#Catatan
Pelajaran Ketiga
MENEMUKAN HIKMAH KEHIDUPAN
(Diambil dari Kitab al-Kafi fi Syarh Diwan
al-Syafi'i rahimahullahu ta'ala).
Berpisah Dengan
Sahabat Yang Dicintai
Manusia adalah makhluk yang lemah, tidak bisa hidup sendiri. Ia akan menjadi kuat ketika bersama. Demikian merupakan fitrah manusia membutuhkan kepada orang lain. Sehingga ketika ia berpisah dengan sahabat yang dicintai, maka ia akan merasa sedih. Imam Syafi’i memiliki kisah tersendiri berkaitan dengan persahabatan. Beliau memiliki sahabat yang dicintai, tetapi di tengah perjalanan mereka berpisah. Bagi Imam Syafi’i perpisahan tersebut membawa kesedihan dan luka tersendiri. Beliau kemudian bersenandung dengan terkait hal ini dalam syair berikut.
Betapa malangnya seorang
pemuda pada saat itu, ia hidup setelah para pecinta.
Umur seorang pemuda jika saja
ada digenggamannya, maka akan ia buang setelah kekasihnya.
Betapa malangnya seorang
pemuda pada saat itu, ia hidup setelah para pecinta. Bait
ini memiliki makna yang sangat dalam. Sebuah bentuk penyesalan setelah berpisah
dengan sahabat yang dicintainya. Dimana di antara mereka terhimpun mawaddah
dan mahabbah. Mawaddah
dan mahabbah memiliki makna yang sama, jika berada pada kata terpisah
yang bermakna rasa cinta. Namun, ketika 2 makna yang sinonim ini digabungkan
maka memiliki makna berbeda.
Mahabbah
bersifat umum, rasa cinta kepada siapapun baik kepada orang tua, saudara, teman
atau siapapun. Tetapi, kadang-kadang ada kalanya cinta itu tidak berbalas. Atau
cinta itu hadir namun ada ketidakcocokan. Sedangkan mawaddah lebih dalam
dari mahabbah, mawaddah memiliki 2 syarat yakni ada rasa cinta dan
kecocokan. Ketika mahabbah sangat memungkinkan bertepuk sebelah tangan,
tetapi ketika mahabbah tidak bertepuk sebelah tangan. Bait ini
menggambarkan merananya seseorang berpisah dengan sahabat yang dicintai.
Umur seorang pemuda jika saja
ada digenggamannya, maka akan ia buang setelah kekasihnya. Bait
ini juga menggambarkan begitu dalamnya rasa penyesalan ketika berpisah dengan
sahabat. Seakan-akan hidup ini sudah tidak ada gunanya lagi, karena berpisah
dengannya. Ini menunjukkan bahwa persahabatan itu harus dijaga dan
dirawat. Syair merupakan ungkapan yang muballagah
(berlebihan), untuk
menggambarkan persahabatan itu merupakan sesuatu yang berharga yang harus
dijaga.
Ukhuwah adalah anugerah yang
suci yang bersifat ilahiyyah yang diberikan oleh Allah bagi orang-orang yang
ikhlas dari kalangan hamba- hambaNya. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anfal
ayat 63:
وَاَلَّفَ
بَيْنَ قُلُوْبِهِمْۗ لَوْاَنْفَقْتَ مَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مَّآ اَلَّفْتَ
بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ اَلَّفَ بَيْنَهُمْۗ اِنَّهٗ عَزِيْزٌ
حَكِيْمٌ
Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang
beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi,
niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah
mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana.
Sehingga, yang membuat
bersatunya hati orang beriman adalah anugerah dari Allah SWT.
Allah SWT berfirman QS. Ali
Imran 103
وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً
فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ …
… dan
ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan,
lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi
bersaudara, …
Persahabatan
antara mukmin yang satu dengan lainnya merupakan anugerah. Sebenarnya Imam
Syafii ingin mengatakan hal ini, namun dalam sebuah syair yang menyayat hati.
Perasaan
bersaudara atau bersahabat atau ukhuwah akan melahirkan pada jiwa orang-orang
mukmin yakni sifat simpati dan murah hati yang
paling kuat. Akan melahirkan kejujuran yang paling tulus. Menjadikan
seseorang itu saling menolong dan mengutamakan orang lain, rasa kasih sayang
dan memaafkan.
Ukhuwah
(persaudaraan) karena Allah merupakan sifat yang melekat dengan keimanan
dan untaian yang menyertai pada takwa. Tak ada ukhuwah (persaudaraan) tanpa iman dan tidak iman tanpa ukhuwah. Allah SWT berfirman QS. Al
Hujurat ayat 10
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu
bersaudara, ...
Tidak ada persahabatan tanpa takwa dan tidak ada takwa tanpa persahabatan. Sebagaimana firman Allah QS. Az-Zukhruf ayat 67.
اَلْاَخِلَّاۤءُ يَوْمَىِٕذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ
ۗ ࣖ
Teman-teman karib pada hari itu
saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa
Ibnul Mubarak rahimahullah
berkata,
مَنِ اسْتَخَفَّ بِالْعُلَمَاءِ ذَهَبَتْ آخِرَتُهُ وَمَنِ
اسْتَخَفَّ بِالْأُمَرَاءِ ذَهَبَتْ دُنْيَاهُ وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالْاِخْوَانِ
ذَهَبَتْ مُرُوءَتُهُ.
“Barangsiapa yang meremehkan
ulama, hilanglah akhiratnya (kebahagiaan akhiratnya). Barangsiapa meremehkan
pemimpin (yang sholih & adil) diantara kalian, maka hilanglahlah kebhagiaan
dunianya. Dan barangsiapa meremehkan saudaranya maka akan hilanglah
kehormatannya.”
Diantara adab bersahabat adalah tidak memutuskan persahabatan setelah menyambung persahabatan dan tidak menolak setelah menerimanya. Ada ungkapan dari Imam Bukhari, beliau mengatakan: Seorang mukmin yang tanpa sahabat masih lebih baik daripada mukmin yang banyak musuh.
Abu Husain Al-Warraq
berkata: Aku bertanya kepada Abu Usman tentang الصُّحْبَة (persahabatan). Ia berkata الصُّحْبَة
kepada Allah adalah adab yang baik. Dengan mendawamkan mengagungkan dan merasa
dalam pengawasan Allah SWT. الصُّحْبَة kepada Rasulullah adalah terikat
dengan ilmu dan mengikuti sunnahnya. Adapun الصُّحْبَة
kepada para aulia (wali allah) dengan memuliakan atau berkhidmat (melayani)
kepadanya. الصُّحْبَة kepada saudara adalah dengan
menampakkan suasana riang gembira, menampakkan kesederhanaan tanpa mengingkari
mereka, selama tidak melakukan pelanggaran syariat atau mencederai kehormatan
mereka.
Berkata Abu Muhammad al-Mughazili berkata barang siapa mencintai atau
menginginkan langgengnya mawaddah, hendaklah ia menjaga kecintaan
saudara-saudaranya yang telah lalu (merawat rasa cinta)
Berkata para ahli hikmah dari kalangan ulama salaf : “Pergaulilah manusia
dengan sebuah pergaulan yang jika kalian tidak ada, mereka akan bersimpati pada
kalian. Ketika kalian mati, mereka akan menangisi kalian”.
Ditanya Abu Usman al-Hirry : Bagaimana cara seorang muslim bersahabat
dengan satu ketentuan yang memberikan keselamatan? Beliau berkata: “Lapangkanlah
atas saudaranya terkait dengan hartanya. Jangan tamak dengan hartanya. Bersikap
adil dan jangan menuntut dia bersikap adil kepadamu. Dengan memperbanyak
kebaikan dan memuliakan sahabat lebih dari diri sendiri.
Muhammad bin Ahmad al-Farra: Orang mukmin itu adalah orang yang senantiasa
menghadirkan uzur (husnuzhan dan memaklumi) untuk saudaranya. Orang munafik itu
senantiasa menyalahkan kesalahan atau kecerobohan mereka.
Disampaikan oleh guru kami Ustadz Yuana Ryan Tresna
Dari Mahad Khadimus Sunnah Bandung
Kamis, 30 Maret 2023

Tidak ada komentar:
Posting Komentar