Catatan Pelajaran ke-2
Ilmu Bayan
علمُ البيان :
وهو علمٌ يعرَف به إيراد املعنى الواحد بطرق خمتلفة ٍيف وضوحِ الداللة عليه
“Ilmu al-Bayan: ilmu yang dengannya diketahui makna suatu kalimat dengan beragam cara (uslub), disertai kejelasan maknanya.”
Sungguh para ulama balaghah berdalil dengan
periwayatan tentang yang dikisahkan dari
Abu Abbas al-Mubarrad an Nahwi (ulama ahli nahwu pada masa itu) manakala
beliau meriwayatkan kisah tentang salah
seorang filosof arab yang bernama Al-Kindi. Dia mengatakan sesungguhnya
diriku mendapati di dalam kalam orang arab itu suatu keganjilan. Ada 3 kalimat
yang menurutnya memiliki makna yang sama. Orang Arab mengatakan
1.
عَبْدُ اللهِ قَائِمٌ
2.
إِنَّ عَبْدَ اللهِ قَائِمٌ
3. إِنَّ عَبْدَ اللهِ لَقَائِمٌ
Menurut al-Kindi ketiga makna ini sama. Padahal ada perbedaan pada ke-3 kalimat tersebut, yakni ada lafaz إِنَّdan لَ . Lantas mengapa dibedakan dan apa faidahnya? Maka Abbas al-Mubarrad menjawab makna ketiga kalimat ini berbeda-beda. Ungkapan عَبْدُ اللهِ قَائِمٌ bersifat informasi yang lazimnya disampaikan kepada orang yang belum tahu tentang keadaan Abdullah. Sedangkan kalimat إِنَّ عَبْدَ اللهِ قَائِمٌ adalah jawaban dari pertanyaan seseorang (biasanya jawaban atas pertanyaan dari orang yang ragu). Sedangkan kalimat إِنَّ عَبْدَ اللهِ لَقَائِمٌ terdapat dua penegasan yakni lafaz إِنَّdan لَ adalah jawaban atas orang yang mengingkari.
Contoh hadist Rasulullah Saw :
لَتُفْتَحَنَّ
الْقُسْطَنْطِيْنِيَّةُ، فَلَنِعْمَ الْأَمِيْرُ أَمِيْرُهَا، وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ
ذلِكَ الْجَيشُ
(Demi
Allah) sungguh kota konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan, maka sungguh
sebaik-baiknya pemimpin (di antaranya) adalah pemimpin (yang menaklukannya) dan
sebaik-baik pasukan (di antaranya) adalah pasukannya.
(HR. Al-Bukhari, Al-Hakim, Ahmad dan at-Thabrani)
Hadist ini menggunakan sisipan penegasan
(taukid) di dalam bahasa arab, yakni huruf lam jawab qasm, diikuti nun taukid
tsaqilah. Artinya di dalam hadist ini terdapat dua jenis taukid. Bahwa Nabi Saw
mengabarkan, ketika dikatakan akan ditaklukkan konstantinopel yang disisipi
taukid lebih dari satu. Fungsinya untuk menutup pintu adanya pengingkaran atau
keraguan orang-orang yang ragu dan pengingkaran orang munafik itu sendiri.
Karena berita tentang penaklukan konstantinopel saat itu bisa dikatakan berita yang sangat besar. Sebab Konstantinopel adalah peradaban Romawi yang dibangun sekitar 600 tahun masehi sebelum kenabian Rasulullah Saw. Konstantinopel menjadi pusat perdagangan pada masa itu dan kota metropolitan serta pernigaan besar. Bahkan dikisahkan dalam sejarah, kalau ada ibukota dunia maka itu konstantinopel. Konstantinopel yang dipahami orang-orang Arab sudah dikenal oleh meraka. Maka dengan adanya lafaz penegasan (taukid) untuk menutup pintu pengingkaran, artinya lazimnya orang-orang harus sudah meyakini.
Lain halnya dengan
Rasulullah mengabarkan tentang munculnya era kekhilafahan itu sendiri. Beliau bersabda
: الْخِلَافَةُ فِيْ أُمَّتِيْ ثَلَاثُوْنَ سَنَةً
ثُمَّ مُلْكًا بَعْدَ ذلِكَ
( Kekhilafahan dalam umatku tiga puluh tahun, kemudian setelahnya masa mulk(un)
(HR Ahad
al-Tirmidzi)
Hadist ini sama sekali tidak ada lafaz
taukidnya. Dengan teori ilmu balagah kitab bisa memahami bahwa Nabi Saw, ketika
mengabarkan tentang bab khilafah tanpa taukid, karena lazimnya orang-orang
tidak tahu. Maka diberitahu (dikhabarkan) bahwa di akhir zaman itu akan muncul
era kekhilafahan. Maka tidak layak dan tidak lazim orang-orang hari ini
meragukan apalagi mengingkarinya. Kalau ada orang yang mengingkari bab ini,
mereka harus mengetahui bahwa nabi saw mengabarkan hadist ini tanpa taukid. Seakan-akan
ini adalah perkara yang harus diterima, tidak ada yang meragukan apalagi
mengingkari.
Dengan belajar ilmu
balaghah ini maka kitab bisa mengetahui kalam orang arab, ada yang tanpa penegasan dan ada yang memiliki makna
penegasan, yang memiliki fungsi sesuai dengan keadaan orang yang diajak bicara.
Bagaimana cara memahami ilmu balaghah?
Tidak ada jalan untuk betul-betul menguasai
ilmu balaghah melainkan dengan cara secara konsisten meneliti balagah Alquran
dan hadist- hadist nabawi. Dalam hal ini
khususnya setelah muncul rasa penasaran terhadap ilmu ini, kemudian Allah akan menganugerahkan
kepada orang yang dikehendaki berupa pemahaman. Maka kemudian dia mampu
menggunakan ilmu balaghah pada setiap tempatnya, dan pada setiap pembahasan- pembahasan
keilmuannya, berbicara tentang pujian celaan, kebanggaan, dengan pengayaan. Maka
ini perlu terus dilatih.
Karena ilmu balaghah adalah ilmu alat. Sedang
sajiannya adalah Alquran dan hadist nabi. Dengan ilmu alat ini akan membantu
kita dalam mematangkan pemahaman terhadap Alquran dan Hadist.
Faidah mempelajari ilmu balaghah
- Kedalaman rasa dalam memahami bahasa,
menikmati bahasa, dan memahami bahasa dengan pemahaman bahasa yang mendalam
- Membantu orang-orang non arab untuk
memahami makna yang dimaksud di dalam nash/ teks itu sendiri
- Akan membantu orang yang belajar ilmu ini
di dalam upaya membedakan mana makna kalimat hakiki dan kalimat majaz
- Ilmu balaghah akan menjelaskan tempat-tempat
keindahan dan menyingkap rahasia perkataan itu sendiri
- Memberikan standar kepada pembelajar bahasa
itu mampu mengetahui mana kalimat yang bagus dan tidak, mana air yang asin
dengan air yang tawar, antara makanan yenak dan pahit/masam
- Menyampaikan kepada kita kesenangan bagi
pembelajar ketika mempelajari uslub-uslub ungkapan berbahasa arab terutama dari
Alquran, hadist dan ungkapan orang-orang arab itu sendiri
- Menjadi sarana langsung memahami Alqur’an dan
petunjuk nabi di dalam hadits.
Ilmu shorf : berbicara
tentang perubahan kata demi kata dengan turunannya
Ilmu nahwu : memahami kedudukan
suatu kata dan harokat akhirnya
Ilmu ma’ani : membantu memahami
suatu makna dengan cara yang benar dari benak orang yang berbicara sampai
kepada pemahaman tersebut kepada orang yang mendengar.
Ilmu bayan : menjadikan suatu kalam yang jelas atas makna yang dimaksud (gaya bahasa
Ilmu badi : membantu dalam
menghiasi perkataan baik dengan kiasan
pada lafaz dan makna
Kefasihan ( الفصاحة)
Secara bahasa ( الفصاحة) berbicara tentang kejelasan dan tampaknya sesuatu. Dikatakan seseorang itu fasih, ketika ia mampu menjelaskan maksud dari dirinya dengan kejelasan tanpa ada kelemahan, tampak bertele-tele, termasuk terjadi pemborosan kata. Fasih itu memilih kata demi kata betul-betul jelas, dalam menyampaikan makna yang dimaksud kepada orang yang di ajak bicara.
Dikatakan kalam yang fasih, jika maknanya jelas. Dikatakan lisan yang fasih, ketika ia jelas dalam pelafalannya. Orang yang melafalkan suatu ucapan tersebut ia mengetahui perkataan yang baik dan tidak bagus. Allah swt berfirman :
وَاَخِيْ هٰرُوْنُ هُوَ اَفْصَحُ
مِنِّيْ لِسَانًا فَاَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءًا يُّصَدِّقُنِيْٓ ۖاِنِّيْٓ اَخَافُ
اَنْ يُّكَذِّبُوْنِ
“Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripada aku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sungguh, aku takut mereka akan mendustakanku.”(QS. Al-Qashas ayat 34)
Ketika
dikatakan اَفْصَحُ مِنِّيْ لِسَانًا maknanya adalah أَوْضَحُ مِنِّي كَلَامًا ucapannya lebih jelas dari diriku,
pelafalannya lebih terang .
Dikatakan
seoran anak itu sudah fasih dalam ucapannya, ketika ucapannya jelas ,
pelafalannya bagus. Intinya fasih itu menunjukan kejelasan.
Fasih menurut
para ulama balaghah
Para
ulama balaghah mengatakan yang namanya fasih itu bisa terletak pada suatu kata,
kalimat, maupun penyifatan bagi orang yang berbicara. Dalam hal ini kita
mendapati seorang penuntut ilmu yang masih belia, bahasanya bagus. Kadangkala
kita mendapati seorang penuntut ilmu yang dewasa, tetapi bahasanya lemah.
Sebagaimana adakalanya kita mendapati seseorang cakap / jelas dalam menulis
tetapi tidak fasih dalam ceramahnya.
Contohnya kita bisa melihat kalam
Ibnu Jauzi (seorang ulama yang banyak menulis tentang nasihat-nasihat) dibandingkan
dengan perkataan Ibnu Taimiyah . Kita akan mendapati pada aspek pengaruhnya
(kemampuan berbahasanya). Dan (penulis) tidak bermaksud membandingkan aspek
kekuatan dari makna dan pendalilan dari
dalil-dalil itu sendiri.
Maka ibnu Jauzi sampai-sampai dihadiri oleh puluhan ribu orang
yang menyimak khutbahnya, dan mereka terpengaruh dengan khutbah-khutbah beliau,
berbeda dengan Ibnu Taimiyah tidaklah demikian.
Syarat-syarat suatu kalam dikatakan fasih
Suatu ungkapan dikatakan ungkapan yang fasih jika terbebas dari hal-hal berikut.
1. Al-Gharâbah
(الغرابة)
2. Tanâfur
al-kalimât (الكلمات تنافر)
3. Mukhâlafat
al-Qiyâs al-Nahwî wa al-Sharfî (مُخَالفة القياس النحوي
والصريف )
4. Karâhiyyat al-Sam’i Lahâ (كراهية السمع لها )
Al-Gharâbah (الغرابة) adalah diksi yang
asing, menunjukkan makna yang tidak jelas dan jarang pula digunakan orang- orang
arab fasih dan juga para ahli balagah. Contohnya kata مُسْحَنْفِرَة
semakna dengan مُتَّسِعَة (meluas/melebar),
kata بُعَاق maknanya مَطَر
(hujan), kata اِطْلَخَمَّ bermakna اِشْتَدَّ
,
kata جَرْدَخْل bermakna الوادى (lembah), kata تَكَأْكَأْتُمْ bermakna اِجْتَمعْتُمْ. Maka kata مُسْحَنْفِرَة, بُعَاق, اِطْلَخَمَّ, جَرْدَخْل dan تَكَأْكَأْتُمْ termasuk kata yang bermakna gharabah / tidak fasih. Contoh lain
gharabah adalah جَحْمَرِش bermakna wanita yang sudah lansia
Tanâfur al-kalimât (الكلمات تنافر) yakni tumpang tindih huruf-hurufnya. Adalah
kata yang berat untuk didengar, sulit diucapkan. CContoh مُشْتَشزِيرات bermakna مُرتَفِعَتْ .
dan kata الهُعْخَعُ (nama tumbuhan)
Mukhâlafat al-Qiyâs al-Nahwî wa al-Sharfî (مُخَالفة القياس النحوي والصريف ) adalah suatu kata atau kalimat
bertentangan dengan kaidah nahwu dan shorf
Karâhiyyat al-Sam’i Lahâ (كراهية السمع لها) adalah mengandung kalimat yang tidak enak (tidak disukai) untuk di dengar.
Disampakan oleh guru kami Ustadz
Irfan Abu Naveed, M.Pd.I (Jum’at, 7 Juni 2024) dalam Program Bahasa Arab Ngaji
Subuh

Tidak ada komentar:
Posting Komentar