Jumat, 05 April 2024

Mengenal Istilah Asahhu Syain Fii Hadza al Bab

 


Catatan Pelajaran Ketiga

Macam-Macam Asahhu Syain (Hadist yang Paling Shahih)

1.  Ketika Imam Tirmidzi menghukumi hadistnya dengan shahih dan dhoif, maka istilah Asahhu Syain ketika hukum hadistnya shahih, maka hukum hadistnya adalah shahih dan ia adalah yang paling shahih dari semua hadist yang berkaiatan, dan seandainya hukum hadistnya adalah dhoif , maka seluruh hadistnya  dhoif, dan hadist tersebut yang paling kuat diantara hadist yang dhoif tersebut.

 

2.   Ketika Imam Tirmidzi menggunakan istilah ini, sedangkan hadistnya tidak dihukumi dengan shahih dan dhoif, maka kemungkinan hukum hadistnya antara shahih dan dhoif, akan tetapi ia lebih kuat dibanding yang lain

 

Imam Tirmidzi Menghukumi Hadistnya Dengan Shahih


        Pada hadist di atas إذا دخل , menggunakan fi’il madhi. Yang menjadi pertanyaan apakah membacanya setelah masuk toilet atau sebelum masuk. Dalam kitab Adabul Mufrod ada riwayat dari Sa’id bin Zaid dari Abdul Aziz dari Anas bin Malik, beliau berkata:

كَانَ  النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا أَرَادَ أنْ يَدْخُلَ الْخَلَاءَ قَالَ : اَللّٰهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

Hadist kedua ini menggunakan إذَا أَرَادَ (jika ingin). Menggabungkan 2 hadist tersebut maka baca do’anya adalah sebelum masuk toilet. Akan tetapi Ibnu Hajar menjelaskan bahwasanya doa ini dibaca ketika hendak masuk toilet di tempat yang tertutup (tempat khusus buang hajat). Bagaimana dengan tempat terbuka? Maka membaca doanya sebelum keluar hajatnya. Riwayat Ahmad bin Abdah ada di dalam riwayat Imam Muslim dan Sunan Darimi.

# Kaidah ‘Abdah ( عبدة ) : semua tulisan عبدة dibaca ب-nya sukun, kecuali ada 2 rawi yang 

ب-nya fathah ‘amir bin abadah dan bajalah bin abadah (بجالة بن عبادة ).

 

Imam Tirmidzi Menghukumi Hadistnya Dengan Shahih

Kaidah Membaca Rawi

#   Qutaibah ( قتيبة ) – Tafarruda bismihi (Maksudnya menyendiri dalam penamaan nama Qutaibah, nama Qutaibah dalam kutubu sittah hanya ada 1 orang). Namanya adalah Qutaibah bin Sa’id ( قتيبة بن سعيد )  (Tabaqot 10)

#   Hannad ( حناد ) – Tafarruda bismihi, nama lengkapnya Hannad Ibn Sariy ( حناد ابن سري )

#   Waqi’ ( وكيع ) – Ismun lil jama’ati (Maksudnya nama untuk banyak orang). Tapi, jika dimutlakkan tidak menggunakan bin, maka Waqi’ tersebut adalah Waqi’ Ibnu al Jarrah ( وكيع ابن الجراة )  (Tabaqot 9)

 

Dalam fiqh membaca hadist, ketika ada riwayat وَقَدْ قَالَ مَرَّةً أُخْرَى  قَالَ شُعْبَةُ : sebetulnya dalam redaksinya adalah وَقَدْ قَالَ مَرَّةً أُخْرَى , maka harus disebutkan siapa yang berkata demikian.

Misalnya أَعُوْذُ بِاللّهِ اَللّٰهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ - وَقَدْ قَالَ مَرَّةً أُخْرَى , karena nabi tidak berkata demikian.   Sebab itu adalah riwayat yang lain, ada yang mengatakan أَعُوذُ بِكَ ada juga yang mengatakan أَعُوْذُ بِاللّهِ .

مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ  مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَيْثِ أَوْ قَالَ :

Ketika ada أَوْ dalam fiqh membaca hadist maka ada قَالَ , ada 2 riwayat

Hadist Anas bin Malik ini adalah hadist yang paling shahih yang berkaitan dengan bab: Apa yang diucapkan ketika masuk toilet. Berarti riwayat berkaitan dengan hadist ini banyak. Riwayat Syu’bah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dikuatkan oleh Imam Muslim dan Abu Daud.

Urutan Kekuatan Hadist

1.      Muttafaq ‘Alaih (Riwayat Bukhari-Muslim)

2.      Apa yang diriwayatkan Imam Bukhari

3.      Apa yang diriwayatkan Muslim

4.      Syarat Imam Bukhari-Muslim

5.      Syarat Imam Bukhari

6.      Syarat Imam Muslim

7.      Disyaratkan oleh selain Bukhari-Muslim

 

Jika kita perhatikan, hadist pertama dari Hammad bin Zaid muridnya Abdul ‘Aziz bin Shuhaib diriwayatkan oleh Imam Muslim saja, berarti ditingkatan yang ke-3. Sementara Riwayat Syu’bah diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, berarti tingkatan ke-1 (Muttafaq ‘Alaih)

Imam Tirmidzi Menghukumi Hadistnya Dengan Dhaif


Imam Tirmidzi Tidak Menghukumi Haditsnya

#   Kaidah Imam Zuhri : Nisbah Khusus, ketika dimutlakkan nisbahnya Zuhri yang dimaksud adalah Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Abdillah bin Syihab az-Zuhri (Tabaqoh 4). Madar hadist ini ada di Imam Zuhri .

 

Bab tentang Larangan untuk Menghadap ke Arah Kiblat, Buang Hajat atau Buang Air Kecil

            Pada hadist ke-8 ini, imam Tirmidzi tidak memberikan hukum hadist, Jika melihat dari rawi hadistnya tsiqoh maka, kemungkinan hadist tersebut dihukumi shahih. Nabi Saw bersabda " Jika engkau buang hajat maka janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya, baik buang air besar ataupun air kecil. Akan tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat." Abu Ayyub al-Anshori berkata; "Ketika kami tiba di Syam, kami mendapati WC, dibangun menghadap arah kiblat, maka kami menggeser arah kami dan beristighfar kepada Allah. Istighfar ini bisa jadi karena Abu Ayyub sempat menghadap kiblat, baru kemudian menggeser. Dalam bab ini hadits riwayat Abu Ayyub adalah yang paling baik dan paling shahih, Hadist ini juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Imam Nawawi dalam syarah Muslim menjelaskan ulama berbeda pendapat dalam masalah menghadap atau membelakangi kiblat, terdapat 4 mazhab sebagai berikut.

1.    Mazhab Imam Malik dan Imam Syafi’i  dalam hal buang air kecil dan besar, haram  menghadap / membelakangi kiblat di tempat terbuka dan tidak haram menghadap/ membelakangi kiblat di dalam bangunan (yang dibangun khusus untuk buang air kecil dan besar).

2.      Madzhab Abu Ayub al Anshori:  tidak boleh menghadap kiblat di tempat terbuka atau tertutup

3.      Mazhab Urwah bin Zubair : boleh menghadap kiblat baik di tempat terbuka ataupun tertutup

4.    Mazhab Abu Hanifah dan Imam Ahmad : tidak boleh menghadap kiblat di tempat terbuka ataupun tertutup, tetapi yang tidak boleh adalah menghadap saja, sementara membelakangi kiblat boleh di tempat terbuka atau tertutup.

 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan Pelajaran Kritik Matan Hadist

"Kritik Matan Menurut Ahli Hadis: Studi Teoretis dan Praktis" Penulis : Ibrahim bin Muhammad al-Sa'wi Pendahuluan            ...