Jumat, 10 Mei 2024

Pembahasan Hadist Tirmidzi Nomor 1-3


 Pembahasan Hadist Tirmidzi Nomor 1-3


Rawi Hadist

Qutaibah : Tafarrada bismilihi namanya Qutaibah bin Sa’id

Abu ‘Awanah  أَبُوا عَوَانَة  (Madar Sanad) : tafarrada bi kunyatihi (menyendiri dalam kunyah), nama beliau al-Waddhoh  Ibnu Abdillah al Yasyfuri

Hannad : Tafarrada bismilihi namanya Hannad bin Sariy

Waqi’ ( وكيع ) – Ismun lil jama’ati (Maksudnya nama untuk banyak orang). Tapi, jika dimutlakkan tidak menggunakan bin, maka Waqi’ tersebut adalah Waqi’ Ibnu al Jarrah ( وكيع ابن الجراة )  (Tabaqot 9) 

“ Tidak diterima sholatnya tanpa bersuci (wudhu), tidak ada sedekah dari harta ghulul”

Ghulul (khianah) : harta yang haram, yaitu mencuri bagian harta ghanimah sebelum dibagikan pemimpin pasukan. Hadist ini memiliki 2 jalan, jalan yang pertama Qutaibah bin Sa’id dan Jalan kedua Hannad bin Sariy. Sanad Qutaibah lebih tinggi daripada Hannad, karena dari Qutaibah ke Simak perlu 1 orang saja yakni Abu ‘Awanah. Sementara jalan Hannad ke Simak perlu 2 orang yakni Waqi’ dan Israil.  

Abu Isa berkata, "Hadits ini adalah hadits yang paling shahih dalam bab ini, dan yang paling hasan." Semua perawinya tsiqot kecuali Mus’ab bin Sa’id shaduq. Hadist ini juga terdapat dalam shahih Muslim. Meski Mus’ab bin Sa’id shaduq karena banyaknya jalan, maka menjadi shahih. Dalam bab ini terdapat mutaba’ah (penguat), yakni riwayat hadits dari Abu Malih dari ayahnya, Abu Hurairah dan Anas bin Malik.  Riwayat Abdul Malih diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasa’i, dan Ibnu Majah. Riwayatnya  Abu Hurairah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dengan lafadz yang berbeda.  Riwayatnya Anas bin Malik terdapat dalam Sunan Ibnu Majah. Abu Malih (nama kunyah) bin Usamah namanya adalah Amir, ada yang mengatakan Zaid bin Usamah bin Umair Al Hudzali. Biasanya dalam masalah pendapat, maka pendapat yang pertama biasanya lebih kuat, apabila ada kata قيل  atau يقال  ini merupakan pendapat yang lemah.


Rawi Hadist

Anshori: jika dimutlakkan, nisbatnya ada 2. yaitu 1).gurunya Imam Tirmidzi Ishaq bin Musa (Dalam Sunan Tirmidzi) dan 2). Gurunya Imam Bukhari – Muhammad bin Abdillah bin Mutsanna  (Dalam Shahih Bukhari)

Ma’an bin ‘Isa – Tafarrada bismihi

 

Imam Tirmidzi terkadang menghadirkan sanad yang ‘ali dulu baru yang nazil. Sedangkan di hadist ini beliau menghadirkan sanad yang nazil dulu baru yang ‘ali. Karena untuk mencapai ke Imam Malik  perlu Anshori dan Ma’an bin ‘Isa (2 rawi), sementara jalur Qutaibah perlu 1 orang saja.

Abu Shalih, Ayahnya Suhail, dia adalah Abu Shalih as Samman namanya Zakwan. Syekh Mubarakfuri pengarang Tufahatul Ahwadzi mengkritisi bahwa ini secara nampak namanya adalah Zakwan, orang yang paling rendah ilmunya tentang hadist. Karena Imam Tirmidzi telah menjelaskan siapa namanya.

Apabila seorang muslim atau seorang mukmin berwudhu lalu ia membasuh mukanya, maka dari wajahnya akan keluar setiap kesalahan yang dilihatnya dengan kedua matanya bersamaan dengan air atau tetesan air yang terakhir, atau seperti ini. Apabila ia membasuh kedua tangannya, maka dari kedua tangannya keluar semua kesalahan yang dibasuh dengan air ­atau bersamaan dengan tetesan air yang terakhir­ sehingga ia keluar dengan bersih dari dosa "

 

Fiqh membaca hadist أَوْ – rawi itu ragu (syak) apakah nabi mengatakan المسلم atau المؤمن  maka ada kata قال  yang tersembunyi setelah kata أَوْ . Yang ragu adalah rawi, sementara Nabi tidak pernah ragu. 

حتى يخرج  tartibnya adalah sampai wudhu yang paling akhir, penjelasan hadistnya sampai tangan namun yang dimaksud semua anggota wudhu. Imam Tirmidzi berkata hadist ini hasan shahih. Menurut Hafidz Ibn Rajab al-Hanbali: Hasan Shahih adalah istilah khusus at-Tirmidzi akan keshahihan suatu hadits, dan kebanyakan haditsnya dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, atau dikeluarkan oleh Bukhari saja atau Muslim saja, atau syarat hadits shahih selain Bukhari dan Muslim.

Abu Hurairah diperselisihkan tentang namanya. Ada yang mengatakan Abdu Syams dan ada yang mengatakan Abdullah bin Amr. Pendapat yang paling shahih menurut Imam Tirmidzi adalah Abdullah bin Amr. Ibnu Hajar berkata dalam kitab Taqrib, Abu Hurairah (Hafiz, sahabat) diperselisihkan namanya dan nama orang tuanya. Ada pendapat yang mengatakan Abdurrahman bin Sahr, sampai menyebutkan 19 pendapat dan diperselisihkan mana yang lebih rajih. Mayoritas lebih cenderung kepada pendapat yang pertama Abdurrahman bin Sahr. Pada bab ini ada mutabaah  -hadits ini diriwayatkan dari Utsman bin Affan, Tsauban dan Shunabihi, Amr bin Abasah, Salman dan Abdullah bin Amr (5 jalan).

Shunabihi meriwayatkan dari Abu Bakar Ash ­Shiddiq (ia tidak mendengar dari RasulluIIah SAW). Namanya adalah Abdurrahman bin Usailah, dan ia dijuluki Abu Abdillah. Ia ingin bertemu dengan Nabi SAW, di tengah perjalanan Nabi Saw meninggal. Beliau meriwayatkan beberapa hadits dari Nabi SAW. Shunabihi bin Al A'sar Al Ahmasi (seorang sahabat Nabi SAW yang dipanggil dengan nama ­Shunabihi) namun hadistnya hanya satu. Beliau menyebutkan hadits: Aku mendengar Nabi SAW bersabda, "Dengan sebab kalian aku memperbanyak umat, maka janganlah kalian saling membunuh setelah wafatnya  aku."

Di dalam bab ini ada riwayat Shunabihi, apakah Riwayat hadist shahih atau dhoif? Shunabihi muridnya Abu Bakar Ash ­Shiddiq bukan sahabat, jika meriwayatkan hadist dari Nabi Saw maka hadistnya mursal. Karena ada sanad sahabat yang dilewati. Sedangkan Shunabihi bin Al A'sar Al Ahmasi (sahabat Nabi SAW). Riwayat hadistnya hanya ada satu, maka riwayat hadist ini dhoif

           


 Hannad, Qutaibah, dan Mahmud bin Ghailani disatukan, berarti memiliki kemiripan atau satu lafaz. Sedangkan Imam Muslim ketika menggabungkan sanad seperti ini (menjaga kewara’an), beliau akan memilih salah satu lafadz misalnya hadist ini lafaz Qutaibah.

Kaidah غَيْلَان  ada 3 yaitu Ghailan Ibnu Jarir, Yahya Ibnu Ghailan, dan Mahmud Ibnu Ghailan

Muhammad bin Basyar  lebih dikenal dengan laqobnya yaitu Bundar

Ibnu Madini berkata orang yang paling pakar dalam ilmu hadist adalah Ibnu Mahdi. Abu Hattim berkata : imam,  tsiqot, lebih tsiqot dari Yahya bin Sa’id al Qatthan lebih kuat dari Waqi’. Imam Ahmad bin Hambal berkata jika Abdurrahman bin Mahdi meriwayatkan hadist, kemudian berkata عنل رجل  maka tidak perlu ditanya lagi. Karena beliau tidak akan meriwayatkan kecuali rawi yang tsiqot dan bisa menjadi hujjah. رجل dalam hadist mubham bisa menjadikan hadist tersebut dhoif. Qawariri berkata Imam Abdurrahman bin Mahdi mengimlakan kepada kami 20.000 hadits dari hafalannya. 

Aqil (عقيل ) semua difathah ‘ainnya dibaca عَقِيْل kecuali 2 orang, dibaca dhommah ‘ainnya, yaitu Uqail bin Khalid dan Yahya bin Uqail. Jika Uqail dimutlakkan berarti Uqail bin Khalid.

"Kuncinya shalat adalah bersuci, sedangkan yang menjadikan pengharamannya (untuk mengerjakan amalan atau ucapan diluar shalat) adalah takbir (Takbiratul ihram) dan yang menghalalkannya (sebagai tanda selesainya shalat, dan bolehnya melakukan apa yang dilarang saat shalat) adalah salam."

Abu Isa berkata, "Hadits ini paling shahih dalam bab ini dan paling baik.

            Permasalahannya ada di Abdullah bin Muhammad bin Aqil, beliau shaduq. Sebagian ulama hadist mengkritik beliau karena hafalan beliau. Abu Hattim berkata dan selainnya layyinul hadist (tingkatan dhoif yang paling ringan). Ibnu Khuzaimah berkata tidak bisa dijadikan hujjah, … Imam Tirmidzi menyikapi hal ini, berkata "Aku mendengar Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari) berkata, guru saya Ahmad bin Hambal, guru saya Ishaq bin Ibrahim, dan guru saya Al Humaidi, mereka semua berhujjah dengan hadits Abdullah bin Muhammad bin Aqil. Muhammad berkata, هو مقارب الحديث . مقارب الحديث termasuk ke dalam lafaz ta’dil.

            Menurut syaikh Mubarakfuri yang rajih adalah hadist Riwayat Ali bin Abi Tholib adalah hasan dan boleh dijadikan hujjah. Ada beberapa hadist yang menjadi syawahid (penguat) hadist ini. Abu Isa berkata, di dalam bab ini terdapat hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah dan Abu Sa'id al Khudry . Hadist Abu Sa'id al Khudry akan disampaikan Imam Tirmidzi dalam bab sholat, setelah menampilkan hadist Ali bin Abi Tholib nanti di bab sholat. Imam Tirmidzi berkata hadist Ali bin Abi Tholib ini lebih bagus sanadnya dan lebih shahih dibandingkan Riwayat Abu Sa'id al Khudry. Ada penguat yang tidak dicantumkan Imam Tirmidzi berkaitan dengan bab ini, dari Abdullah bin Zaid, Abdullah Ibn Abbas dan selain mereka berdua. Kita bisa mendapatkannya dalam Talkhishul Habir karya Ibnu Hajar

            






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan Pelajaran Kritik Matan Hadist

"Kritik Matan Menurut Ahli Hadis: Studi Teoretis dan Praktis" Penulis : Ibrahim bin Muhammad al-Sa'wi Pendahuluan            ...