Ta’ ridh ( التعريض
)
Definisi Ta’ ridh
Secara Bahasa : kebalikan
dari terang (jelas), maknanya suatu perkataan mengandung apa yang relevan
dimaknai untuk menujukkan makna yang dimaksud dan bisa juga dimaknai dengan
sesuatu diluar yang dimaksud.
Atau engkau mengatakan suatu ungkapan, yang pengungkapannya tidak secara jelas dari makna yang dikehendaki. Akan tetapi menunjukkan maksudnya secara halus (sindiran halus). Bahkan dengan kalimat ta’ridh ini orang bisa berlepas diri dari konsekuensi yang apa yang diucapkannya, maknanya ambigu tetapi yang dimaksud sudah jelas.
Secara
Istilah : hal dimana orang yang mendengar (diajak bicara), memahami maksud
dari orang yang berbicara secara tidak jelas. Seperti ucapan seseorang yang
melamar wanita tertentu : كُلُّ رَجُلٍ رَاغِبٌ فِي
الزَّوَاجِ يُحِبُّ أَنْ تَكُوْنَ هذِهَ الْمَرْأَةُ زَوْجَةً لَهُ (Setiap laki-laki yang ingin menikah, senang
kalau perempuan ini menjadi istrinya). Ini merupakan bahasa sindiran halus yang
maksudnya ingin menikahi wanita tersebut.
Ketika
dikatakan ta’ ridh maka ini merupakan ucapan yang tidak jelas maksudnya. Seperti
di dalam hadist dari ‘Imran bin Husain ra dia berkata, Rasulullah Saw bersabda
:
إِنَّ فِي الْمَعَارِيْضِ
لمَنْدُوْحَةً عَنِ الْكَذِبِ
(Sesungguhnya di dalam ungkapan ta’ridh itu terdapat jalan keluar dari perkataan dusta).
Adakalanya
ta’ridh ini dengan simbol-simbol tertentu. Para ulama mengatakan makna bahasa
ta’ridh ini sama dengan makna istilah karena diambil dari makna bahasa dengan
penambahan konsep. Dengan pembahasan pengantar ini menunjukkan bahwa ta’ridh
adalah ungkapan yang lebih halus (tersembunyi) dari kinayah. Di dalam ta’ridh tidak disyaratkan kelaziman dari
aspek logisnya, tidak ada unsur keterkaitan, cukup dipahami dari indikasi-
indikasinya. Berbeda dengan kinayah, lebih kepada tradisi bahasanya orang Arab.
Adakalanya situasi dan kondisi yang menggambarkan suatu
perkataan, dalam bentuk sikap. Misalnya pada zaman dulu terjadi sebagian
sahabat nabi Saw pada sebagian peperangannya, setiap orang dari mereka mengikat
sebuah batu di perutnya. Sebagai bentuk ta’ridh bahwasanya rasa lapar telah
sampai pada titik puncaknya. Maka Rasulullah menyingkap perutnya kepada para
sahabat, mereka menyaksikan bahkan nabi Saw ternyata mengikat perut beliau
dengan 2 batu.
Contoh
lain dalam bentuk sikap, ada orang bakhil keluar dari rumahnya, kemudian
mengorek-ngorek giginya. Sebagai bentuk sindiran halus, dia telah memakan
daging-dagingan yang jumlahnya banyak. Padahal bisa jadi kenyataannya tidaklah
demikian.
Tetapi
ta’ridh yang menjadi bab pembahasan ilmu bayan adalah ta’ridh yang berbentuk
ucapan, yakni ucapan berbahasa arab. Misalnya seorang pemuda yang ingin
menikah, berkata kepada orang tuanya : “Anak perempuan dari pamanku adalah
anak perempuan yang telah dewasa dan cocok untuk menikah”. Ini merupakan
bentuk ta’ridh, bahwa dia ingin menikahi perempuan tersebut dan tidak ada
halangan untuk melamarnya.
Faidah Balaghiyah Ta’ridh
1. Adakalanya terealisasi dengan menggunakan ungkapan tadi,
dengan berbagai tujuan.
2. Terdapat solusi untuk menyembunyikan makna yang dimaksud
dari perkataan tersebut.
Contoh ta’ridh
وَلَقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِلَى الَّذِيْنَ
مِنْ قَبْلِكَۚ لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ
الْخٰسِرِيْنَ
Sungguh, benar-benar telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang (para nabi) sebelummu, “Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan gugurlah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Az Zumar ayat 65)
Maksud dari kalimat ini bukan untuk Rasulullah Saw, tetapi sindiran umat nabi Saw itu sendiri. Sudah ma’lum di dalam aqidah bahwa seorang Rasul adalah orang yang mulia untuk menyampakan risalah agama Allah kepada manusia. Tentu orang yang menyampaikan risalah Allah wajib ma’sum dari perbuatan- perbuatan dosa dari menyekutukan Allah. Secara khitab (seruan) lafal لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ secara jelas ditujukan kepada Nabi Saw. Tetapi ini merupakan sindiran kepada setiap orang yang beriman, agar berhati-hati dari perbuatan kesyirikan dan amal perbuatan mereka tidak sirna sehingga menjadi orang yang merugi.
Demikian pula apa yang datang dari Alquran misalnya firman Allah SWT
Ø وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ ٧ (QS.
Ali Imran ayat 7).
Ø إِنَّمَا
يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ (QS.
Ar Ra’d ayat 11).
Ø وَّلِيَذَّكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِࣖ ٥٢ (QS.
Ibrahim ayat 52)
Ø
فَاتَّقُوا اللّٰهَ يٰٓاُولِى
الْاَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
ࣖ ( QS. Al-Ma'idah Ayat 100)
Ø كَذٰلِكَ نُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ ٣٢ ( QS. Al-A’raf Ayat 32)
Ayat ini merupakan ta’ridh (bentuk sindiran) bagi orang-orang kafir yang mengambil petunjuk dari ayat-ayat Allah. Baik kepada ayat-ayatnya dalam penjelasannya, karena mereka tidak berfikir. Meskipun yang disebut Ulil Albab, namun yang dimaksud adalah orang-orang kafir yang mengaku berakal sehat (tetapi hakikatnya mereka tidak berfikir) terhadapat tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
فَرِحَ الْمُخَلَّفُوْنَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلٰفَ رَسُوْلِ اللّٰهِ وَكَرِهُوْٓا اَنْ يُّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَقَالُوْا لَا تَنْفِرُوْا فِى الْحَرِّۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ اَشَدُّ حَرًّاۗ لَوْ كَانُوْا يَفْقَهُوْنَ
Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) merasa gembira dengan duduk-duduk setelah kepergian Rasulullah (ke medan perang). Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah dan mereka (justru) berkata, “Janganlah kamu berangkat (ke medan perang) di tengah panas terik.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Api neraka Jahanam lebih panas.” Seandainya saja selama ini mereka memahami. (QS. At Taubah ayat 81)
Perang tabuk
terjadi antara kaum muslimin dengan romawi yang dipimpin oleh Rasulullah di
daerah Tabuk. Sekitar 700 km dari kota Madinah. Perang ini terjadi pada musim
paceklik/musim panas, ketika kaum muslimin diuji dengan kekurangan bahan
pangan. Digambarkan orang yang menyelahi perintah nabi Saw duduk-duduk dan
mereka tidak senag berjihad dengan harta benda mereka di jalan Allah. Mereka
menghasut orang-orang agar tidak berangkat ke medan perang di Tabuk. Jumlah
kaum muslimin sekitar 30ribuan dan pasukan Romawi sekitar 100ribu.
Perang tabuk
ini menjadi pembeda antara kaum yang beriman dengan orang-orang munafik. Karena
orang munafik tidak mau berangkat perang tabuk, bahkan mereka membangun Masjid
Dhirar. Sepulang dari Perang tabuk ini Rasulullah Saw membakar masjid tersebut
atas perintah Allah Swt. Karena masjid tersebut dibangun untuk
mencerai-beraikan kaum muslimin. Tadinya Nabi Saw sempat diundang untuk sholat
di masjid tersebut, karena terhalang dengan kesibukan beliau.
Lafal ۗ قُلْ
نَارُ جَهَنَّمَ اَشَدُّ حَرًّاۗ لَوْ كَانُوْا يَفْقَهُوْنَ Ayat ini tidak bermaksud
untuk membaritahu orang munafik bahwa api neraka lebih
panas dari panasnya musim panas. Dimana Rasulullah Saw dan orang-orang yang
beriman keluar untuk berperang. Tetapi yang dimaksud adalah ta’ridh bahwa
orang-orang munafik ini merupakan penduduk neraka jahannam pada hari kiamat
kelak.
Disampakan oleh guru kami Ustadz Irfan Abu Naveed, M.Pd.I (Jumat, 19
Juli 2024) dalam Program Bahasa Arab Ngaji Subuh

Tidak ada komentar:
Posting Komentar