Sabtu, 20 Juli 2024

Ta’ ridh ( التعريض )

 

Catatan Pelajaran ke-14

Ta’ ridh (  التعريض )

Definisi Ta’ ridh

Secara Bahasa : kebalikan dari terang (jelas), maknanya suatu perkataan mengandung apa yang relevan dimaknai untuk menujukkan makna yang dimaksud dan bisa juga dimaknai dengan sesuatu diluar yang dimaksud.

            Atau engkau mengatakan suatu ungkapan, yang pengungkapannya tidak secara jelas dari makna yang dikehendaki. Akan tetapi menunjukkan maksudnya secara halus (sindiran halus). Bahkan dengan kalimat ta’ridh ini orang bisa berlepas diri dari konsekuensi yang apa yang diucapkannya, maknanya ambigu tetapi yang dimaksud sudah jelas.

            Secara Istilah : hal dimana orang yang mendengar (diajak bicara), memahami maksud dari orang yang berbicara secara tidak jelas. Seperti ucapan seseorang yang melamar wanita tertentu : كُلُّ رَجُلٍ رَاغِبٌ فِي الزَّوَاجِ يُحِبُّ أَنْ تَكُوْنَ هذِهَ الْمَرْأَةُ زَوْجَةً لَهُ   (Setiap laki-laki yang ingin menikah, senang kalau perempuan ini menjadi istrinya). Ini merupakan bahasa sindiran halus yang maksudnya ingin menikahi wanita tersebut. 

            Ketika dikatakan ta’ ridh maka ini merupakan ucapan yang tidak jelas maksudnya. Seperti di dalam hadist dari ‘Imran bin Husain ra dia berkata, Rasulullah Saw bersabda :

إِنَّ فِي الْمَعَارِيْضِ لمَنْدُوْحَةً عَنِ الْكَذِبِ

(Sesungguhnya di dalam ungkapan ta’ridh itu terdapat jalan keluar dari perkataan dusta).

Adakalanya ta’ridh ini dengan simbol-simbol tertentu. Para ulama mengatakan makna bahasa ta’ridh ini sama dengan makna istilah karena diambil dari makna bahasa dengan penambahan konsep. Dengan pembahasan pengantar ini menunjukkan bahwa ta’ridh adalah ungkapan yang lebih halus (tersembunyi) dari kinayah. Di dalam  ta’ridh tidak disyaratkan kelaziman dari aspek logisnya, tidak ada unsur keterkaitan, cukup dipahami dari indikasi- indikasinya. Berbeda dengan kinayah, lebih kepada tradisi bahasanya orang Arab.

            Adakalanya  situasi dan kondisi yang menggambarkan suatu perkataan, dalam bentuk sikap. Misalnya pada zaman dulu terjadi sebagian sahabat nabi Saw pada sebagian peperangannya, setiap orang dari mereka mengikat sebuah batu di perutnya. Sebagai bentuk ta’ridh bahwasanya rasa lapar telah sampai pada titik puncaknya. Maka Rasulullah menyingkap perutnya kepada para sahabat, mereka menyaksikan bahkan nabi Saw ternyata mengikat perut beliau dengan 2 batu.

            Contoh lain dalam bentuk sikap, ada orang bakhil keluar dari rumahnya, kemudian mengorek-ngorek giginya. Sebagai bentuk sindiran halus, dia telah memakan daging-dagingan yang jumlahnya banyak. Padahal bisa jadi kenyataannya tidaklah demikian.

            Tetapi ta’ridh yang menjadi bab pembahasan ilmu bayan adalah ta’ridh yang berbentuk ucapan, yakni ucapan berbahasa arab. Misalnya seorang pemuda yang ingin menikah, berkata kepada orang tuanya : “Anak perempuan dari pamanku adalah anak perempuan yang telah dewasa dan cocok untuk menikah”. Ini merupakan bentuk ta’ridh, bahwa dia ingin menikahi perempuan tersebut dan tidak ada halangan untuk melamarnya.

 

Faidah Balaghiyah Ta’ridh

1.    Adakalanya terealisasi dengan menggunakan ungkapan tadi, dengan berbagai tujuan.

2.    Terdapat solusi untuk menyembunyikan makna yang dimaksud dari perkataan tersebut.

 

Contoh ta’ridh

وَلَقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَۚ لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ ۝

Sungguh, benar-benar telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang (para nabi) sebelummu, “Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan gugurlah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi.  (QS. Az Zumar ayat 65)

            Maksud dari kalimat ini bukan untuk Rasulullah Saw, tetapi sindiran umat nabi Saw itu sendiri. Sudah ma’lum di dalam aqidah bahwa seorang Rasul adalah orang yang mulia untuk menyampakan risalah agama Allah kepada manusia. Tentu orang yang menyampaikan risalah Allah wajib ma’sum dari perbuatan- perbuatan dosa dari menyekutukan Allah. Secara khitab (seruan) lafal  لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ secara jelas ditujukan kepada Nabi Saw. Tetapi ini merupakan sindiran kepada setiap orang yang beriman, agar berhati-hati dari perbuatan kesyirikan dan amal perbuatan mereka tidak sirna sehingga menjadi orang yang merugi.

Demikian pula apa yang datang dari Alquran misalnya firman Allah SWT

Ø  وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ ۝٧ (QS. Ali Imran ayat 7).

Ø  إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ (QS. Ar Ra’d ayat 11).

Ø  وَّلِيَذَّكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِࣖ ۝٥٢ (QS. Ibrahim ayat 52)

Ø  فَاتَّقُوا اللّٰهَ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ࣖ ( QS. Al-Ma'idah Ayat 100)

Ø  كَذٰلِكَ نُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ ۝٣٢ ( QS. Al-A’raf Ayat 32)

            Ayat ini merupakan ta’ridh (bentuk sindiran) bagi orang-orang kafir yang mengambil petunjuk dari ayat-ayat Allah. Baik kepada ayat-ayatnya dalam penjelasannya, karena mereka tidak berfikir. Meskipun yang disebut Ulil Albab, namun yang dimaksud adalah orang-orang kafir yang mengaku berakal sehat (tetapi hakikatnya mereka tidak berfikir) terhadapat tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

فَرِحَ الْمُخَلَّفُوْنَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلٰفَ رَسُوْلِ اللّٰهِ وَكَرِهُوْٓا اَنْ يُّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَقَالُوْا لَا تَنْفِرُوْا فِى الْحَرِّۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ اَشَدُّ حَرًّاۗ لَوْ كَانُوْا يَفْقَهُوْنَ 

Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) merasa gembira dengan duduk-duduk setelah kepergian Rasulullah (ke medan perang). Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah dan mereka (justru) berkata, “Janganlah kamu berangkat (ke medan perang) di tengah panas terik.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Api neraka Jahanam lebih panas.” Seandainya saja selama ini mereka memahami. (QS. At Taubah ayat 81)

Perang tabuk terjadi antara kaum muslimin dengan romawi yang dipimpin oleh Rasulullah di daerah Tabuk. Sekitar 700 km dari kota Madinah. Perang ini terjadi pada musim paceklik/musim panas, ketika kaum muslimin diuji dengan kekurangan bahan pangan. Digambarkan orang yang menyelahi perintah nabi Saw duduk-duduk dan mereka tidak senag berjihad dengan harta benda mereka di jalan Allah. Mereka menghasut orang-orang agar tidak berangkat ke medan perang di Tabuk. Jumlah kaum muslimin sekitar 30ribuan dan pasukan Romawi sekitar 100ribu.

Perang tabuk ini menjadi pembeda antara kaum yang beriman dengan orang-orang munafik. Karena orang munafik tidak mau berangkat perang tabuk, bahkan mereka membangun Masjid Dhirar. Sepulang dari Perang tabuk ini Rasulullah Saw membakar masjid tersebut atas perintah Allah Swt. Karena masjid tersebut dibangun untuk mencerai-beraikan kaum muslimin. Tadinya Nabi Saw sempat diundang untuk sholat di masjid tersebut, karena terhalang dengan kesibukan beliau.

Lafal ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ اَشَدُّ حَرًّاۗ لَوْ كَانُوْا يَفْقَهُوْنَ Ayat ini tidak bermaksud untuk membaritahu orang munafik bahwa api neraka lebih panas dari panasnya musim panas. Dimana Rasulullah Saw dan orang-orang yang beriman keluar untuk berperang. Tetapi yang dimaksud adalah ta’ridh bahwa orang-orang munafik ini merupakan penduduk neraka jahannam pada hari kiamat kelak.

 

Disampakan oleh guru kami  Ustadz Irfan Abu Naveed, M.Pd.I (Jumat, 19 Juli 2024) dalam Program Bahasa Arab Ngaji Subuh

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan Pelajaran Kritik Matan Hadist

"Kritik Matan Menurut Ahli Hadis: Studi Teoretis dan Praktis" Penulis : Ibrahim bin Muhammad al-Sa'wi Pendahuluan            ...