Catatan Pelajaran ke-1
Mabadi Asyrah Ilmu Balaghah
Mengapa Belajar
Balaghah?
Makhluf
bin Muhammad al-Badawi dalam Hasyiyah-nya atas Hilyat al-Lubb Syarh
al-Jawhar al-Maknûn karya al-’Allamah Ahmad al-Damanhuri menggambarkan
fungsi aksiologis dari ilmu balaghah untuk memahami kemukjizatan al-Qur’an:
إنّ فنّ البالغة
من بينها حمتو على أسباب النجاح، ومنطو على قواعد الفالح، إذ غايته نيل السعادة
العظمى من معرفة إعجاز القرآن.
Sesungguhnya ilmu balaghah di antara kandungannya mengantarkan kepada sebab-sebab keberhasilan hidup, mengandung kaidah-kaidah meraih keberuntungan, dimana tujuan akhirnya adalah meraih kebahagian yang paling agung, yakni mengenal kemukjizatan al-Qur’an.
v
Definisi Ilmu Balaghah
Definisi
Balaghah (البالغة) secara bahasa
mengandung dua konotasi, yakni: sampai pada tujuan (الغاية إىل الوصول)
dan baiknya penjelasan (البيان حسن)
Definisi Balaghah, secara istilah (terminologis)
didefinisikan ulama balaghah yakni:
أن يكون الكالم
مطابقًا ملقتضى أحوال املخاطبني مع فصاحته
(Kemampuan) mewujudnya perkataan sesuai dengan keadaan pihak-pihak
yang diajak bicara disertai kefasihannya.”
Dalam pengertian yang lebih komperhensif
العلمُ الذي تُعرَف به فصاحة الكالم، مع مناسبته للمقام، ووفائه
باملعنى املراد مع مجال األسلوب
Suatu ilmu yang diketahui dengannya kefasihan
dalam kalimat, disertai kesesuaiannya dengan al-maqâm (keadaan orang yang
diajak bicara), dan kemapanannya menyampaikan pada makna yang dimaksud dengan
memperhatikan keindahan uslûb-nya (cara pengungkapannya)
v Objek kajian Ilmu Balaghah
Berbagai jenis
cara pengungkapan ungkapan berbahasa arab (al-asâlîb al-’arabiyyah) dengan
tetap memperhatikan al-maqâm (keadaan pihak yang diajak bicara), yang
diungkapkan dengan susunan kalimat tertentu (yang sesuai), efektif menyampaikan
kepada maksud, disertai keindahannya
v Buah mempelajari Ilmu Balaghah
· Membantu
memahami al-Qur’an al-Karim dan al-Sunnah al-Nabawiyyah
· Membantu
al-mutakallim (orang yang berbicara) agar mampu menyusun susunan kalimat yang
balîghah
v Nisbat (Relevansi) Ilmu Balaghah
dengan Ilmu Lainnya
Ilmu balaghah
(ilmu al-ma’ânî, al-bayân dan al-badî’) mencakup tiga ilmu dari tiga belas
cabang ilmu-ilmu bahasa arab. Dimana nisbat ilmu ini dengan ilmu-ilmu lainnya
adalah disiplin ilmu tersendiri yang berbeda dengan disiplin ilmu lainnya,
meskipun ada irisan keterkaitan, dimana sebagian sebagian pembahasan ilmu
balaghah bersinggungan dengan ilmu-ilmu lainnya dalam sebagian topik pembahasan,
semisal dengan ilmu ushul fikih, ilmu tafsir, dan ilmu nahwu
v
Keutamaan
Ilmu Balaghah
Diantara seutama-utamanya
ilmu lisan. Dengan ilmu ini kita dapat memahami aspek kemukjizatan Kitabullah
(al-Qur’an) dan keistimewaan sunnah Nabi
v Peletak Dasar Ilmu Balaghah
Terdapat
perbedaan pendapat soal peletak dasar ilmu balaghah, dirinci sesuai dengan
ruang lingkup ilmu balaghah mencakup: ilmu al-ma’ânî, ilmu al-bayân dan ilmu
al-badî’.
1. Peletak
dasar pertama ilmu al-ma’ânî: para ulama ahli nahwu, semisal al-Imam al-Khalil
bin Ahmad (w. 170 H) dan muridnya, yakni Sibawaih, diikuti oleh al-Jahizh kemudian
Qudamah bin Ja’far.
2. Peletak
dasar ilmu al-bayân: Abu ’Ubaidah Ma’mar bin al-Mutsanna dengan kitabnya, Majâz
alQur’ân, diikuti oleh al-Jahizh, Ibn al-Mu’tazz, Qudamah bin Ja’far, Abu Hilal
al-’Askari kemudian Abdul Qahir al-Jurjani.
3. Peletak
dasar ilmu al-badî’: disebut-sebut yakni Khalifah Bani Abbasiyyah, Abdullah bin
al-Mu’tazz al-’Abbasi (w. 274 H) dalam kitabnya, Al-Badî’, yang mengumpulkan
dan menyajikan berbagai bukti seni keindahan (al-muhassinât) dalam sya’ir,
diikuti oleh Qudamah bin Ja’far (w. 319 H) dengan kitabnya, Naqd al-Syi’r,
diikuti oleh al-Imam Abu Hilal al-’Askari (w. 395 H) yang telah mengumpulkan
jenis al-badî’, dan lain sebagainya.
Adapun Abdul
Qahir al-Jurjani (w. 471 H), maka ia merupakan peletak fondasi-fondasi bangunan
mapan ilmu-ilmu ini dalam dua kitabnya, Dalâ’il al-I’jâz dan Asrâr al-Balâghah.
v Penamaannya
Dinamakan ilmu al-balâghah, maka terkadang dinamakan pula ’ilmu al-bayân (menamakan
suatu ilmu dari sesuatu yang menjadi bagiannya) adakalanya juga dinamakan ’ilm al-badî’
v Sumber Rujukan Ilmu Balaghah
Sumber rujukan
utama ilmu balaghah adalah ayat al-Qur’an, hadits-hadits nabawiyyah, serta
lisan arab (semisal sya’ir dan natsr arab).
v Hukum Mempelajari Ilmu Balaghah
Hukum
mempelajarinya adalah fardhu kifayah, namun menjadi fardhu ’ain bagi seseorang
yang menjadi seorang mujtahid. Sebagaimana ilmu ini pun menjadi syarat
mufassir, bahkan al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H) menjadikannya pada
3 syarat dari syarat-syarat mufassir dalam Al-Itqân
v Pembahasan-Pembahasan Ilmu Balaghah
Dalam penjabarannya, ilmu balaghah membahas kalimat bahasa arab,
dari segi ma’ani, bayân dan badî’-nya. Ilmu Ma’ani adalah ilmu yang diketahui
dengannya tadi suatu perkataan yang
sesuai dengan keadaan orang yang diajak bicara. Ilmu Bayan adalah ilmu yang
diketahui dengannya bagaimana cara mengungkapkan suatu maksud dengan cara yang beragam dengan
kejelasan uslubnya. Ilmu badi’ adalah mengetahui aspek ilmu seni (baik aspek
kata atau makna) dalam bahasa Alqur’an
dan hadist .
Ø Contoh Ilmu Bayan : Dari Al-‘Irbadh bin Sariyah r.a. ia berkata
Rasulullah Saw bersabda:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ
الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّينَ, عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Hendaklah kalian berdiri di atas sunahku, dan
sunah para khalifah al khalifah al-râsyidîn
al-mahdiyyîn (para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan menunjuki kepada
kebenaran) setelahku, gigitlah oleh kalian hal tersebut dengan geraham yang
kuat,”
(HR. Ibn Majah, at-Tirmidzi, Ahmad)
Kalimat
ilmu bayannya ada pada kalimat عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
(gigitlah oleh kalian hal tersebut dengan geraham yang
kuat). Makna yang dimaksud adalah
berpegang tegunglah kepada sunah tersebut sekuat mungkin. Ungkapan ini termasuk
majaz isti’arah
Ø Contoh Ilmu ma’ani
Dari Tsauban
ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda:
إِنَّمَا أَخَافَ عَلَى أُمَّتَي الأَئِمَّةَ
المُضِلِّيْنَ
“Sesungguhnya yang aku khawatirkan atas umatku adalah para pemimpin yang (sesat) menyesatkan. (HR. At-Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad)
Lafadz إنما dibahas dalam teori ma’ani dalam pembahasan qasr. Fungsinya untuk mengkhususkan, menegaskan, menghilangkan keraguan. Nabi Saw mengungkapkan lafaz innama dan tanpa lafaz innama maka maknanya berbeda. Dengan adanya lafaz innama maka makna yang dimaksud sesungguhnya yang semata-mata aku khawatirkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.
Disampakan oleh
guru kami Ustadz Irfan Abu Naveed,
M.Pd.I (Selasa, 4 Juni 2024) dalam Program Bahasa Arab Ngaji Subuh

Tidak ada komentar:
Posting Komentar