Senin, 10 April 2023

Berpisah Dengan Sahabat Yang Dicintai

 


#Catatan Pelajaran Ketiga

MENEMUKAN HIKMAH KEHIDUPAN
 (Diambil dari Kitab al-Kafi fi Syarh Diwan al-Syafi'i rahimahullahu ta'ala).

 Berpisah Dengan Sahabat Yang Dicintai

Manusia adalah makhluk yang lemah, tidak bisa hidup sendiri. Ia akan menjadi kuat ketika bersama. Demikian merupakan fitrah manusia membutuhkan kepada orang lain. Sehingga ketika ia berpisah dengan sahabat yang dicintai, maka ia akan merasa sedih. Imam Syafi’i memiliki kisah tersendiri berkaitan dengan persahabatan. Beliau memiliki sahabat yang dicintai, tetapi di tengah perjalanan mereka berpisah. Bagi Imam Syafi’i perpisahan tersebut membawa kesedihan dan luka tersendiri. Beliau kemudian bersenandung dengan terkait hal ini  dalam syair berikut.

Betapa malangnya seorang pemuda pada saat itu, ia hidup setelah para pecinta.

Umur seorang pemuda jika saja ada digenggamannya, maka akan ia buang setelah kekasihnya.

Betapa malangnya seorang pemuda pada saat itu, ia hidup setelah para pecinta. Bait ini memiliki makna yang sangat dalam. Sebuah bentuk penyesalan setelah berpisah dengan sahabat yang dicintainya. Dimana di antara mereka terhimpun mawaddah dan mahabbah. Mawaddah dan mahabbah memiliki makna yang sama, jika berada pada kata terpisah yang bermakna rasa cinta. Namun, ketika 2 makna yang sinonim ini digabungkan maka memiliki makna berbeda.

Mahabbah bersifat umum, rasa cinta kepada siapapun baik kepada orang tua, saudara, teman atau siapapun. Tetapi, kadang-kadang ada kalanya cinta itu tidak berbalas. Atau cinta itu hadir namun ada ketidakcocokan. Sedangkan mawaddah lebih dalam dari mahabbah, mawaddah  memiliki 2 syarat yakni ada rasa cinta dan kecocokan. Ketika mahabbah sangat memungkinkan bertepuk sebelah tangan, tetapi ketika mahabbah tidak bertepuk sebelah tangan. Bait ini menggambarkan merananya seseorang berpisah dengan sahabat yang dicintai.

Umur seorang pemuda jika saja ada digenggamannya, maka akan ia buang setelah kekasihnya. Bait ini juga menggambarkan begitu dalamnya rasa penyesalan ketika berpisah dengan sahabat. Seakan-akan hidup ini sudah tidak ada gunanya lagi, karena berpisah dengannya. Ini menunjukkan bahwa persahabatan itu harus dijaga dan dirawat. Syair merupakan ungkapan yang muballagah (berlebihan), untuk menggambarkan persahabatan itu merupakan sesuatu yang berharga yang harus dijaga.

Ukhuwah adalah anugerah yang suci yang bersifat ilahiyyah yang diberikan oleh Allah bagi orang-orang yang ikhlas dari kalangan hamba- hambaNya. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anfal ayat 63:

 وَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْۗ لَوْاَنْفَقْتَ مَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مَّآ اَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ اَلَّفَ بَيْنَهُمْۗ اِنَّهٗ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana.

Sehingga, yang membuat bersatunya hati orang beriman adalah anugerah dari Allah SWT.

Allah SWT berfirman QS. Ali Imran 103

وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ 

… dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, …

Persahabatan antara mukmin yang satu dengan lainnya merupakan anugerah. Sebenarnya Imam Syafii ingin mengatakan hal ini, namun dalam sebuah syair yang menyayat hati.

Perasaan bersaudara atau bersahabat atau ukhuwah akan melahirkan pada jiwa orang-orang mukmin yakni sifat simpati dan murah hati yang  paling kuat. Akan melahirkan kejujuran yang paling tulus. Menjadikan seseorang itu saling menolong dan mengutamakan orang lain, rasa kasih sayang dan memaafkan.

            Ukhuwah (persaudaraan) karena Allah merupakan sifat yang melekat dengan keimanan dan untaian yang menyertai pada takwa. Tak ada ukhuwah (persaudaraan) tanpa iman dan tidak iman tanpa ukhuwah. Allah SWT berfirman QS. Al Hujurat ayat 10

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ 

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, ...

 

Tidak ada persahabatan tanpa takwa dan tidak ada takwa tanpa persahabatan. Sebagaimana firman Allah QS. Az-Zukhruf ayat 67.

اَلْاَخِلَّاۤءُ يَوْمَىِٕذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ ۗ ࣖ

Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa


Ibnul Mubarak rahimahullah berkata,

مَنِ اسْتَخَفَّ بِالْعُلَمَاءِ ذَهَبَتْ آخِرَتُهُ وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالْأُمَرَاءِ ذَهَبَتْ دُنْيَاهُ وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالْاِخْوَانِ ذَهَبَتْ مُرُوءَتُهُ.

“Barangsiapa yang meremehkan ulama, hilanglah akhiratnya (kebahagiaan akhiratnya). Barangsiapa meremehkan pemimpin (yang sholih & adil) diantara kalian, maka hilanglahlah kebhagiaan dunianya. Dan barangsiapa meremehkan saudaranya maka akan hilanglah kehormatannya.”

Diantara adab bersahabat adalah tidak memutuskan persahabatan setelah menyambung persahabatan dan tidak menolak setelah menerimanya. Ada ungkapan dari Imam Bukhari, beliau mengatakan: Seorang mukmin yang tanpa sahabat masih lebih baik daripada mukmin yang banyak musuh.

Abu Husain Al-Warraq berkata: Aku bertanya kepada Abu Usman tentang الصُّحْبَة (persahabatan). Ia berkata الصُّحْبَة kepada Allah adalah adab yang baik. Dengan mendawamkan mengagungkan dan merasa dalam pengawasan Allah SWT. الصُّحْبَة kepada Rasulullah adalah terikat dengan ilmu dan mengikuti sunnahnya. Adapun الصُّحْبَة kepada para aulia (wali allah) dengan memuliakan atau berkhidmat (melayani) kepadanya. الصُّحْبَة kepada saudara adalah dengan menampakkan suasana riang gembira, menampakkan kesederhanaan tanpa mengingkari mereka, selama tidak melakukan pelanggaran syariat atau mencederai kehormatan mereka.

Berkata Abu Muhammad al-Mughazili berkata barang siapa mencintai atau menginginkan langgengnya mawaddah, hendaklah ia menjaga kecintaan saudara-saudaranya yang telah lalu (merawat rasa cinta)

Berkata para ahli hikmah dari kalangan ulama salaf : “Pergaulilah manusia dengan sebuah pergaulan yang jika kalian tidak ada, mereka akan bersimpati pada kalian. Ketika kalian mati, mereka akan menangisi kalian”.

Ditanya Abu Usman al-Hirry : Bagaimana cara seorang muslim bersahabat dengan satu ketentuan yang memberikan keselamatan? Beliau berkata: “Lapangkanlah atas saudaranya terkait dengan hartanya. Jangan tamak dengan hartanya. Bersikap adil dan jangan menuntut dia bersikap adil kepadamu. Dengan memperbanyak kebaikan dan memuliakan sahabat lebih dari diri sendiri.

Muhammad bin Ahmad al-Farra: Orang mukmin itu adalah orang yang senantiasa menghadirkan uzur (husnuzhan dan memaklumi) untuk saudaranya. Orang munafik itu senantiasa menyalahkan kesalahan atau kecerobohan mereka.

 

Disampaikan oleh guru kami Ustadz Yuana Ryan Tresna

Dari Mahad Khadimus Sunnah Bandung

Kamis, 30 Maret 2023


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan Pelajaran Kritik Matan Hadist

"Kritik Matan Menurut Ahli Hadis: Studi Teoretis dan Praktis" Penulis : Ibrahim bin Muhammad al-Sa'wi Pendahuluan            ...