Catatan Pelajaran ke-7 (Senin, 26 Februari 2024)
Ikhtilaf Fuqaha dalam Sunan Tirmidzi
Kaidah Rawi
-
Bundar ( بندار ) : laqob bagi rawi yang bernama Muhammad bin Basyar
-
Yahya Ibn Sa’id: dalam rawi ada 2 (keduanya
masyhur) yaitu Yahya Ibn Sa’id al-Anshori (T5) dan Yahya Ibn Sa’id al-Qatthan
(T9—pakar Jarh wa ta’dil)
- Salamah ( سلمة ) : semuanya dibaca fathah lamnya سلَمة kecuali 3 orang, yaitu Abdullah bin Salimah ( عبدالله بن سلمة ), Amr bin Salimah ( عمرو بن سلمة ) , dan Banu Salimah (lam nya dikasroh)—nama kabilah
Untuk hadist no.248, Yahya yang dimaksud
adalah dan Yahya Ibn Sa’id al-Qatthan (T9) karena terdekat dengan Imam
Tirmidzi. Abdurrahman bin Mahdi (T9) terkadang di beberapa sanad
dimutlakkan Abdurrahman saja. Jika melihat rawi di atas maka
sanad hadistnya hasan, karena ada 1 rawi yang predikatnya shaduq.
Bab Tentang Mengucapkan Amin
Matan : Wail
bin Hujr berkata: aku mendengar nabi Saw berkata غَيۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا الضَّآلِّيۡنَ. maka beliau mengatakan Aamiin.
Beliau menjahrkan/meninggikan suara
Aamiin.
Berkaitan
dengan bab ini ada mutaba’ah dari ‘Ali dan Abu Hurairah.. Hadist Ali
diriwayatkan oleh Imam Hakim
Hadits Abu Hurairah diriwayatkan oleh Imam Hakim dan Daruqutni. Imam Hakim meriwayatkan dengan sanad yang shahih
Nu’aim al Mujmir berkata aku pernah di belakang, Abu Hurairah membaca بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ kemudian ummu qur’an (al fatihah) hingga sampai وَلَا الضَّآلِّيۡنَ . Beliau berkata Aamiin dan maka makmun berkata Aamiin.
Imam Daruqutni berkata sanad hadistnya hasan
Perlunya mutaba’ah itu kita bisa mendapatkan kelengkapan hadist
Mengenai Hadist Imam Thabrani ini, berkata Isma’il bin
Muslim al Makki beliau dhoif.
Abu
Isa’ berkata hadist Wail bin Hujr adalah hasan dan itulah pendapat dari
sebagian ulama sahabat nabi Saw, tabi’in dan orang-orang setelah mereka.
Pendapat mereka sebagian dari mereka berpendapat, ketika mengucapkan Aamiin
maka di jahr, tidak dilirihkan. Dan ini adalah pendapat Imam Syafi’i, Imam
Ahmad, dan Ishaq.
Riwayat Syu’bah dari Salamah Kuhail, dari Hujr Ibn Anbas,dari Alqamah Ibn Wa’il, dari ayahnya, dari nabi Saw, dalam riwayat ini nabi Saw tidak meninggikan suaranya (merendahkan suara). Kebanyakan yang mengambil pendapat tersebut adalah ahli Kufah, mazhabnya Imam Abu Hanifah.
Saya mendengar
Imam Bukhari berkata hadist riwayat Sufyan dan Syu’bah itu satu tingkat
(sama-sama T7). Hadistnya Sufyan lebih kuat dari pada hadist Syu’bah pada
hadist ini. Syu’bah itu kuat dalam hafalanya seperti gunung, tetapi
kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT . Dibeberapa tempat Syu’bah itu keliru, pertama
Syu’bah berkata dari Hujr Abi Anbas, akan tetapi Hujr Ibn Anbas. Ada tambahan
lagi Alqamah bin Wa’il, dan di dalamnya tidak ada dari Alqamah, langsung ke
Wail bin Hujr.
Sufyan dan
Syu’bah keduanya Tsiqot, Hafidz, dan Dhobit. Kenapa kemungkinan kesalahannya di
nisbatkan kepada Syu’bah? Ada 4 alasan kenapa kesalahan ini dinisbatkan kepada
Syu’bah.
1. Karena Syu’bah, keliru dalam rijal banyak,
sementara Sufyan tidak
2. Kata Ibnu Hajar ketika masuk ke biografi
Syu’bah, beliau ini Tsiqot & Sabt dalam hadist, tetapi kadang-kadang keliru
dalam nama. Imam Daruqutni berkata, Syu’bah itu berkaitan dengan nama sering
salah. Karena Syu’bah sibuk menghafalkan mutun. Syu’bah banyak ragu dalam
sanad, sementara Sufyan tidak.
3. Sufyan lebih dhobit dibandingkan Syu’bah
4. Syu’bah tafarrud dalam periwayatan sanad
hadist ini. Tidak ada yang mutab’ah kepada Syu’bah, mengenai riwayat ini. Baik
Hujr Abu Anbas, Alqamah bin Wa’il, dan Wail bin Hujr tidak ada yang mutaba’ah
pada sanad ini. Sementara Sufyan tidak tafarrud, ada mutaba’ah dari ‘Ala Ibn
Sholih, ‘Ali Ibn Sholih, dan Muhammad Ibn Salamah.
Imam Tirmidzi bertanya kepada Abu Zur’ah, kata Abu Zur’ah : pendapat Sufyan
lebih shahih dari pendapat Syu’bah. Ada riwayat ‘Ala Ibn Sholih yang sama dari
Salamah bin Kuhail. Berdasarkan riwayat Abu Zur’ah, ‘Ala Ibn Sholih adalah
muridnya Salamah bin Kuhail. Sehingga muridnya Salamah bin Kuhail ada 3, yaitu
Syu’bah, Sufyan dan ‘Ala Ibn Sholih. Satu merendahkan suara ketika Amiin, 2
orang meninggikan suara.
Kaidah Rawi
- Anshori: jika dimutlakkan, nisbatnya ada 2.
yaitu 1).gurunya Imam Tirmidzi – Ishaq bin Musa
(Dalam Sunan Tirmidzi) dan 2). Gurunya Imam Bukhari – Muhammad bin Abdillah bin
Mutsanna (Dalam Shahih Bukhari)
- Ma’an : Dalam sunan Tirmidzi ada 1 orang,
yaitu Ma’an bin ‘Isa. (Namun, kebanyakan di Kutubu Sittah Ma’an jg hanya 1)
Aisyah ra berkata, ketika nabi sholat subuh maka wanita dulu yang keluar.
Anshory berkata maka wanit-wanita tersebut lewat dengan menutupi wajah nereka
dengan kain yang mereka pakai. Tidak diketahui mereka itu karena masih gelap.
Yang ingin dibahas disini adalah tentang sholat subuh dalam waktu masih gelap
(sholat diawal waktu). Hadist ini mutaba’ahnya dengan Ibn Umar, Anas bin Malik
dan Qailah binti Mahrumah. Hadist Aisyah ini adalah Hadist Hasan Shohih. Telah
meriwayatkan Imam Zuhri dari Urwah dari ‘Aisyah ra, menyebutkan hadist yang
semisal tadi. Dan itulah yang dipilih oleh selain dari satu orang dari ulama,
dari sahabat nabi Saw diantaranya Abu Bakar, Umar dan Ulama-ulama setelah
sahabat dari kalangan tabi’in (sholat diwaktu gelap). Dan inilah pendapat Imam
Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq : memustahabkan sholat fajar ketika gholas (diawal
waktu). Demikian juga pendapat Imam Malik.
Ibnu Qudamah berkata, sholat subuh itu tadlis, lebih afdol. Sehingga 3
mazhab berpendapat mustahab sholat fajr di awal waktu, yaitu Imam Syafi’i, Imam
Malik, dan Hambali. Ibnu Abdil Bar menambahkan nama Utsman, mereka 3 sahabat
ini (Abu Bakar, Umar, dan Utsman) sholat di waktu gholas. Mustahil 3 sahabat
ini meniggalkan yang paling afdol. Dalil keutamaan tadlis, Nabi Saw tidak
mungkin melakukan amalan yang tidak afdol. Imam Hazim berkata dalam kitabnya al
I’tibar, tadlisnya nabi Saw jelas seperti hadist tadi, semua perawinya tsiqot.
Ishfar (ketika ada cahaya)—Ishfar bil fajr
(Sholat Subuh ketika ada cahaya)
Hadist dari
Rofi’ bin Khadij—sholat fajarlah diwaktu ishfar karena pahalanya besar.
Komentar Imam Tirmidzi hadist ini hasan shahih. Sebagian sahabat nabi Saw dan
juga tabi’in adalah ishfar ketika sholat subuh. Dan ini pendapatnya Sufyan
as-Tsaury (ahli kufah). Ini pendapatnya hanafiyah (Mazhab Abu Hanifah)
Imam Syafi’i,
Ahmad, dan Ishaq berkata, makna ishfar disini sudah jelas masuk waktu subuh
(fajar shodiq), tidak diragukan lagi. Sholat yang paling afdol adalah tadlis
dan itu adalah ishfar (jelas waktu fajar masuk & tidak ada keraguan).
Ishfar yang dimaksud bukan berati langit sudah memancarkan cahaya (matahari mau
muncul). Bukan berarti ishfar itu mengakhirkan sholat. Bagaimana dengan mazhab
Hanafi? Mereka menta’khirkan sholat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar