Catatan Pelajaran ke-4
Pembahasan Tugas: Menentukan rukun tasybih
pada surat An-Nur ayat 55 & Al-Baqarah ayat 183
وَعَدَ اللّٰهُ
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى
الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ
دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ
خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـًٔاۗ وَمَنْ
كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ ٥٥
-
Al Musyabbah ( الْمُشَبَّه ) : الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ
-
Al Musyabbah Bihi (الْمُشَبَّه به ) : الَّذِيْنَ
مِنْ قَبْلِهِمْۖ (yang dimaksud الأنبياء من بني إسرائيل)
-
Adat al-Tasybih (
أداة التشبيه) : ك
- Wajh al-Syabah ( وجه الشبه) : الاستخلاف في الأرض (janji Allah memberikan kekuasaan (kekhalifahan di bumi)
Musyabbah nya adalah الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ
(mereka yang beriman dan beramal sholih) Jumhur ulama dan tarjih tokoh ulama
mufassirin hafidz Abu Abdullah al-Qurtubi menukilkan pendapat jumhur yang
mengaskan bahwa huruf مِنْ pada ayat ini bukan للتبعيض
(مِنْ untuk sebagian orang). Tetapi
yang lebih tepat مِنْ لبيان الجنس (untuk menunjukkan keseluruhan jenis orang-orang mukmin)
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ
مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas
kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertakwa.
-
Al Musyabbah ( الْمُشَبَّه ) : عَلَيْكُمُ فرضة الصيام
-
Al Musyabbah Bihi (الْمُشَبَّه به ) : فرضة الصيام عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ
-
Adat al-Tasybih (
أداة التشبيه) : ك
-
Wajh al-Syabah ( وجه الشبه) : فرضة الصيام
Jenis-Jenis Tasybih
(أنواع التشبيه )
1. Tasybih
Mufashshal (التشبيه المفصَّل )
Jenis tasybih yang disebutkan di dalamnya
seluruh rukun-rukun tasybih.
Sebagai contoh كَالْبَحْرِ فِي الْجُوْدِ محمدٌ (Muhammad ini bagaikan
samudera dalam kedermawanannya). محمدٌ sebagai mustabbah, الْبَحْر sebagai musyabbah bihi, كَ
sebagai adat tasybih dan الْجُوْدِ sebagai wajh syabah. Contoh lain : زيدٌ كالأسدِ في الشجاعةِ . زيدٌ
sebagai mustabbah, الأسدِ
sebagai musyabbah bihi, كَ
sebagai adat tasybih dan الشجاعةِ
sebagai wajh syabah.
2. Tasybih Mujmal
(التشبيه المجمل )
Jenis tasybih yang menghilangkan salah satu
dari dua rukun tasybih, adat tasybih atau wajh syabahnya. Jika dihilangkan adat
tasybihnya saja maka dinamakan tasybih mujmal, ketika dihilangkan wajh
syabahnya juga disebut tasybih mujmal juga.
Jadi, tasybih mujmal ini terdiri dari 3 rukun
saja. Intinya ada musyabbah dan musyabbah bihi dan yang ke-3 memilih (apakah
yang ada adat tasybih ada sedang wajh syabahnya tidak ada, atau sebaliknya). Contoh:
» كالأسدِ محمدٌ
(Muhammad itu seperti singa). محمدٌ
sebagai musyabbah, الأسدِ
sebagai musyabbah bihi, كَ
sebagai adat tasybih.
» أَسَدٌ في الشجاعةِ محمدٌ
(Muhammad itu singa dalam hal keberanian) . محمدٌ sebagai musyabbah , أَسَدٌ sebagai musyabbah bihi dan الشجاعةِ sebagai wajh syabah
» طارقٌ كَالثَّعْلَبِ ( Thoriq itu bagaikan ular). طارقٌ sebagai musyabbah, الثَّعْلَبِ sebagai musyabbah bihi, كَ
sebagai adat tasybih.
» طارقٌ ثَعْلَبٌ في الْمَكْرِ ( Thoriq adalah ular dalam hal membuat makar).
طارقٌ sebagai musyabbah , ثَعْلَبٌ sebagai musyabbah bihi dan الْمَكْرِ sebagai wajh
syabah
3. Tasybih Baligh
(التشبيه البليغ )
Jenis tasybih yang menghilangkan dua rukun dari empat tasybih, yakni adat
tasybih dan wajh syabahnya, yang ada hanya musyabbah dan musyabbah bihi. Contoh:
» أَسَدٌ محمدٌ (Muhammad itu singa). محمدٌ sebagai musyabbah , أَسَدٌ sebagai musyabbah bihi
» طارقٌ ثَعْلَبٌ (
Thoriq itu ular). طارقٌ
sebagai musyabbah , ثَعْلَبٌ sebagai musyabbah bihi
» الْعَالِمُ سِرَاجٌ
(Seorang yang berilmu itu lentera). الْعَالِمُ sebagai musyabbah ,
سِرَاجٌ
sebagai musyabbah bihi
Dinamakan tasybih baligh, karena jenis tasybih ini adalah jenis tasybih paling kuat (paling tinggi) dari aspek penyerupaanya.
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi Saw bersabda : إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ, يُقَاتَلَ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
Hal ini
diutarakan oleh Imam Mulla Ali Al-Qari di dalam kitab Mirqatul Mafaatih. Sesungguhnya
semata-mata imam itu adalah junnah ) perisai). Maka ia termasuk tasybih baligh.
Junnah yakni pelindung/penghalang, para
ulama mengatakan karena lafaz junnatun merupakan isim nakiroh, maka cakupannya
luas dan mubham. Maka nabi Saw tidak mengatakan kal junnati tetapi junnatun.
Bentuk perisainya luas, berbagai perkara yang berkaitan pengaturan urusan umat.
Boleh juga
dikatakan sebagai tasybih mujmal, dengan يُقَاتَلَ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ sebagai wajh syabah, yang menjadi irisan kesamaan antara imam
dengan junnah. Atau mengambil pendapat tasybih mujmal menurut Imam Mulla Ali
Al-Qari. Intinya ini adalah tasybih dalam bentuk penguatan, namun ada juga
menggolongkan dengan istilah at-Tasybih al Muakkad (dalam kitab lain)
Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ خَلَعَ
يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِىَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ
وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
Kalimat tasybihnya adalah مَاتَ مِيتَةً
جَاهِلِيَّةً . Termasuk jenis tasybih baligh, dengan مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ sebagai musyabbahnya dan مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
sebagai musyabbah bihi.
Menurut Alhafidz Ibnu Hajar al-Atsqalani di dalam kitab Fathul Bari syarah
kitab Shahih Bukhari mengatakan, mengandung ihtimal (maksud) penyerupaan. Orang
yang mati dipundaknya tidak ada baiat pada khalifah maka ia mati jahiliyah.
Karena mati dalam keadaan berdosa, tidak ada yang ditaati (tidak ada pemimpin),
مِيتَةً bermakna keadaan ia mati. مَاتَ مِيتَةً
جَاهِلِيَّةً mati dalam keadaan seperti orang
masa jahiliyah. Karena keadaan ahlul jahiliyah mati dalam kesesatan dan tidak
ada pemimpin yang ditaati. Karena mereka tidak mengetahui tentang kewajiban
ini. Maksudnya bukan berarti ia mati dalam kekafiran, melainkan mati dalam
keadaan bermaksiat. Karena tidak adanya sosok khalifah yg dibaiat di tengah
mereka. Sebab tidak tegak hukum-hukum islam itu yang terjadi hari ini.
Maka hadist ini
dijadikan dalil oleh para ulama, termasuk oleh Imam Al-Qadhi Ibn Hubairah
menjadikan dalil wajib adanya khilafah. Beliau mengatakan “ yakni jika tiada
Imam/Khalifah baginya, dan ini menunjukkan bahwa tidak boleh terjadi kekosongan
yang meliputi kaum muslim, lebih dari tiga hari sebagai temo syura (dari
ketiadaan khilafah), kecuali di pundak mereka
terdapat baiat terhadap seorang khalifah tempat kembali mereka”. (Yahya
bin Hubairah al-Syaibani, Al-Ifshah ‘An Ma’ani al-Shihah, Dar al-Wathan,
1417H, Juz IV, hlm.262)
Nabi Saw ketika mengungkapkan maksud berdosanya orang-orang yang mati dalam keadaan tidak adanya khalifah di tengah-tengah mereka. Kemudian mendiamkan dan tidak berjuang, dengan ungkapan مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً , matinya mereka bagaikan kondisi orang-orang jahiliyah dulu.
Disampakan oleh guru kami Ustadz
Irfan Abu Naveed, M.Pd.I (Jumat, 14 Juni 2024) dalam Program Bahasa Arab Ngaji
Subuh

Tidak ada komentar:
Posting Komentar