Senin, 01 April 2024

Mengenal Kitab Sunan at-Tirmidzi



Pertemuan 1 (Senin, 15 Januari 2024)

Mengenal Kitab Sunan at-Tirmidzi

Nama beliau أَبُوْ عِيْسَى, مُحَمَّد بْن سَوْرَة التِّرْمِذِي  . Abu ‘Isa adalah nama kunyah beliau. Kunyah adalah nama kehormatan yang menjadi urf bangsa arab, yang biasanya menggunakan awal  أَبٌ atau أَمٌّ .  Beliau memiliki putra yang bernama ‘Isa, terkadang kunyah tidak harus nama anak, terkadang juga bisa dengan bentuk penghormatan yang lain. Seperti nama Sayyidina Abu Bakar, Abu Bakar adalah nama kunyah. Namun, tidak ada nama anak beliau yang bernama Abu Bakar. Bakar sendiri dinisbatkan kepada anak beliau Ibunda Aisyah, karena sebagai perawat.  Nama asli beliau adalah Abdullah bin Abu Kuhafah. Nama asli Imam Tirmidzi adalah Muhammad bin Isa bin Saurah as Sulami at Tirmidzi. Muhammad adalah nama beliau, sedang ‘Isa adalah nama bapak beliau, dan Saurah adalah kakek beliau. As-Sulami nisbat kepada qabilah Arab, yakni dari qabilah Sulam. At Tirmidzi adalah sebuah kota di Khurasan, namanya Tirmidz (Cara bacanya menurut Imam Nawawi ada 3, yakni Tirmidz/ Turmudz/ Turmidz, namun yang masyhur adalah at- Tirmidzi.

 

Lahir pada tahun 210 H dan wafat di Turmudz pada tahun 279 H.  Beliau termasuk ulama di Thabaqat ke-12, generasi setelah tabi’ut tabi’in. Imam Tirmidzi melakukan rihlah ke berbagai negeri untuk mencari hadist. Para ulama hadist di era salaf adalah orang-orang yang melakukan rihlah, untuk mendapatkan hadist. Secara umum, untuk mendapatkan hadist para ulama melakukan rihlah ilmiah. Kecuali, ulama-ulama yang ada di Haramain. Kadang-kadang tidak perlu melakukan rihlah, karena para ulama ada disini. Imam Malik menyatakan bahwa beliau tidak pernah keluar dari Madinah kecuali hanya  untuk ibadah haji dan Umroh. Pengecualian untuk ulama yang tidak memiliki gelar Rahl  adalah Imam Malik.  Rihlah Imam Tirmidzi yang masyhur adalah Khurasan, Bukhoro, Marwa, Rayy, Samarqand, Masaf, Iraq, Bashrah, Wasith, Kufah, Haramain.

 

Adapun guru-guru beliau yang paling masyhur adalah Muhammad bin Isma’il al Bukhori (Wafat 256H), ‘Abdullah bin Mu’awiyah al-Jumahi (Wafat 243) guru beliau di Bashroh, Qutaibah bin Sa’id (Wafat 240H).

 

Murid-murid beliau yang paling masyhur adalah Muhammad bin Ahmad bin Mahbub al-Marwazi (Rawi kitab Sunan at-Tirmidzi yang paling masyhur), Al-Haitsam bin Kulaib asy-Syasyi (Rawi kitab Syamail al-Muhammadiyah), dan Hammad bin Syakir an-Nasafi.

 

Perbedaan rawi  hadist & rawi kitab, rawi hadist berkaitan dengan sanad sedangkan rawi kitab itu adalah bagaimana shahih al-Bukhari itu bisa dicetak hingga hari ini. Periwayatan itu tidak hanya berlaku ketika seorang Imam menulis kitab, kemudian meriwayatkan dari guru-gurunya berdasarkan hafalan dan catatan mereka.

 

Kitab yang sampai kepada kita hari ini, telah melewati waktu yang sangat panjang. Sehingga perlu dipastikan bahwa kitab yang telah sampai kepada kita, tidak mengalami perubahan dari kitab yang ditulis langsung oleh penulis. Sehingga kitab yang ada perlu diteliti apakah naskah/manuskrip yang sampai kepada kita adalah manuskrip yang terjaga atau banyak kesalahan. Adakalanya kitab-kitab yang sampai kepada kita bukan tulisan para imam, tetapi sudah hasil salinan murid-muridnya. Sehingga, kitab yang sampai kepada kita berdasarkan periwayatab murid-muridnya.    

 

Kitab Syamail al-Muhammadiyah menurut Syaikh Abdullah bin Ubaid adalah salah satu kitab yang bersambung sanadnya, dibaca dari awal hingga akhir dan tidak pernah lekang dari pembacaannya di setiap zaman.

 

Nama Ilmiyah dari Sunan at-Tirmidzi adalah:

الجَامِع المُخْتَصَر من السُنَنِ عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ومَعْرِفَةُ الصَّحِيْحِ والمَعْلُوْلِ وَمَا عَلَيْه العَمَل

Juga dikenal dengan nama as-Sunan, al-Jami’ al Kabir , dan Shahih at-Tirmidzi

 

Berkaitan penamaan Shahih at-Tirmidzi, para ulama mengkritik. Karena beliau tidak mengkhususkan dengan penamaan shahih. Berbeda dengan Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ibnu Khuzaimah, Imam Ibnu Hibban yang memang ketika menuliskan hadist tersebut, dalam rangka mengumpulkan hadist-hadist shahih. Sebab, Imam Tirmidzi tidak hanya bermaksud menuliskan yang shahih saja,

  

Maksud penamaan الجَامِع, beliau menuliskan kitab ini dengan menghimpun berbagai macam bab keilmuan dimasukkan ke dalam kitab. Beliau mengumpulkan hadist-hadist  berbagai keilmuan tentang islam di dalamnya. Berbeda dengan as-sunan yang berfokus pada hadist- hadist  hukum. Sedangkan المُخْتَصَر, bermakna ringkas. Makna  من السُنَنِ  menunjukkan isinya  kental dengan hukum- hukum. Kalimat  عن رسول الله صلى الله عليه وسلم menunjukkan bahwa hadist- hadist yang beliau bawa adalah hadist- hadist marfu’ yang bersandar kepada Rasulullah. Kalimat  ومَعْرِفَةُ الصَّحِيْحِ, menunjukkan bahwa Tirmidzi menyebutkan mana yang sahih dan tidak. Kata  والمَعْلُوْلِ , menjelaskan cacatnya pada hadist, untuk menjaga keutuhan informasi (menjaga dari distorsi informasi pada sanad maupun matan). Makna  وَمَا عَلَيْه العَمَل adalah ini bisa diamalkan.

 

Maksud dari Sunan at-Tirmidzi adalah mengeluarkan hadits-hadits yang berkaitan dengan hukum, Menjelaskan ilal hadits yang berkaitan dengan hukum, dan enjelaskan tentang hukum yang diamalkan oleh para ulama.

 

Manhaj secara global ilmu hadist Sunan at Tirmidzi

-       Tashnif : memulai pembahasan dengan fiqh, aqidah, dst.

-       Tashih : menjelaskan hadist tersebut shahih atau tidak.

-       Memberi nama dan kunyah rawi.

-       Menjelaskan ikhtilaf ulama dalam mengambil atau meninggalkan hadist tersebut.

-       Menjelaskan mana yg diamalkan dan yang ditinggalkan.

-       Memperbanyak jalan

-    Menjelaskan Jarh wa Ta’dil. (Jarh = kritikan negatif kepada seorang rawi, Ta’dil = penilaian positif terhadap rawi)


Contoh memperbanyak jalan



Contoh Tashih-Tahsin


Contoh Jarh 


Contoh Memberi nama dan kunyah rawi

Contoh Menjelaskan hadits yang diamalkan oleh ulama





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan Pelajaran Kritik Matan Hadist

"Kritik Matan Menurut Ahli Hadis: Studi Teoretis dan Praktis" Penulis : Ibrahim bin Muhammad al-Sa'wi Pendahuluan            ...