Rabu, 17 April 2024

HADIST QUDSI, PERBEDAAN ANTARA HADITS QUDSI DAN AL-QUR'AN


 


HADIST QUDSI

Disbatkan pada quds ( القدس ). Quds ( القدس ) bermakna bersih dan suci. Hadits Qudsi disebut hadist Ilahi yang dinisbat pada Ilahi, dan hadis robbani yang dinisbatkan pada Rabb Jalla wa Ala.

Hadist Qudsi menurut istilah adalah: sesuatu yang disandarkan Rasulullah kepada tuhannya selain dari al-Quran. Contoh Hadist Qudsi

  قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :  قال الله تبارك وتعالى : ياعبادي إني حرمت الظلم على نفسي وجعلته بينكم محرما فلا تظلموا

        Dinamakan hadist karena termasuk perkataan Rasulullah, dan diriwayatkan beliau dari tuhannya. Dan dinamakan Qudsi, karena disandarkan kepada Rabb, dari sisi  Allah yang berbicara dan Allah Maha Suci dari sesuatu yang tidak layak bagi-Nya. Dari mengetahui hakikat hadist Qudsi, nampak perbedaan antara hadist Qudsi, al-Qur’an dan hadist nabi.

 

PERBEDAAN ANTARA HADITS QUDSI DAN AL-QUR'AN

Al-Quran memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh hadits, keistimewaan ini sekaligus membedakan antara Al-Qur’an dan hadits, yaitu:

1. Al-Qur’an adalah sebuah mukjizat yang abadi sepanjang masa, terjaga dari perubahan dan penggantian, mutawatir lafadznya dalam semua kata, huruf dan gaya bahasanya.

2.   Terlarang  meriwayatkannya secara makna.

3.  Haram menyentuhnya bagi orang yang berhadas, haram pula membacanya bagi orang yang junub dan semisalnya.

4.  Dibaca dalam shalat.

5.  Dinamakan Al-Qur’an.

6.  Menjadi ibadah dengan membacanya dan setiap huruf menyamai sepuluh kebaikan.

7. Penamaan dalam jumlah tertentu dengan sebutan ayat, dan kumpulan dari ayat-ayat dalam jumlah tertentu dengan sebutan surat.

8. Lafaz dan maknanya berasal dari Allah Ta’ala, dengan wahyu yang jelas dan ini sudah menjadi kesepakatan ulama’. Berbeda dengan hadits, hadits tidak memiliki kriteria-kriteria ini.

 

MACAM-MACAM  HADIST

Mayoritas ulama membagi hadits nabi  menjadi dua macam, yaitu: maqbul (diterima) dan mardud (ditolak).

Hadits maqbul artinya pembawanya (para rawi) yang menukil dan membawa hadits, telah terpenuhi pada diri mereka syarat-syarat diterima. Karena itulah hadits yang mereka nukil diterima di kalangan ulama

Hadits mardud maknanya pada diri para rawi yang menukil dan membawa hadits tidak terpenuhi syarat-syarat qabul. Karena itulah hadits yang mereka nukil ditolak.

Hadits maqbul adalah yang diistilahkan ulama musthalah dengan hadits sahih atau hasan, sedangkan hadits mardud adalah yang diistilahkan oleh ulama dengan hadits dhaif.

Terkadang  sifat-sifat qabul terpenuhi sempurna pada diri seorang rawi dan terkadang berkurang sedikit. Maka hal tersebut menjadikan hadits maqbul terbagi menjadi dua derajat : derajat tertinggi dan derajat sedikit di bawahnya. Hadits yang tercakup sifat-sifat qabul tertinggi disebut hadits shahih, dan yang tercakup sifat-sifat qabul sedikit di bawahnya disebut hadits hasan. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa hadits itu terbagi menjadi tiga yaitu: Shahih, Hasan, dan Dhoif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan Pelajaran Kritik Matan Hadist

"Kritik Matan Menurut Ahli Hadis: Studi Teoretis dan Praktis" Penulis : Ibrahim bin Muhammad al-Sa'wi Pendahuluan            ...