) dalam Program Bahasa Arab Ngaji
Subuh

Tidak ada komentar:
Posting Komentar