Minggu, 14 Juli 2024

Mabadi Asyrah Ilmu Balaghah

 

Catatan Pelajaran ke-1

Mabadi Asyrah Ilmu Balaghah 

Mengapa Belajar Balaghah?

Makhluf bin Muhammad al-Badawi dalam Hasyiyah-nya atas Hilyat al-Lubb Syarh al-Jawhar al-Maknûn karya al-’Allamah Ahmad al-Damanhuri menggambarkan fungsi aksiologis dari ilmu balaghah untuk memahami kemukjizatan al-Qur’an:

إنّ فنّ البالغة من بينها حمتو على أسباب النجاح، ومنطو على قواعد الفالح، إذ غايته نيل السعادة العظمى من معرفة إعجاز القرآن.

Sesungguhnya ilmu balaghah di antara kandungannya mengantarkan kepada sebab-sebab keberhasilan hidup, mengandung kaidah-kaidah meraih keberuntungan, dimana tujuan akhirnya adalah meraih kebahagian yang paling agung, yakni mengenal kemukjizatan al-Qur’an.

 

v  Definisi Ilmu Balaghah

Definisi Balaghah (البالغة) secara bahasa mengandung dua konotasi, yakni: sampai pada tujuan  (الغاية إىل الوصول) dan baiknya penjelasan (البيان حسن)

Definisi  Balaghah, secara istilah (terminologis) didefinisikan ulama balaghah yakni:

 أن يكون الكالم مطابقًا ملقتضى أحوال املخاطبني مع فصاحته

(Kemampuan) mewujudnya perkataan sesuai dengan keadaan pihak-pihak yang diajak bicara disertai kefasihannya.”

 

Dalam pengertian yang lebih komperhensif

 العلمُ الذي تُعرَف به فصاحة الكالم، مع مناسبته للمقام، ووفائه باملعنى املراد مع مجال األسلوب

Suatu ilmu yang diketahui dengannya kefasihan dalam kalimat, disertai kesesuaiannya dengan al-maqâm (keadaan orang yang diajak bicara), dan kemapanannya menyampaikan pada makna yang dimaksud dengan memperhatikan keindahan uslûb-nya (cara pengungkapannya)

 

v  Objek kajian Ilmu Balaghah

Berbagai jenis cara pengungkapan ungkapan berbahasa arab (al-asâlîb al-’arabiyyah) dengan tetap memperhatikan al-maqâm (keadaan pihak yang diajak bicara), yang diungkapkan dengan susunan kalimat tertentu (yang sesuai), efektif menyampaikan kepada maksud, disertai keindahannya

 

v  Buah mempelajari Ilmu Balaghah

          ·    Membantu memahami al-Qur’an al-Karim dan al-Sunnah al-Nabawiyyah

      ·   Membantu al-mutakallim (orang yang berbicara) agar mampu menyusun susunan kalimat yang balîghah

 

v  Nisbat (Relevansi) Ilmu Balaghah dengan Ilmu Lainnya

Ilmu balaghah (ilmu al-ma’ânî, al-bayân dan al-badî’) mencakup tiga ilmu dari tiga belas cabang ilmu-ilmu bahasa arab. Dimana nisbat ilmu ini dengan ilmu-ilmu lainnya adalah disiplin ilmu tersendiri yang berbeda dengan disiplin ilmu lainnya, meskipun ada irisan keterkaitan, dimana sebagian sebagian pembahasan ilmu balaghah bersinggungan dengan ilmu-ilmu lainnya dalam sebagian topik pembahasan, semisal dengan ilmu ushul fikih, ilmu tafsir, dan ilmu nahwu

 

v  Keutamaan Ilmu Balaghah

Diantara seutama-utamanya ilmu lisan. Dengan ilmu ini kita dapat memahami aspek kemukjizatan Kitabullah (al-Qur’an) dan keistimewaan sunnah Nabi

 

v  Peletak Dasar Ilmu Balaghah

Terdapat perbedaan pendapat soal peletak dasar ilmu balaghah, dirinci sesuai dengan ruang lingkup ilmu balaghah mencakup: ilmu al-ma’ânî, ilmu al-bayân dan ilmu al-badî’.

1.  Peletak dasar pertama ilmu al-ma’ânî: para ulama ahli nahwu, semisal al-Imam al-Khalil bin Ahmad (w. 170 H) dan muridnya, yakni Sibawaih, diikuti oleh al-Jahizh kemudian Qudamah bin Ja’far.

2.  Peletak dasar ilmu al-bayân: Abu ’Ubaidah Ma’mar bin al-Mutsanna dengan kitabnya, Majâz alQur’ân, diikuti oleh al-Jahizh, Ibn al-Mu’tazz, Qudamah bin Ja’far, Abu Hilal al-’Askari kemudian Abdul Qahir al-Jurjani.

3. Peletak dasar ilmu al-badî’: disebut-sebut yakni Khalifah Bani Abbasiyyah, Abdullah bin al-Mu’tazz al-’Abbasi (w. 274 H) dalam kitabnya, Al-Badî’, yang mengumpulkan dan menyajikan berbagai bukti seni keindahan (al-muhassinât) dalam sya’ir, diikuti oleh Qudamah bin Ja’far (w. 319 H) dengan kitabnya, Naqd al-Syi’r, diikuti oleh al-Imam Abu Hilal al-’Askari (w. 395 H) yang telah mengumpulkan jenis al-badî’, dan lain sebagainya.

 

Adapun Abdul Qahir al-Jurjani (w. 471 H), maka ia merupakan peletak fondasi-fondasi bangunan mapan ilmu-ilmu ini dalam dua kitabnya, Dalâ’il al-I’jâz dan Asrâr al-Balâghah.

 

v  Penamaannya

Dinamakan  ilmu al-balâghah,  maka terkadang dinamakan pula ’ilmu al-bayân (menamakan suatu ilmu dari sesuatu yang menjadi bagiannya) adakalanya juga dinamakan  ’ilm al-badî’

 

v  Sumber Rujukan Ilmu Balaghah

Sumber rujukan utama ilmu balaghah adalah ayat al-Qur’an, hadits-hadits nabawiyyah, serta lisan arab (semisal sya’ir dan natsr arab).

 

v  Hukum Mempelajari Ilmu Balaghah

Hukum mempelajarinya adalah fardhu kifayah, namun menjadi fardhu ’ain bagi seseorang yang menjadi seorang mujtahid. Sebagaimana ilmu ini pun menjadi syarat mufassir, bahkan al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H) menjadikannya pada 3 syarat dari syarat-syarat mufassir dalam Al-Itqân

 

v  Pembahasan-Pembahasan Ilmu Balaghah

Dalam penjabarannya, ilmu balaghah membahas kalimat bahasa arab, dari segi ma’ani, bayân dan badî’-nya. Ilmu Ma’ani adalah ilmu yang diketahui dengannya  tadi suatu perkataan yang sesuai dengan keadaan orang yang diajak bicara. Ilmu Bayan adalah ilmu yang diketahui dengannya bagaimana cara mengungkapkan  suatu maksud dengan cara yang beragam dengan kejelasan uslubnya. Ilmu badi’ adalah mengetahui aspek ilmu seni (baik aspek kata atau makna)  dalam bahasa Alqur’an dan hadist .

 

Ø  Contoh Ilmu Bayan : Dari Al-‘Irbadh bin Sariyah r.a. ia berkata Rasulullah Saw bersabda:

 

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّينَ, عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

 

“Hendaklah kalian berdiri di atas sunahku, dan sunah para khalifah al khalifah al-râsyidîn al-mahdiyyîn (para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan menunjuki kepada kebenaran) setelahku, gigitlah oleh kalian hal tersebut dengan geraham yang kuat,” (HR. Ibn Majah, at-Tirmidzi, Ahmad)

Kalimat ilmu bayannya ada pada kalimat عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ (gigitlah oleh kalian hal tersebut dengan geraham yang kuat).  Makna yang dimaksud adalah berpegang tegunglah kepada sunah tersebut sekuat mungkin. Ungkapan ini termasuk majaz isti’arah

 

Ø  Contoh Ilmu ma’ani

Dari Tsauban ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda:

 

إِنَّمَا أَخَافَ عَلَى أُمَّتَي الأَئِمَّةَ المُضِلِّيْنَ

“Sesungguhnya yang aku khawatirkan atas umatku adalah para pemimpin yang (sesat) menyesatkan. (HR. At-Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad)

    Lafadz  إنما dibahas dalam teori ma’ani dalam pembahasan qasr. Fungsinya untuk mengkhususkan, menegaskan, menghilangkan keraguan. Nabi Saw mengungkapkan lafaz innama dan tanpa lafaz innama maka maknanya berbeda. Dengan adanya lafaz innama maka makna yang dimaksud sesungguhnya yang semata-mata aku khawatirkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.


Disampakan oleh guru kami  Ustadz Irfan Abu Naveed, M.Pd.I (Selasa, 4 Juni 2024) dalam Program Bahasa Arab Ngaji Subuh


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan Pelajaran Kritik Matan Hadist

"Kritik Matan Menurut Ahli Hadis: Studi Teoretis dan Praktis" Penulis : Ibrahim bin Muhammad al-Sa'wi Pendahuluan            ...