HADIST HASAN
Hasan secara bahasa adalah sesuatu yang disukai jiwa. Sedang menurut istilah, hasan adalah hadits yang bersambung sanad-nya, diriwayatkan oleh rawi yang adil, yang taraf ke-dhabitannya lebih rendah dari rawi hadits shahih, serta tidak ada syadz dan illah. Dengan demiikian maka syarat hadits hasan ada lima:
1. Bersambung sanad-nya.
2. Adil rawinya.
3. Dhabit rawinya (yang dimaksud, ke-dhabit-annya lebih ringan dari rawi hadits sahih)
Kuat
hafalannya, boleh riwayat dengan makna (fokus pada makna). Karena berbeda dengan
alqur’an yg lafaz nya harus persis sama. Menguasai pesan yang terdapat di dalam
matan hadist tersebut. Disyaratkan orang yang faham bahasa, sehingga tidak
jatuh pada rapuhnya lafaz.
4. Kosong dari syadz (menyelisihi, bisa terjadi pada sanad ataupun matan)
5. Kosong dari ‘illah (cacat/
kelemahan yang tersembunyi, baik pada sanad ataupun matan).
Dari penjelasan ini bisa diketahui bahwa syarat-syarat hadits hasan sama
dengan syarat-syarat sahih kecuali syarat ketiga, yaitu dhabt. Karena dhabt
pada hadits sahih disyaratkan berada pada derajat yang tertinggi, sedang dalam
hadits hasan tidak disyaratkan demikian, tetapi cukup dengan dhabt yang ringan.
Contohnya: Hadits riwayat Muhammad bin Amr bin Alqamah dari Abi Salamah dari Abu
Hurairah. Muhammad bin Amr ini dikenal dengan
kejujurannya, tetapi hafalannya tidak di level puncak (ringan).
Hadits hasan sama dengan hadits shahih, dalam hal kelayakan dibuat hujjah
(dalil, dasar hukum) dan diamalkan, walaupun kekuatannya lebih rendah. Oleh
karenanya hadits sahih lebih dimenangkan ketika terjadi pertentangan hukum.
Karena taraf hadits shahih lebih tinggi dari pada hadits hasan, mengingat
derajat rawi-rawi hadits hasan di bawah rawi-rawi hadits sahih dalam hal
hafalan dan ke-dabit-an. Para rawi hadits shahih berada pada puncak kedhobitan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar