Catatan Pelajaran ke-15
Al-Ta’ ridh ( التعريض
)
Al-Ta’ridh kebalikan dari tashrih (ungkapan jelas), yakni suatu ungkapan dengan maksud tertentu tapi diungkapkan dengan sindiran, tidak secara jelas.
Al-Ta’ridh sebagaimana ucapan orang yang mengkhithbah seorang perempuan:
كل رجل راغب يف الزواج حيب أن تكون هذه املرأة زوجة له
“Setiap orang
yang ingin menikah, senang jika perempuan ini menjadi istrinya.”
Ungkapan di atas adalah ucapan khithbah (lamaran) dalam bentuk ungkapan al-ta’ridh (‘sindiran).
Seperti di dalam hadist nabi dikatakan, sesungguhnya di dalam ungkapan ta’ridh itu bisa terhindar dari perkataan dusta.
Definisi Al-Ta’ridh dalam kamus
bahasa (kamus al ma’ani)
·
Suatu maksud
ucapan sesorang yang berbicara secara samar, tetapi orang yang mendengar paham
maksudnya meskipun tidak diungkapkan secara jelas.
·
Kebalikan
dari tashrih (jelas)
Faidah Balaghiyah Ta’ridh
·
Faidah
balaghah ta’ridh sama seperti faidah kinayah; (bedanya ta’ridh lebih samar dari
kinayah)
·
Menyampaikan maksud secara sindiran lebih
aman daripada secara terang-terangan.
Contoh Ta’ridh
وَلَقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِلَى الَّذِيْنَ
مِنْ قَبْلِكَۚ لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ
الْخٰسِرِيْنَ
Sungguh, benar-benar telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang (para nabi) sebelummu, “Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan gugurlah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Az Zumar ayat 65)
Perkara yang ma’lum dalam ushuluddin, Rasulullah Saw orang yang Allah muliakan & menyampaikan risalahnya kepada umat manusia, wajib ma’sum (dijaga oleh Allah) dari perbuatan- perbuatan dosa dan menyekutukan Allah. Secara khitab (seruan) lafal وَلَقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ secara jelas ditujukan kepada Nabi Saw, tetapi maknanya ditujukan kepada Umat Nabi Saw
Maksud dari kalimat ini لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ bukan untuk Rasulullah Saw, tetapi sindiran umat nabi Saw itu sendiri. Sudah ma’lum di dalam aqidah bahwa seorang Rasul adalah orang yang mulia untuk menyampakan risalah agama Allah kepada manusia. Tentu orang yang menyampaikan risalah Allah wajib ma’sum dari perbuatan- perbuatan dosa dari menyekutukan Allah. Tetapi ini merupakan sindiran kepada setiap orang yang beriman, agar berhati-hati dari perbuatan kesyirikan dan amal perbuatan mereka tidak sirna sehingga menjadi orang yang merugi.
وَلَىِٕنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَاۤءَهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ
مَاجَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِۙ اِنَّكَ اِذًا لَّمِنَ الظّٰلِمِيْنَۘ ١٤٥ ...
Sungguh, jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah sampai ilmu kepadamu, niscaya engkau termasuk orang-orang zalim. (Al Baqarah ayat 145)
Secara redaksi khitab dari ayat ini mukhatabnya adalah nabi Saw. Yang menjadi pertanyaan apakah mungkin nabi Saw menjadi orang yang mengikuti hawa nafsunya orang-orang kafir? Jawabannya tentu tidak mungkin. Karena di dalam ayat qur’an lain Allah mengaskan bahwa Nabi Saw pasti menjadi teladan (Uswatun Hasanah) sebagaimana disebutkan dalam QS. Al Ahzab ayat 21. Maka lafal اِنَّكَ اِذًا لَّمِنَ الظّٰلِمِيْنَۘ secara makna tidak ditujukan untuk Nabi Saw melainkan untuk umatnya. Agar mereka yang tidak ma’sum wajib menjaga diri dari perbuatan mengikuti hawa nafsu orang-orang kafir. Lafal الأهْوَاۤءَ adalah kebalikan dari العِلْمُ . الأهْوَاۤءَ berbicara tentang hawa nafsu dan العِلْمُ bicara tentang wahyu. Segala sesuatu yang menyelisihi wahyu, maka sesungguhnya ia berasal dari hawa nafsu.
Di ayat yang lain Allah berfirman:
وَلَىِٕنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَاۤءَهُمْ بَعْدَ الَّذِيْ جَاۤءَكَ مِنَ
الْعِلْمِۙ مَا لَكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ
Sungguh, jika engkau mengikuti hawa nafsu mereka setelah ilmu (kebenaran)
sampai kepadamu, tidak ada bagimu pelindung dan penolong dari (azab) Allah. (Al
Baqarah ayat 120)
Ibnu katsir mengatakan di
dalamnya terdapat peringatan dan ancaman yang tegas bagi umatnya, dari
perbuatan mengikuti jalan-jalannya orang yahudi dan nasrani. Secara redaksi
khitab dari ayat ini mukhatabnya adalah nabi Saw, namun inti maknanya ditujukan
untuk umatnya. Lafal وَلَىِٕنِ اتَّبَعْتَ merupakan bentuk ta’ridh.
Al-Hafizh Al-Suyuthi (w. 911 H) bertutur: Hawa
nafsu mereka yang tidak mengetahui, maksudnya adalah apa yang mereka hembuskan
berupa kebatilan, maka tidak selayaknya bagi seorang yang berilmu mengikuti
orang yang jahil dalam hal apa yang ia lakukan bersumber dari hawa nafsunya,
Allah berfirman kepada Nabi-Nya: “Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti
keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu -kalau begitu-
termasuk golongan orang-orang yang zhalim.” Jika demikian
seruan kepada Nabi-Nya, lantas, bagaimana keadaan orang selain Nabi Saw jika ia
sejalan dengan orang-orang jahil atau kafir? Dan melakukan apa yang mereka
lakukan, dalam perkara yang tidak Allah dan Rasul-Nya ridhai, lalu mengikuti
apa yang menjadi kekhususan agama mereka dan pengikutnya.”
Perbedaan Kinayah, Ta’ridh dan Tauriyah
1. Kinayah: kiasan penjulukan lain; yang mana
makna hakikinya disamarkan. Contoh seseorang mengatakan اِبْتَسَمَ وَجْهُ الْمَيِّتِ (wajah jenazah ini tersenyum), ketika dihadirkan menjadi kinayah dari husn
al-khathimah;
2. Ta’ridh: kiasan dengan sindiran halus;
menyampaikan maksud namun tidak secara jelas.
Contoh جِئْتُكَ لِأُسَلِّمَ عَلَيْكَ(aku datang kepadamu untuk
menyampaikan salam padamu).
3. Tauriyyah: penyamaran. قَرِيْبًا بَعِيدًا contoh : dahulu nabi Saw dalam
peperangan Badar al-Kubra, beliau mencari mata air. Kemudian ditanya oleh orang
Badui : Darimana kalian berdua berasal? Nabi menjawab kami berasal dari air ( مِنْ مَاءٍ ). Akhirnya orang arab badui
tersebut memahami berasal dari aliran sungai (mata air). Tetapi yang dimaksud
Nabi Saw dari air mani itu sendiri.
Tauriyyah lebih luas cakupannya daripada kinayah dan
ta’ridh, dimana adakalanya dipahami maksud suatu perkataan dari redaksi, diksi,
atau indikasi katanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar